Surat Kaleng Itu Menyebutkan Ridwan Sebagai “Tukang Palak”

12

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Surat kaleng berperangko dan dikirimkan via Pos yang diterima Isola Pos kemarin, juga beredar di kalangan beberapa dosen. Salah satunya dosen di Pascasrjana UPI, Aziz Mahfudin. “Saya dapat dari teman, tadi waktu di gedung Pascasarjana,” kata Aziz Mahfudin, Kamis (04/03).

Surat kaleng tiga lembar dan satu lampiran salinan berita percobaan pembunuhan Kepala Poliklinik UPI dari harian Pikiran Rakyat itu sebagai bentuk kekhawatiran civitas akademika UPI. Namun, surat atau selebaran itu menuntut pimpinan UPI untuk bertanggung jawab terhadap peristiwa yang menimpa Ambar pada 25 Februari 2010.

Selain itu, disebutkan juga pimpinan UPI telah memilih para pejabat yang tidak kompeten. Pejabat yang disebutkan dalam selebaran kaleng itu adalah Direktur Direktorat Kerja Sama dan Pengembangan Usaha (DKPU), Ridwan Elhariri dan Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan, Cecep Darmawan.

Ridwan dan Cecep disebut sebagai “preman politik kampus” dan “tukang palak”. Dalam surat itu diberikan contoh apa yang telah dilakukan Ridwan. Misalkan Ridwan disebut suka menarik “upeti” dari dosen-dosen yang memperoleh proyek penelitian. Namun Cecep tidak banyak disinggung dalam surat kaleng itu.

Ridwan dan Cecep disebut dalam surat kaleng itu, orang yang suka memfitnah bahkan “main kayu” jika ada pihak yang tidak disukainnya.

Surat kaleng itu mengaitkan peristiwa yang telah dialami Kepala Poliklinik UPI itu. Ambar disebut sebagai dosen pemberani menolak untuk membayar “upeti” kepada Ridwan. Saat isolapos.com hubungi Ambar, dia menjelaskan bahwa, Ridwan tidak pernah meminta “upeti” kepada Poliklinik. “Wah, jangan kaitkan percobaan pembunuhan itu dengan pak Ridwan atau pak Cecep, kami baik-baik saja hubungannya,” ujar Ambar.

Memang selama ini, keuntungan Poliklinik tidak langsung disetor kepada DKPU walaupun dalam surat keputusannya Poliklinik UPI bertanggung jawab kepada rektorat melalui DKPU. “Tapi keuntungan itu tidak seberapa, paling belasan juta, kecil sekali kan,” ujar Ambar. “Saya tidak mau masalah saya sampai merembet ke sana, yang penting temukan dulu pelakunya,” sambungnya.

Isolapos.com tidak dapat menghubungi Ridwan secara langsung. Ridwan hanya mengirimkan pesan pendek via telepon genggam. Isinya “Saya kira gak perlu kita tanggapi surat kaleng seperti itu karena itu semua tidak benar dan tendesius. Itu fitnah, saya akan tanggapi kalau itu surat formal, kalau ketahuan orang yang membuat surat tersebut akan saya laporkan ke polisi karena terjadi pencemaran nama baik”.

Cecep yang disebut namanya dalam surat kaleng itu tidak mau menanggapi banyak. “Saya sudah biasa difitnah kayak gitu, pembuat surat itu hanya memanfaatkan momen pemilihan rektor,” kata Cecep. Bahkan kata Cecep, saat pemilihan rektor dulu, bahasa yang digunakan lebih kasar lagi. “Ini mah masih sopan, dulu saya pernah disebut babi dan celeng,” tambahnya.

Menurut Cecep, jika dia tidak setuju dengan program yang dicanangkan Ambar, tidak ada keuntungan yang didapat. “Saya sangat setuju dengan program bu Ambar, ini tanda tangan saya mengenai program bu Ambar,” kata Cecep sambil memperlihatkan surat mengenai program yang dibuat Ambar.

Ambar juga mengakui, dirinya tidak pernah terjadi perbedaan pendapat mengenai program itu. “Tapi respon pak Cecep waktu ngobrol kurang saya pahami,” aku Ambar.

Ambar juga menjelaskan, tidak terjadi perbedaan pandangan dengan Ridwan mengenai program itu. “Cuma pak Ridwan responnya dingin waktu saya ngobrol dengannya,” cerita Ambar. “Tapi tidak sampai diperdebatkan,” sambungnya.

Dalam surat kaleng itu ditulis, ditujukan kepada Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional RI.

Jabatan Ambar di UPI

Saat ditanya mengenai dirinya dipilih rektor sebagai Kepala Poliklinik UPI pada Oktober 2008, Ambar mengakui memang ada lawan politiknya yang ambisius menginginkan jabatan kepala Poliklinik. “Tapi jabatan seperti itu biasa saja, gak ada lebihnya, paling isntimewanya cuma di nama Kepala Poliklinik saja,” kata Ambar.

Ambar masuk ke UPI sebagai dosen di Fakultas Pendidilkan Olah Raga dan Kesehatan pada 2005. “Saya memang baru di UPI, tiga tahun di UPI sudah diangkat menjadi Poliklinik UPI,” ujarnya.

Menurut Andika Duta Bahari yang bertugas di Humas UPI mengatakan, menjadi Poliklinik UPI itu tidak ada istimewanya. Andika mengakui kelebihan yang dimiliki Ambar. “Sejak bu Ambar memegang Poliklinik, cepat berkembang, sebelumnya Poliklinik tidak terasa keberadaannya,” kata Andika. [Siti/Nurjaman/Rudini]

Comments

comments