Kurikulum 2013 Menuai Protes

58
Beberapa dosen dan Guru Besar dari berbagai universitas saat menghadiri acara diskusi terbuka mengenai Kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah, Rabu (13/3).

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Rancangan Kurikulum 2013 yang akan diberlakukan Juli mendatang masih mendapat protes. Berbagai persoalan seperti proses perencanaan kurikulum hingga tujuan kurikulum masih dipertanyakan oleh pakar pendidikan Indonesia.

Menurut Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), H.A.R Tilaar, penyusunan kurikulum di Indonesia terlalu cepat, yakni kurang dari enam bulan. “Kita coba lihat Finlandia, mereka memulai perubahan pendidikan sejak 40 tahun yang lalu dimulai dari LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan),” katanya saat memaparkan materi dalam diskusi terbuka terkait kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (13/3).

Tilaar mengatakan, konsep kurikulum 2013 memiliki kesamaan dengan kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Namun, sebelum kurikulum CBSA berkembang, kurikulum itu  diganti dengan kurikulum baru tanpa evaluasi. “Pengalaman buruk ini mengajarkan kita bahwa perubahan kurikulum nasional memerlukan jangka waktu yang cukup,” paparnya. Padahal, menurutnya kurikulum CBSA masih relevan sampai saat ini.

Selain itu, Tilaar menambahkan bahwa tim penyusun Kurikulum 2013 tidak melihat kondisi lapangan Indonesia yang tersebar di 17000 pulau dengan kualitas guru yang masih rendah. “Kurikulum 2013 optimis gagal!” tegasnya.

Masalah lain yang ada dalam perumusan Kurikulum 2013, menurut salah seorang peserta diskusi, Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI), Ifa menduga kurikulum 2013 memiliki project miliaran rupiah, sehingga pemerintah mendesak untuk merubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) komisi X, Romani membenarkan pernyataan Ifa. Ia mengatakan pengajuan awal untuk mendanai Kurikulum 2013 sebesar 684 miliar.

Hal itu pun diungkapkan oleh Bambang Wisudo Pendiri Sekolah Tanpa Batas yang mengatakan bahwa belakangan ini terdengar kabar, dana untuk pelaksanaan kurikulum 2013 membengkak. “Penerapan ini menghabiskan dana hingga 2,5 triliun rupiah,” Ucap Bambang, saat menghadiri diskusi di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rabu (13/3).

Tilaar memaparkan, jika Kurikulum 2013 tetap dilaksanakan, rencana tersebut akan mengambil dana dari program-program prioritas lainnya yang telah disepakati dalam pembangunan nasional 2009-2014. “Kurikulum 2013 tidak secuil pun dikemukakan dalam RENSTRA DIKNAS (Rencana Strategi Pedidikan Nasional) 2009-2014,” paparnya. [Fachmi Maulana]

Comments

comments