Mimbar Terbuka Pergerakan Mahasiswa

205
dua orang mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sedang melakukan teatrikal saat mimbar terbuka yang diadakan Aliansi Mahasiswa UPI, Selasa (21/1), di depan area parkir motor gate 2.

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

“Kita bertanya kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga,” teriak Ketua Arena Studi Apresiasi Sastra, Muhammad Hilman. Penggalan puisi Rendra, ia bacakan saat Aliansi Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (AMUPI) menggelar Mimbar Terbuka, Selasa (21/01) di depan area parkir motor gate 2.

Koordinator Lapangan mimbar Terbuka, Kelvin Prabowo mengatakan bahwa hari ini AMUPI berinisiatif untuk membuka suatu ruang di mana seluruh mahasiswa bisa mengeluarkan semua unek-uneknya, mengeluarkan segala kekecewaan terhadap permasalahan di UPI.”Selanjutnya, kita melakukan pergerakan yang lebih riil lagi menanggapi penangguhan,” ujar Kelvin kepada isolapos.com.

Menurut pihaknya, ada dua hal yang menjadi tujuan aksi tersebut. Pertama, AMUPI ingin mematahkan wacana yang beredar bahwa gerakan mahasiswa UPI telah mati. Kedua, AMUPI ingin memberikan tekanan terhadap birokrat kampus. “Jadi nggak bisa seenaknya,” tegasnya.

Tidak hanya mahasiswa UPI yang bergabung dalam aksi tersebut. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia, M. Chandra Irfan, ikut menyumbang aspirasinya melalui puisi. Sebelum membacakan puisi, Irfan melakukan teatrikal dengan meminum air seninya sendiri. “Kalau yang saya lakukan memang pada dasarnya, bisa jadi tindakan itu ekstrim di kalangan teman-teman,” ucapnya.

Irfan menjelaskan, aksi tersebut memiliki arti bahwa sebelum menyalahkan orang lain, seseorang harus menyelesaikan persoalan pribadinya. “Kalau persoalan pribadi belum beres maka kita yang salah menyalahkan yang salah. Tidak yang benar menyalahkan yang salah,” jelasnya. [Fachmi Maulana]

Comments

comments