Sertifikat Moka-Ku Jadikan Strategi Menggaet Partisipan Pemilu Rema UPI

110
ilustrasi

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Dari tahun ke tahun, Komisi Pemilihan Umum Republik Mahasiswa (KPU Rema) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) gunakan strategi sertifikat Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (Moka-Ku) UPI untuk meningkatkan partisipasi Pemilu Rema UPI. Pihak KPU bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengadakan pembagian sertifikat Moka-Ku di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Menanggapi hal itu, anggota KPU UPI, Rizka Rudiansyah, menjelaskan bahwa sebenarnya walaupun mahasiswa tidak memilih, dalam arti mereka sakit atau seperti apa yang menyebabkan mereka tidak bisa memilih, sertifikat itu masih bisa diambil. “Pembagiannya di sini, tapi tidak mengikat,” ucapnya ketika ditemui isolapos.com di Gedung Winda-Geugeut, Jumat (7/02).

Namun, Rizka mengakui masih meniru cara  lama, agar targetan KPU tercapai. “Kan lumayan ya kalo misalnya angkatan 2013 itu menggunakan hak suaranya dengan pengambilan sertifikat Moka-Ku nya di situ (TPS-red). Jadi suara angkatan 2013 itu ya cukup lumayan banyak,” kata Rizka.

Melihat pembagian sertifikat yang diberikan bersamaan dengan pemilihan Capres dan Cawapres UPI,  mantan Ketua Hima Satrasia tahun 2012, Zulfa Nasrulloh mengungkapkan bahwa hal itu merupakan langkah yang tidak tepat. “Cara seperti itu menunjukan BEM Rema telah menyadari dia tidak lagi menjadi sesuatu untuk mahasiswa UPI. Kebijakan ini buruk, pertama memaksakan demokrasi, padahal demokrasi itu kesadaran,” kata Zulfa.

Senada dengan Zulfa, Ketua Hima Pensatrada, Rizky Ashari mengutarakan, tidak setuju dengan kebijakan KPU tersebut.  “Nggak setuju sih jadi memaksa, hak pilih kita seperti dibeli. Ya kalo harus memilih hanya untuk sertifikat Moka saya lebih memilih untuk tidak memilih. Tapi karena dulu masih mahasiswa baru, katanya sertifikat Moka sebagai persyaratan untuk sidang,” ungkap Rizky. [Intan A. Ekawati]

Comments

comments