Percakapan di Beranda Angin

136
ARI KPIN melantunkan puisi berjudul “Trilili” karyanya sendiri dalam Konser Musikalisasi Puisi ARI KPIN 2014 di Auditorium FPMIPA UPI, Senin (1/12).

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Suara riuh ratusan penonton di Auditorium Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) perlahan mereda ketika dua pria dan dua wanita melangkah ke tengah panggung. Mereka segera mengambil posisi di belakang alat musiknya masing-masing seperti cajon, bas, gitar dan pianika.

Pria terakhir menyusul dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia lantas berdiri paling tengah di antara yang lain. Ia tampil berkaca mata hitam, kemeja putih berbalut rompi coklat dan celana jeans hitam. Sambil menyelendangkan gitar ke pundaknya, vokalis itu lalu berkata, “Assalamualaikum, apa kabarnya?”.

Konser itu dibuka dengan petikan gitar sang vokalis. Disusul dengan gemericik markis dan betotan bas personel yang lain. Tak tertinggal bunyi cajon yang ditepuk-tepuk seorang personel lagi dan petikan dari gitaris lain. Bunyi-bunyi itu tercipta seirama, seolah dikomando petikan gitar vokalis tadi. Lima menit kemudian, satu lagu pembuka berakhir tanpa lirik. Tepuk tangan ratusan penonton pun menggema di auditorium itu.

Mereka adalah ARI KPIN. Sebuah grup yang digagas dan diambil dari nama sang vokalis, Ari Kpin. Ada yang lain pada Konser Musikalisasi Puisi Ari Kpin 2014 itu. Ari memboyong empat personel untuk menemaninya manggung kali ini. Beberapa personel diantaranya berbeda dari konser sebelumnya. Seorang yang memetik gitar ialah Widya N. Rahma dan Markis yang dimainkan Santy Rachmawati. Sementara dua lainnya, Egi Rachmadi membetot bas dan Dery Saiful Hamzah memukul cajon akustik, pernah menemani Ari tahun lalu.

Konser yang digelar setahun sekali ini menjawab kerinduan para penikmat musikalisasi puisi Ari Kpin, terkhusus bagi sivitas akademika UPI. Tak seperti konser-konser Ari Kpin sebelumnya, yang memusikalisasikan puisi-puisi karya penyair Indonesia seperti Rendra dan sebagainya, kali ini semua puisi yang ditampilkan adalah karya Ari sendiri.

Masuk pada musikalisasi pertama, perlahan iringan musik balada dimainkan. Kali ini lebih energik dibandingkan lagu pembuka tadi. Syair puisi berjudul Trilili karyanya sendiri dilantunkan Ari. Pada bait terakhir, ia mengajak penonton untuk ikut bernyanyi. “Ayo semuanya ikuti, Trili lili trilili lili lili,” teriaknya.

Irama musik yang menyatu dengan bait-bait puisi karya Ari Kpin sukses mengaduk-ngaduk mood para penonton yang hadir. Ari mampu membawa para penonton pada suasana senang, kagum, gugah bahkan hingga haru. Misalnya saja ketika puisinya yang berjudul Tunggu dibacakan oleh Anisa Mayang Sunda.

tunggu aku, ibu
sebentar lagi pengelanaanku berujung
dan kita yang lama disekat antara
akan bersua di jam tanpa detak

Lantunan denting piano yang dimainkan Ari mengiringi suara keras Anisa ketika puisi tentang seorang anak pada ibunya itu dibacakan. Disusul suara Ari yang mendayu-dayu seraya menyanyikan makna puisi itu. “Memang sosok seorang ibu membuat saya menjadi  cengeng,” tutur Ari usai melantunkan puisinya yang dibuat tahun 2011 lalu.

Selain puisi Trilili dan Tunggu, ada 14 puisi lainnya yang dilantunkan Ari dan kawan-kawan pada konser yang bertemakan “Percakapan di Beranda Angin” itu. Misalnya saja seperti, Jah, Sisi Gelap, Mencarimu, Percakapan di Beranda Angin dan sebagainya. Puisi-puisi itu juga dideklarasikan oleh Sobar Larajingga dan Kartini F. Astuti. Tak mau ketinggalan, enam siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Cipta Skill Bandung turut menyumbangkan musikalisasi puisi Ari Kpin yang berjudul Mengenangmu.

Konser itu ditutup dengan puisi karya Nenden Lilis A berjudul Aku ingin Melukismu. Selama dua jam lebih, penonton disuguhi penampilan apik dari Ari Kpin dan kawan-kawan tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ari dan para penggiat Sanggar Ari Kpin memang membuat konser gratis di Kampus Bumi Siliwangi satu kali setiap tahun. Ini merupakan konser ke 20 yang dibiayai dan diselenggarakan sendiri oleh Sanggar Ari Kpin. “Ya konser ini zakatnya kita,” ujar Ari sembari tersenyum.

Ari menambahkan, ini akan menjadi agenda rutin setiap tahun sebagai bentuk syukurnya pada Tuhan. “Insya Allah, kata orang sunda mah Gusti Allah mah moal deleka,” tutur pria yang bernama lengkap Yari Jomantara itu.

***

Konser ini lain dari konser-konser Ari Kpin sebelumnya. Ini kali pertama puisi-puisi yang dimusikalisasikan adalah karya penggagas Sanggar Ari Kpin itu. Menurut ketua pelaksana acara Nenden Lilis A, puisi-puisi Ari sebagian besar dimusikalisasikan oleh para penggiat Sanggar Ari Kpin. “Mereka yang memang bergiat di Sanggar Ari Kpin membuat musikalisasi puisinya tapi dinyanyikan oleh Pak Ari,” tutur Nenden yang juga merupakan istri dari Ari Kpin.

Tak pernah terpikir sebelumnya dibenak pria kelahiran Garut itu untuk membuat musikalisasi puisi dari karyanya sendiri. “Saya punya semacam niatan bahwa saya hanya membuat musikalisasi puisi dari puisi orang lain,” tuturnya. Kepada isolapos.com, ia bercerita bahwa dua tahun ke belakang, anak-anak Sanggar Ari Kpin membuat musikalisasi puisi dari puisi-puisi ciptaan Ari Kpin. Rata-rata satu orang membuat dua sampai tiga musikalisasi puisi karya Ari Kpin. Sebagian dari karya mereka dinyanyikan dan dipentaskan Ari pada konser itu. Salah satunya puisi Tunggu yang dilanggamkan oleh Firman.

Selain itu, menurut Ari, ada lima karyanya yang dimusikalisasikan oleh enam siswa SMK Cipta Skill Bandung. Ananda, Nanda, Miftahul, Asti, Ikhsan dan Rizal telah mengaransemen beberapa puisinya. Mendengar hal tersebut, Ari mengaku terharu dan mengundang mereka untuk turut tampil dalam Konser Ari Kpin di UPI. “Ini sebagai penghargaan kepada mereka,” tutur Ari. [Melly A Puspita]

Comments

comments