Pembidik

209
ilustrasi (bisnis.com)
ilustrasi (bisnis.com)

Oleh Uxas Try Iriana*

Aku hirup debu-debu kecil yang berterbangan masuk ke dalam tempat persembunyianku. Dikelilingi gedung-gedung tinggi yang kini sudah menjadi bangkai karena serangan udara. Aku tidak berasal dari kota ini, aku hanya seorang prajurit dari divisi penembak jitu yang ditugaskan di barisan paling depan dari pertahanan musuh.

Ada delapan orang penembak jitu yang ditugaskan untuk menjalani misi ini. Empat dari mereka sudah menjadi mayat dengan posisi bersiap untuk membidik, sedangkan dua orang lagi mati karena senjata mesin anti kapal udara. Aku mengambil setiap kalung pengenal dari mayat yang kutemukan. Mereka adalah orang-orang yang baru aku kenal sebelum terjun dari pesawat pasukan terjun payung. Kami berkenalan satu sama lain di dalam kapal, hingga sang pilot mengumumkan bahwa pesawat sudah berada di daerah musuh. Kami yang sudah terlatih, bersiap-siap untuk lompat dari kapal.

Melihat pintu belakang kapal yang sudah membuka, membuat semua menjadi tegang ditambah lagi peluru senjata mesin yang sudah mulai megenai badan kapal. Satu persatu dari kami mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa kembali. Aku terhempas keluar dari kapal udara dengan keadaan tidak siap karena bagian tengah kapal yang tiba-tiba saja meledak. Aku panik mencari tali untuk mengeluarkan parasut. Dalam kepanikanku, tidak sengaja aku melihat beberapa prajurit yang mati di udara.

Bangunan-bangunan yang terlihat kecil lambat laun terlihat membesar. Sambaran-sambaran peluru di malam hari dan api yang keluar dari senjata mesin anti kapal udara terlihat jelas. Akhirnya aku menemukan tali pembuka parasut dan mulai menariknya. Dalam jiwa, aku berdoa agar aku dapat berjuang untuk negaraku. Pada akhirnya aku mendarat di sebuah gedung yang kini menjadi tempat persembunyianku.

Aku sudah tidak tau dengan pasti, sudah berapa lama kejadian itu terjadi dan sudah berapa lama aku terjebak dalam kota mati ini. Aku hanya mengingat bahwa aku sudah membunuh empat jendral, sepuluh penembak jitu, dan 100 prajurit biasa. Semua korbanku, aku ukir dalam tembok tempat persembunyianku. Semua yang aku butuhkan disediakan oleh para prajurit musuh. Aku hanya perlu menembak setiap prajurit yang baru datang dengan mobil truk pasukan lalu mengambil perbekalan mereka. Pertempuran satu lawan satu antara penembak jitu sangatlah tidak bisa dihelakan.

Dalam pertempuran itu, kami sering saling menatap dengan satu mata yang membatasi pendangan dan menuntut untuk fokus. Saat mata kami saling bertemu, hanya dalam hitungan detik, mata kami bisa saja tidak dapat melihat lagi. Semua tergantung jari yang bermain dengan pelatuk senapan. Suara mesin-mesin tempur baik dari sekutu atau musuh membisingkan telinga setiap prajurit yang berada di kota mati. Tetapi di sanalah aku menyemarkan suara tembakan senapanku ini. Gedung-gedung dekat persembunyianku sudah menjadi sahabat untukku, bersembunyi di kala musuh sudah mulai mencurigai tempat aku biasa bermalam.

Saat malam tiba, aku tidak pernah mendengar suara binatang-binatang malam yang menemaniku. Semua yang terdengar dari kupingku hanya mesin-mesin tempur, truk, peluru yang berjatuhan, dan pintu masuk yang menuju gedung tempat aku bersembunyi. Mata ini tidak akan berjaga malam ini karena aku mulai kelelahan untuk menjadi sebuah benda mati yang dapat mencabut nyawa seseorang.

Dalam lamunanku dibalik dinding gedung, aku berpikir bahwa “makhluk macam apa aku ini? Aku membunuh sesama manusia yang jelas-jelas tidak ada perbedaan antara kami”. Dia memiliki telinga, kuping, mulut, hidung, dan anggota tubuh yang lain sama sepertiku. Tetapi jika aku tidak membunuh maka mereka yang akan membunuhku. Aku kembali memuaskan perut ini dengan perbekalan yang baru saja aku ambil dari para mayat yang telah aku bunuh hari ini. Jiwa ini bergetar saat memakan daging merah dalam kaleng. “Aku ini mencuri, tuhan tolong aku, jauhkan aku dari kesesatan ini” teriakku dalam jiwa meminta ampun saat memakannya.

Terkadang pula aku membayangkan diriku memakan daging merah yang berasal dari daging mayat yang aku telah bunuh di medan peperangan. “Aku tidak boleh muntah, aku tidak boleh muntah,” tahanku saat memakan daging merah dari kaleng. Aku kembali menghirup udara yang tidak segar dan mencoba menghabiskan makan malamku. Saat perut ini menjadi hangat, tetapi organ tubuh lain ku menjadi dingin. Aku mencoba menutupi dingin ini dengan merokok dan membuat api kecil yang tidak terlihat dari luar gedung. Kembali aku kedalam dunia imajinasi dan membayangkan diriku menemani istriku yang sudah lama aku tinggalkan. Aku melakukan suatu hal untuk menggantikan nafsuku hingga aku tertidur.

Suara tank membangunkanku dari tidur di pagi hari yang terlihat cerah. Aku bergegas mengambil posisi yang aman untuk melihat apa yang sedang terjadi di depan gedung. 15 perajurit dan tiga tank berbaris nampak ingin mengamankan wilayah yang aku jaga ini. Tank pun berhenti di tengah dan mulai mengarahkan moncongnya lalu menembak beberapa gedung yang mereka pikir itu adalah tempat persembunyian para penembak jitu. Aku yakin tank-tank itu berniat untuk meratakan gedung-gedung yang ada disini bukan hanya lewat di jalan utama. Seperti biasa aku harus mencari titik merah yang menandakan tempat bahan bakar dari tank tersbut agar tank tersebut meledak.

Aku diuntungkan dengan gedung-gedung yang saling bercengkraman agar aku bisa mengambil posisi tembak yang berbeda. Melompat dari gedung ke gedung lain, sambil melihat keadaan sekitar. Tank sudah mulai menembaki tempat yang biasanya dipakai sebagai tempat yang nyaman bagi para penembak jitu. Aku melihat satu titik merah dari satu tank. Aku mencari posisi yang pas dalam menembak titik merah itu. Kumasukkan selongsong senapanku ke dalam sebuah lubang kecil yang cocok untuk menembak. Aku mulai mengeker dengan satu mata tertutup. Kucoba untuk menahan nafas dan memperlambat detak jantungku agar menambah fokus target sasaran. Pupil ini membuka lebar seaakan melihat jelas titik merah itu membesar.

Angin tidak berhembus dapat membantu arah peluru ini melesat lurus. Bersamaan dengan ledakan yang disebabkan oleh tank yang menembak gedung dan meledak pula satu tank yang terbuat dari baja yang kokoh. “Huuuuuuffttt, huuuuuuu,” aku menarik nafas kembali dan detak jantung kembali mengencang. Lima prajurit dekat tank terlihat terkapar karena ledakan. Sepuluh prajurit bersiap-siap di reruntuhan untuk berlindung. Mereka belum mengetahui keberadaanku. Aku belum berpindah tempat dan mencoba menahan nafas kembali untuk menembak satu titik merah tank berikutnya.

Sehabis aku meledakan semua monster baja, aku menembaki para prajurit layaknya mesin penjagal yang menjagal para kambing dimana mereka bersiap dan berbaris menunggu untuk mati. Satu persatu prajurit aku tembak mati, hampir semua tembakanku mengenai kepala dari mereka. Hanya satu tembakan yang mengenai perut bagian kanan, dia sempat merengek kesakitan dan memohon ampunan dariku. Sempat hati ini tidak ingin menembaknya tetapi aku harus menuntaskan pekerjaanku sebagaimana aku diajarkan dalam latihan.

Aku selalu menghitung korbanku setelah aku membunuhnya. Saat aku hitung, ternyata hanya ada 14 mayat yang terlihat tergeletak di depan gedung. Tidak sengaja aku melihat sekelebat bayangan kepala yang melintas di gedung sebrang. Aku yakin sekali bahwa aku melewatkan seorang prajurit yang berhasil lolos bersembunyi di gedung sebrang. Perkiraanku, dia adalah seorang penembak jitu sama sepertiku yang mana dia menunggu aku untuk mengambil perbekalan yang dibawa para prajurit musuh. Aku tidak berani bergerak dari posisiku, sedikit saja aku berpindah tempat ke gedung lain, maka dia akan mengetahui dimana aku berada.

Pagi yang cerah berlalu cepat melewati matahari yang terik hingga matahari itu terbenam. Malam tiba dengan hembusan angin yang meniup debu-debu yang kembali masuk kedalam gedung. Rasa dingin mulai masuk kedalam tubuh. Aku tetap dalam posisiku, mata yang sudah tidak fokus, tenggorokan yang mulai kering, ditambah lagi dengan tangan dan kaki yang sudah mulai kesemutan, yang mana mengganggu kekhusyuanku dalam melihat gerak-gerik musuh. Pada akhirnya, usahaku terbayar lunas dengan mengetahui keberadaan musuh. Nampaknya dia mulai kedinginan dan menyalakan rokok dengan tidak hati-hati sehingga asap rokok yang dikeluarkan terlihat jelas dari gedung di tempat aku berdiam. Perasaanku sudah mulai lega, aku hanya tinggal menunggu pagi sampai saat dia memperlihatkan mata elangnya di celah-celah gedung.

Rasa lapar, haus, dan pegal ini mengundangku untuk beristirahat dan meminum air yang aku bawa pada kantung saku. Aku memberanikan bergerak dan cepat bersembunyi agar dia tidak melihat gerak-gerik yang aku lakukan. Aku teguk habis air yang aku bawa hingga aku merasakan sebuah rasa yang menakjubkan bah air hujan di gurun pasir. Angin malam hari ini sungguh sangat tidak bersahabat, aku hanya bisa menekukan tubuhku dan memeluk kedua lututku untuk berharap mendaptkan kehangatan. Tanpa disadari jika waktu sudah berlalu lama, suara sirine yang menandakan pasukan musuh akan berangkat ke medan perang sudah mulai membuat hari semakin mencekam.

Kini mata hari tertutup awan kelabu yang menandakan hujan akan datang. Suara mesin tempur dan para prajurit berjalan di depan gedung sudah mulai terdengar. Aku terbangun dari tidurku untuk mencari posisi tembak yang tepat. Aku mencoba menerka posisi mana yang akan penembak jitu itu akan berdiam. Tidak lama sebuah selongsong senapan muncul dari sebuah lubang kecil dekat dengan tempat aku biasa bersembunyi. Ada yang aku anehkan dari gerak-gerik dari sang penembak jitu itu. Dia tidak mengarahkan selongsongnya padaku. Dia mengarahkannya kepada Jendral yang sedang berjalan memimpin pasukannya untuk maju ke medan perang. Aku tidak terlalu menghiraukan perihal itu karena dipikiranku kini hanya cukup menembaknya disaat suara-suara bising datang.

Pukul 08.04 adalah waktu serangan udara dimana rintik hujan ledakan bermunculan. Aku menutup sebelah mataku dan menahan nafas, lalu tangan ini mengeras bersiap menari pelatuk. Aku sudah bisa melihat jelas bola mata yang sama. Bersamaan dengan suara ledakan bom dari langit, tertutup pula mata sang penembak jitu. Perasaan yang lega muncul dan memberanikanku untuk bergerak kembali menuju tempat persembunyianku. Para pasukan musuh melewati jalan dengan santai dan sudah diluar dari jangkauan tembak. Aku mencoba melihat mayat si penembak jitu yang aku bunuh. Saat aku lihat, dia menggunakan seragam yang sama denganku. Aku berdiam hingga tidak sadarkan diri, memikirkan “mahluk semacam apa aku ini?” Hati dan otak saling beradu dalam sebuah garis lurus yang seharusnya tidak seperti itu.

“Ahhhkkkk. Aku adalah seorang mahluk jahat yang tak punya hati. Setiap apa yang aku sentuh hanya akan berbuah kematian. Aku adalah monster dalam kesendirianku, bahkan monster paling kejampun memiliki rasa kasih sayang pada keluarganya. Aku hanyalah hantu dalam kesendirianku.” Semua tidak terkendali pada saat itu. Otak ini mengerakan tanganku untuk memasukan pistol kedalam mulut busuk ini. Kini, hanya tuhan dan pelatuk pistol yang menentukan.

Uxas Try Iriana adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2011. Ia pernah menjabat sebagai Ketua UKM Tarung Drajat UPI. Selain aktif di bidang beladiri, kini ia juga bergiat dalam kesusastraan Bahasa Inggris di English Literature Forum (ELF) sebagai ketua.

Comments

comments