Bunga Mawar

 Ilustrasi
Ilustrasi (google.co.id)

Oleh Uxas Try Iriana*

Setelah hari yang indah di sebuah gereja, aku dan istriku akan menghabiskan waktu untuk bulan madu di desa yang sudah lama aku tingalkan. Di sana aku tidak begitu kenal banyak orang karena jarak rumah yang cukup berjauhan. Selain itu, aku pergi dari desa saat umurku masih 9 tahun, hanya ada satu keluarga yang aku kenal, tuan dan nyonya Hopskin. Aku belum pernah bertemu dengan tuan Hopskin, tetapi dia pernah ke rumahku untuk melaporkan kelakuanku di rumah mereka kepada ayahku. Saat itu aku dipergoki oleh nyoya Hopskin mengambil setangkai bunga mawar di tamannya. Aku dimarahi dan dijewer oleh nyonya Hopskin hingga sekarang bekas luka di telingaku karena kukunya yang tajam masih bisa terlihat.

Matahari siang yang hangat menyambutku saat aku keluar dari mobil. Terlihat dari kejauhan pengantar surat mendatangi rumah keluarga tuan Hopskin. Aku dan istriku merapihkan barang bawaan kami masuk ke dalam rumah. Rumah tua ini cukup berantakan karena sudah lama pula orang tua ku meninggal dunia. Kami berencana untuk merapihkan rumah ini dan merayakan pernikahan kami dengan keluarga Hopskin.  “Setelah aku merapihkan ruang tamu, aku akan membantumu memasak,” sautku kepada istriku dari ruang tamu. “Tidak usah, biar aku saja. Kau beritahu saja keluarga  tuan Hopskin, supaya tidak terlalu mendadak dan terlalu sore.” Setelah ruang tamu rapi, jam tangan menunjukan pukul 17.30, aku berpamitan kepada istriku untuk pergi ke rumah tuan Hopskin “Aku pergi dulu sayang.” Langit terasa cepat menunjukan warna gelapnya, mungkin karena aku masih belum terbiasa dengan waktu di desa ini. Sesampainya di depan pagar Tuan Hopskin, terlihat papan yang tertulis Andrea Swany di dekat kotak pos. Aku masuk dan memencet bel rumah tuan Hopskin. Rumah itu sepi seperti tidak ada penghuni di dalamnya. Aku mencoba mengetuk pintunya dan tidak sengaja rumah itu terbuka. Aku merasa ada hal yang aneh, aku mencoba masuk dan memanggil tuan dan nyonya Hopskin “Tuan Hopskin, nyonya Hopskin!” Tidak ada respon, sedikit pun, hanya ada bunyi lantai kayu yang aku injak. Aku lihat pintu belakang yang terbuka, dalam pikiranku mungkin mereka ada di halaman belakang. Saat aku menuju pintu belakang, terlihat sebuah cincin kawin, pisau dan tetesan darah yang mengarah ke belakang. Aku pun curiga dan saat aku melihat kebelakang, semua hanya terlihat hitam dan aku pun tidak sadarkan diri.

Aku terbangun di sebuah penjara kantor polisi, aku melihat istriku yang sedang menjaminku untuk bebas. “Maafkan kami, kami kira anda ini pencuri,” kata polisi itu sembari membukan jeruji besi. “Tapi tidak dengan memukul seperti itu pak.” “Maafkan kami, kami hanya melakukan tindakan pencegahan dari ancaman.” Akupun menceritakan apa yang terjadi saat itu. Namun Pak Polisi tidak percaya dengan ceritaku, mereka bilang jika memang nyonya Andrea hilang kita harus tunggu selama 24 jam. Aku sangat kesal dengan sikap mereka yang meremehkan cerita ku. Lalu aku pulang dengan istriku. “Kau ini kenapa?” tanya istriku heran karena aku nampak tidak tenang dan bulak-balik di depan jendela, sesekali aku melihat rumah nyonya Hopskin. “Aku akan kesana lagi.” “Untuk apa?”. “Aku ingin menyelidiki kemana nyonya Hopskin pergi.” “Harus kah aku ikut?” “Tidak usah, aku hanya sebentar, aku hanya ingin mengambil barang yang tadi aku lihat.” Lalu aku berlari ke rumah nyonya Hopskin. Di meja dapur masih ada apa yang aku lihat yaitu cincin kawin dan sebuah pisau yang memiliki gagang yang unik. Aku mengambil kedua barang itu dan mencoba menyusuri tetesan darah yang ada di lantai, ternyata jejak darah itu menghilang di sebuah taman bunga mawar yang kini terlihat layu yang mungkin tidak disiram. Setelah itu, aku pulang ke rumah dan bercerita pada istriku. Dia menyarankan ku untuk tidak usah terlalu memikirkan hal tersebut karena sudah ada polisi yang akan menangani jika sudah lebih dari 24 jam.  Namun aku tetap ingin mencarinya karena nyonya Hopskin adalah satu-satunya orang yang aku kenal meskipun dia tidak begitu baik.

Ke esokan harinya aku pergi ke tempat penjualan pisau di desa ini. “Apa kamu tau siapa yang pernah membeli pisau ini?” tanyaku kepada penjaga toko. “Tentu saja.” Dia menjelaskan bahwa pisau dengan model seperti ini hanya terdapat dua. Pembeli pisau ini adalah tuan Hopskin untuk hadiah perkawinan, tuan Hopskin saat itu berkata “Aku akan membuat toko roti daging dengan istriku.” Namun sayangnya mereka sudah bercerai, Tuan Hopskin tinggal di sisi danau dekat dari sini dan di rumah yang dulu hanya ada nyonya Andrea. Toko roti daging milik tuan Hopskin dekat dengan kantor polisi, dia sering membuka tokonya pada sore hari hingga malam. Setelah itu, aku pergi ke alamat yang ditunjukan oleh penjaga toko pisau itu, di sana aku melihat seorang laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah kandang dengan membawa plastik hitam dan tangannya yang berdarah. Dia melihat diriku dan aku langsung bersembunyi mencoba untuk kembali ke mobilku. Sesampainya di mobil, aku langsung kembali ke rumah dengan perasaan takut.

Malamnya, aku dan istriku mencoba ke toko roti daging tuan Hopskin. “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya penjaga toko. “Apakah anda tuan Hopskin?” “Iyah saya sendiri.” “Aku meminta maaf telah menguntit anda tadi siang.” “Oh, jadi selama ini, kau yang sering mengawasi rumahku?” Aku heran karena aku belum pernah mengawasi rumah tuan Hopskin selain tadi siang. Lalu dia bercerita bahwa sebulan kemarin ada orang yang selalu mengawasi rumahnya dari jauh. Namun minggu-minggu ini sudah jarang, lalu tadi siang dia melihat lagi. Aku pun bercerita apa adanya pada tuan Hopskin, lalu menujukan pisau dan cincin yang aku bawa. Dia terlihat cemas dan bertanya “Apa kau melihat kebun bunga mawarnya?” “Ya, aku melihatnya layu.” Dia pun memintaku untuk bergegas ke rumah nyoya Andrea. Aku dan tuan Hopskin langsung ke mobil dan menyuruh istriku untuk memanggil polisi untuk datang ke rumah nyonya Andrea. Tuan Hopskin nampak cemas dan menyuruhku untuk cepat ke rumahnya. Sesampainya di sana dia memangil-mangil nyonya Andrea “Andrea! Andrea!” Aku mengikuti tuan Hopskin yang berlari ke ruang bawah tanah dekat dengan kebun bunga mawarnya. “Tolong ambilkan kampak di dalam rumah, pintu ini terkunci dari dalam.” Aku berlari mengambilkannya kampak, setelah itu tuan Hopskin mendobrak pintu ruang bawah tanah dengan kampak yang kuberikan padanya. Bau busuk tercium jelas, tuan Hopskin hanya bisa menangis di depan mayat Nyonya Hopskin. Aku menemukan sebuah surat yang bertulisakan.

“Maafkan Aku, selama ini aku mencoba untuk meminta maaf kepada mu. Namun setiap kali aku berada di depan rumahmu, aku tidak sanggup untuk menghampiri mu. Aku hanya bisa memandang mu dari ke jauhan. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan mu di dunia yang lain. Aku mengambil pisau yang kau berikan waktu itu dan aku simpan di samping cicin pernikahan kita. Lalu aku biarkan bunga mawarku yang mengambarimu suatu saat nanti.”

 

Uxas Try Iriana

Mahasiswa Departemen Sastra Inggris UPI ’11

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *