Meruwat Harta Deli Yang Tak Terawat

61

Oleh: Nurul Yunita

Medan, isolapos.com Cuaca Medan tak terlalu terik saat 29 peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional (PJTLN) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika UIN SU menuruni bus menuju Istana Maimun, Rabu, (31/10). Jajaran baju yang dijemur di halaman tempat tinggal, menjadi pemandangan pertama saat menuruni bus. Tumpukan sampah tampak di beberapa sudut halaman Istana Maimun. “Kok gini ya?” ujar Muhammad Yusya, peserta asal Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gemercik Universitas Siliwangi.

Saat peserta berjalan menuju Istana Maimun, sepanjang jalan beberapa sampah memang tampak berserakan di taman-taman sekitar istana. Ketika berkeliling, tampak pengunjung lain yang sudah mengunjungi istana Maimun. Mereka ialah belasan anak-anak berseragam putih biru dari SMP Masigi. Efni F Tarigan, siswi dari SMP tersebut mengatakan Istana Maimun merupakan tempat yang tepat untuk menambah wawasan, tetapi ia menyayangkan adanya sampah di halaman Istana Maimun. “Kotor, kurang terawat, Kak,” tuturnya sambil melirik ke arah halaman Istana Maimun.

Sampah di halaman Istana Maimun, salah satunya disebabkan oleh banyaknya pengunjung yang kurang sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. “Banyak kali pengunjung,” tutur Halil Sandi yang sehari-hari turut merawat Istana Maimun. Selain faktor pengunjung, Halil juga mengatakan penyebab lainnya ialah, saat ini, masih ada 15 kepala keluarga yang tinggal di bangunan Istana Maimun bagian sayap kiri dan kanan. “Di sini masih keluarga tengku semua,” ujar pria kelahiran tahun 1959 yang masih keturunan Kerajaan Deli itu.

Jumlah Pengunjung

Sebagai salah satu cagar budaya di Kota Medan, Istana Maimun selalu ramai pengunjung. Mengenai jumlah pengunjung perharinya, memang tidak menentu. “Nggak tentu sih, kalau rame  sehari bisa ribuan tiket,” ujar Tengku Fazila Rizki salah satu penjaga loket disana. Fazila menuturkan, biasanya pengunjung paling ramai di akhir pekan, dari Jumat hingga Minggu. “Kalau weekend, mungkin mencapai lah 1.000 (pengunjung,-red), kalau hari biasa, enggak segitu,” tutur perempuan berkacamata yang saat ditemui menggunakan kerudung berwarna coklat.

Fazila, baru 2 tahun ketika turut membantu di Istana Maimun. Menurutnya, dari tahun ke tahun pengunjung semakin meningkat. Harga tiket yang terjangkau, menjadi salah satu penyebabnya. “Kalau umum 5 ribu, pelajarnya 3 ribu,” ucapnya saat ditanya mengenai harga tiket masuk Istana Maimun. Namun, tiket masuk yang terjangkau memiliki kendala tersendiri. Fazila mengungkapkan, pengelolaan istana yang masih ditangani secara pribadi oleh Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid dan keturunannya menjadi salah satu kendala. Ditambah lagi, dengan jumlah tour guide Istana Maimun yang berjumlah 6 orang dan petugas kebersihan yang berjumlah 2 orang. “Ya lima ribu, ke mana buatnya?” tuturnya sambil tersenyum.

Pengembangan Wisata

Istana Maimun terus berkembang dan mengalami perawatan. Lima tahun terakhir, mulai berdiri kios-kios yang menjajakan jasa sewa kostum di ruangan utama istana. “Kalau yang lain sudah lima tahunan lah,” ujar Enda, salah satu penjaja sewa kostum adat Melayu. Enda mengaku, kios yang ia jaga baru 2 tahun menjajakan jasa sewa kostum.

“Ayo..kak.. Mari baju adatnya,” ujar Enda pada pengunjung lain yang terlihat penasaran dengan katalog kostum yang ia pegang. “Cuma 20 ribu aja kak, boleh yang mana?” tambahnya. Adanya sewa kostum menjadi daya pemikat tersendiri bagi pengunjung Istana Maimun. Pengunjung semakin hari kian ramai, terutama di akhir pekan. “Ada juga yang dari Malaysia,” ucapnya.

Pengunjung lain yang nampak sedang berkeliling, mengaku kini Istana Maimun sudah cukup baik dalam pengembangan pariwisata dan perawatannya. “Agak lumayanlah,” tutur F. Tarigan, lelaki yang juga guru pariwisata di salah satu sekolah itu.[]

Redaktur: Muhammad Zaki Annasyath

Comments

comments