Jika Tiada Keadilan di Dunia, Patriot Dibutuhkan

84

Oleh: Muhammad Wildan Al Gifari

Judul              : Gundala

Sutradara       : Joko Anwar

Aktor              : Abimana Aryasatya, Tara Basro, Lukman Sardi, Bront Palarae, Ario Bayu, Rio Dewanto

Tahun             : 2019

Durasi             : 123 menit

“Jika orang lain menolak untuk memperjuangkan keadilan, itu tidak berarti kita harus seperti mereka,” begitulah petikan kata yang diambil dari film “Gundala”. Kapitalisme, beserta semarak ganasnya sistem ekonomi liberal, terus mencabik kehidupan para buruh. Tak kecuali Ayahanda Sancaka, yang rela menjadi korban dipangkuan para kapitalis, terbunuh di tengah getirnya memperjuangkan hak bersama kawan-kawan buruhnya. Si yatim Sancaka pun kini tumbuh besar di jalanan dengan bermodalkan hidup sebagai seorang pengamen. Menjadi anak yang dibesarkan oleh lingkungan jalanan yang keras, Sancaka pun harus mencecap pahitnya baku hantam dengan sesama anak jalanan lain. Di tengah kelut-melut kehidupan jalanan, sosok Awang, tampil menjadi guardian angel bagi Sancaka. Pria tersebut yang kelak mengenalkan si bocah yatim Sancaka bertarung demi bertahan hidup.

Di sisi lain, kesenjangan sosial antar kelas mencapai klimaksnya. Dimana pejabat dan mafia duduk berdampingan di kursi legislatif, sedangkan masyarakatnya hidup dalam kondisi yang mengenaskan. Mengingatkan kita bahwa politik tidak selamanya demi kepentingan rakyat. Naasnya lagi, momentum tersebut dieksploitasi mafia-mafia jahat yang mengincar kursi kekuasaan.

Berbeda cerita dengan Ridwan Bahri, salah seorang politikus yang menduduki kursi wakil rakyat. Ridwan tetap konsisten mempertahankan idealisme nya demi rakyat,  Walau  ia menjadi sasaran Pengkor, yaitu penjahat kerah putih yang menguasai negara. Menggambarkan orang yang berada didalam kebenaran tidak akan lepas dari ancaman orang-orang jahat. Dalam kondisi seperti itu, mau tidak mau Sancaka yang berangkat dari seorang apatis akhirnya turun tangan merebut keadilan. Ridwan mempercayai Sancaka yang kelak dikenal sebagai Gundala, menjadi sosok yang mampu membalikkan ke-chaos-an.

Film ini lebih banyak menyiratkan bahwa ketidakadilan bukanlah hal yang harus dipasrahkan. Seseorang yang lemah akan timbul kekuatannya jika terlalu ditindas. Selain itu, kisah cerita yang berjalan bagaikan mengajarkan khalayak penonton bahwa tidak ada gunanya hidup jika hanya mementingkan dirinya.

Kehadiran Gundala menjadi kesegaran baru dalam industri perfilman dalam negeri setelah seluruh dunia termasuk Indonesia, digandrungi oleh sinema-sinema besutan Marvel Cinematic Universe (MCU) seperti Avengers: Invinity War, Black Panther, Captain Marvel maupun yang paling terakbar Avengers: End Game. Melalui Jagat Sinema Bumilangit, Gundala mencoba membuktikan bahwasannya Indonesia kaya akan budaya terutama khasanah epos kepahlawanan.

Selain itu, sajian film Gundala juga merupakan pemecah penat, tatkala masyarakat sudah jenuh dengan tayangan layar lebar berbau supranatural bertitel azab, yang memenuhi sebagian stasiun televisi Indonesia. Film Gundala berhasil menyajikan skenario yang out of the box dengan mengangkat sesosok manusia berkekuatan petir seperti yang diadaptasi dari film Flash ciptaan DC Comic.

Tidak begitu banyak mengandalkan efek-efek dari Computer-Generated Imagenary (CGI), film ini lebih menekankan pada trik kamera dan practical dalam menyajikan pertarungan. Sebagai aktor kawakan, Abimana Aryasatya sebagai pemeran Sancaka tidak perlu diragukan dalam soal aktingnya. Plus ditambah dengan racikan tangan dingin sutradara kondang Joko Anwar yang akhir-akhir ini banyak mengadaptasi sinema klasik Indonesia kedalam kemasan yang lebih menyentuh millenial.

Keluarnya film Gundala bukanlah pertama kali, Gundala merupakan karakter superhero yang diciptakan oleh komikus Harya Suraminata alias Hasmi tahun 1969 dan dibuat filmnya tahun 1981 dengan judul “Gundala Putera Petir”, di film itu Sancaka atau Ir. Sancoko diperankan oleh Teddy Purba. Selain Gundala, Jagat Sinema Bumilangit juga memproduksi franchise-franchise berupa film dari karakter sesama pahlawan super seperi Sri Asih, Godam, Aquanus, Si Buta dari Gua Hantu dan Virgo yang kelak akan disatukan bersama Gundala dalam series Patriot seperti halnya Avengers buatan Marvel.

Namun apakah film ini akan berhasil atau tidak bukan masalah dari efek atau sentuhan CGI nya yang canggih, melainkan dari seberapa besarnya apresiasi dari para pecinta film dalam negeri melihat faktanya film ini masih saja menuai komentar berupa hujatan maupun pesimistis. Bagi saya, dengan style nya yang seperti itu sudah lebih dari cukup dan tidak perlu mengikuti style ala Hollywood karena perfilman kita menemukan gayanya terutama untuk film laga.[]

Redaktur: Salsabilla Ramadhanty Surachman

Comments

comments