Kartu Remi, Pembuka Jalan Filsafat

84

Oleh: Rio Tirtayasa

Judul Buku : Misteri Soliter; Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi

Penulis : Jostein Gaarder

Penerbit : Mizan

Halaman : 484 halaman

Jostein Gaarder, lagi-lagi saya terpukau oleh tulisan-tulisan yang dihasilkan tangannya. Novel-novel yang ia tulis seperti hidup dalam pikiran para pembaca. Seperti Dunia Sophie, Dunia Anna, atau pun Dunia Cecilia. Namun yang paling memukau bagi saya adalah novel yang berjudul Misteri Soliter: Filsafat dalam Setumpuk Kartu Remi.

Novel ini bercerita tentang Hans Thomas, seorang anak bersama ayahnya yang melakukan perjalanan panjang dari Norwegia ke negeri para filsuf, Yunani. Perjalanan mereka berdua sebenarnya untuk mencari Anita, ibu dari Hans Thomas setelah delapan tahun tidak bertemu karena Anita memutuskan untuk mencari jati dirinya. Dalam perjalanan, mereka berbicara mengenai pertanyaan-pertanyaan filsafat. Seperti yang saya kutip pada halaman 41, “Kita sungguh sangat pintar membuat bom atom, dan mengirim roket ke bulan. Tapi, tak seorang pun di antara kita bertanya dari mana kita berasal”.

Di tengah perjalanan, Hans Thomas bertemu dengan kurcaci yang memberitahu mereka supaya melewati Dorf. Setelah melewati Dorf, Hans Thomas bertemu dengan tukang roti dan memberikannya roti kadet. Tak disangka di dalam roti kadet itu, tersimpan sebuah buku mini yang bahkan sulit untuk dibaca. Seorang kurcaci kemudian memberikan Hans Thomas sebuah kaca pembesar. Mau tidak mau, Hans Thomas harus membacanya melewati kaca pembesar itu.

Pemberian-pemberian dari orang-orang yang ia temui, dirahasiakan oleh Hans Thomas dari ayahnya. Sebuah petualangan dimulai, cerita tersebut hidup dalam pikiran Hans Thomas.

Seorang pelaut terdampar di sebuah pulau yang sangat asing untuk seorang manusia normal. Bagaimana tidak, dalam pulau itu hidup kurcaci-kurcaci yang memiliki angka. Setelah ditelurusi, jumlah keseluruhan pendudukan pulau tersebut ada 52 orang. Kurcaci-kurcaci itu memiliki simbol seperti pada kartu remi. Mulai dari wajik, keriting, hati, dan sekop hingga angka satu sampai tiga belas.

Lebih menariknya dari novel ini, yaitu kita akan dibawa menyusuri kisah di dalam kisah. Sebuah tatanan masyarakat terbentuk dalam sebuah buku mini yang Hans Thomas dapatkan. Keriting hidup sebagai petani, Wajik sebagai pembuat gelas, Hati sebagai pembuat roti, dan Sekop sebagai tukang kayu.

Setelah membaca buku ini, pandangan pembaca akan berubah terhadap kartu remi dan bukan hanya sebagai permainan saja. Filsafat dalam setumpuk kartu remi memang benar adanya. Jumlah 52 bukan hanya sekedar angka dalam kartu remi, angka-angka itu merupakan jumlah pekan dalam setahun. Setiap angka kartu memiliki minggunya masing-masing dalam setahun. Empat simbol kartu menjadi penanda musim di dunia. Musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur.

Namun, kartu joker yang sering kita buang memiliki hal penting di dalam novel ini. Diceritakan, Joker tidak terpaku oleh sistem yang ada di pulau tersebut. Ia berbeda dari yang lain. Ia bukan wajik, keriting, hati, atau pun sekop. Ia tersisihkan. Sama halnya saat kita bermain kartu remi. Joker mempunyai harinya tersediri. Setiap empat tahun sekali, di tahun kabisat. Ia adalah tokoh yang merangkak keluar dari dalam kisah tersebut.

Dibandingkan novel-novel Jostein Gaarder yang lain. Saya rasa novel inilah yang lebih rumit. Semua pertemuan yang dilakukan oleh Hans Thomas berakhir pada satu inti cerita tentang ia dan keluarganya. Semua jawaban terjawab di penutup cerita dengan sangat memukau. Siapa Ludwig Messner si tentara Jerman itu, siapa pelaut yang terdampar di pulau aneh itu, dan siapa Frode si pencipta pulau aneh itu.

Kisah dalam kisah yang menarik. Saya merasakan petualangan di dalam perjalanan menuju tanah para filsuf. Bahasa yang digunakan pun tidak membuat pembaca menaikkan alis. Membaca novel ini seperti kita membaca sebuah dongeng tentang anak kecil yang sedang berimajinasi tentang pulau ajaib.

Seperti biasa, filsafat yang dikemas oleh Gaarder tidak akan membuat kita berhenti membaca sejenak untuk berpikir. Menariknya, ia menghadirkan tokoh Hans Thomas yang masih berusia 12 tahun. Pemilihan usia tokoh sangat berpengaruh pada jalannya cerita. Anak seusia Hans Thomas memang sedang belajar dan ingin mengetahui banyak hal di dunia ini.

Namun, sangat disayangkan akhir ceritanya mudah sekali ditebak. Mereka bertemu Anita. Tak ada konflik yang mendalam setelah delapan tahun tidak bertemu. Flat ending. Tetapi yang menjadi penting bukanlah soal akhir ceritanya. Namun soal kehadiran kisah dalam kisah yang mewarnai perjalanan Ayah dan anak tersebut menuju Athena.

Comments

comments