Loh, Memang Literasi itu Apa Sih?

70

Oleh: Naufal Ghifari Sagarmatha*

Seorang gadis belia biasa dipanggil Keke. Saya belum mengenali betul gadis ini. Saya juga tidak begitu mengenali siapa dia dan bagaimana sikapnya selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Namun, yang saya tahu dia baru saja menjadi kakak kelas, setelah tahun sebelumnya menjadi adik kelas di salah satu sekolah elite di kawasan dataran tinggi kota ini.

Sedikit tentang sekolah ini, tiap pagi, murid wajib membaca sebuah buku sebagai sebuah program literasi. Bagi negara yang amat jauh tertinggal angka minat  baca, pasti semua lapisan masyarakat pun menjadi sasaran dari program ini. Seperti yang ada pada surat kabar elektronik detik.com, negara ini menempati urutan 62 dari 70 negara yang diteliti oleh peneliti soal minat baca atau tingkat literasi. Maka dari itu sepertinya pemerintah ingin menaikkan tingkat literasi sejak usia sekolah.

Kembali lagi ke Keke, seperti murid sekolah pada umumnya saat pagi hari. Dia mempersiapkan kebutuhan untuk sekolah, mandi, sarapan dan pamit ke orang tuanya. Bagi Keke, itu menjadi sebuah rutinitas pagi yang penuh semangat. Tiba di sekolah, dia langsung bertemu temannya, memulai hari dan bergerak menuju aula untuk mengikuti kegiatan literasi.

“Coba angkat bukunya anak-anak,” kata seorang guru untuk mengecek muridnya, apakah semua membawa buku untuk dibaca.

Rata-rata anak di sekolah, para murid dominan membawa novel dan karya fiksi lain sebagai bahan bacaan mereka. Namun, hanya beberapa yang membawa non fiksi. Ada hal aneh di sana, bagi mereka yang membawa buku non fiksi terpaksa harus memisahkan diri dari ruangan. Keke adalah salah satu dari beberapa murid yang buku-bukunya disita. Nama mereka ditulis sebagai pelanggar yang membawa buku non fiksi dan mereka yang melanggar tidak membaca apapun pagi itu.

Saat itu, Keke membawa buku ensiklopedia tentang manusia dan salah satu tema dalam buku itu ada pembahasan tentang reproduksi. “Buku ini tidak tepat untuk dibaca di program literasi ya nak! Buku ini non fiksi dan belum pantas untuk kamu,” ucap seorang guru yang bertugas sebagai pencatat murid-murid yang salah membawa buku  pada pagi itu.

Bagi saya, ada beberapa kekeliruan yang lucu disini, memang literasi itu seperti apa? Pada akhirnya saya membaca makna dari kata literasi di kamus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Sama seperti halnya KBBI, National Institute For Literacy mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian kita bisa tahu, bahwa literasi tidak sempit seperti itu. Tidak hanya membaca novel dan karya fiksi lain. Alih-alih mendorong untuk membaca buku apa yang murid ingin baca, generasi baby boomer itu malah mengekang muridnya untuk membaca buku apa yang dia kategori sebagai literasi.

Program literasi apa yang melarang membaca buku selain bacaan novel dan karya fiksi? Pagi itu Keke mungkin punya alasan lain, bisa saja Keke ingin melanjutkan ensiklopedia karena memang seri selanjutnya adalah tentang manusia dengan tema reproduksi.

Hal lucu lain, gurunya tidak memperbolehkan Keke membaca buku itu dengan alasan umur yang belum cukup. Apanya yang literasi kalau begitu? Jika ingin membiasakan murid-murid memiliki budaya membaca. Biarkan saja mereka bebas membaca buku yang mereka suka. Biarkan informasi-informasi yang ada di dalam buku apapun itu berselancar memasuki pikiran mereka dan mereka pun menjadi lebih tahu dari sebelumnya.

Saya amat setuju dengan konsep membaca  novel atau karya fiksi setiap pagi sebagai pembiasaan membaca sejak dini. Akan tetapi, sangat disayangkan melarang membaca buku yang tidak sesuai itu bukan sesuatu yang bijak untuk dilakukan di sekolah ini.

Saat bel pulang sekolah telah berbunyi, Keke dan teman-temannya pun pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing hari itu. Beristirahat dari hari berat dan kemudian menyiapkan diri kembali untuk menikmati hari-hari berikutnya.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi FIP UPI 2016

Comments

comments