Menggapai Kebebasan

72

Oleh: Taufan Sopian Riyadi*

Judul Buku : Pasung Jiwa

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal buku : 328 halaman

Kebebasan menjadi hal yang cukup menarik untuk diperbincangkan. Perkembangan konsep hak asasi manusia dalam sistem demokrasi ikut andil dalam perkembangan kebebasan. Sebagian menyebutnya sebagai kehendak bebas-free will-, bahwa manusia memiliki otoritas untuk menentukan preferensi hidupnya masing-masing tanpa ada campur tangan pihak lain. Terlepas apakah keputusan yang diambil berupa baik-buruk, benar-salah, positif-negatif, dan lainnya. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan keputusan-keputusan dalam hidupnya sendiri.

Perbincangan ihwal kebebasan nampaknya dapat kita temukan dalam suatu novel yang ditulis oleh Okky Madasari. Novel tersebut terbit pertama kali pada tahun 2013, dengan judul Pasung Jiwa. Tema-tema yang menyangkut kegelisahan sosial nampaknya masih menjadi ciri khas dari novel-novel yang pernah Okky tulis.

Sasana dan Jaka Wani (Cak Jek) adalah dua sosok sentral dalam cerita. Sasana merupakan sosok yang digambarkan sebagai orang yang sejak kecil sudah mengalami kematian. Tentunya bukan kematian dalam arti leksikal sebagaimana mestinya, melainkan kematian yang terjadi akibat belenggu-belenggu yang menghambat dirinya untuk melakukan suatu kehendak. Belenggu yang datang dalam tubuhnya sendiri, pikirannya, maupun keluarga. Pun begitu dengan tokoh Cak Jek yang sejak awal terkurung akibat menjalani kehidupan yang tidak ia kehendaki. Sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari belenggu pertama, yakni dunia akademik dan memilih untuk nongkrong di warung kopi.

Perjumpaan Sasana dan Cak Jek terjadi di sebuah warung kopi milik Cak Man. Kala itu Sasana yang keluar dari belenggu pertama di Jakarta memutuskan untuk kuliah di Malang. Ia begitu antusias saat berpisah dengan tembok yang selama ini menyanderanya. Pertemuannya dengan Cak Jek ini menuntunnya untuk mengaktualisasikan kehendak yang selama ini ia pendam. Seperti Cak Jek, Sasana pun akhirnya memilih untuk putus dari dunia akademik dan mencoba untuk memasuki dunia seni ‘profesional’.

Dari jalanan keduanya mulai meniti karir sebagai seniman. Orkes Melayu Sasa menjadi brand mereka dalam memperkenalkan diri. Sasana atas usul Cak Jek pun mulai memperkenalkan dirinya sebagai Sasa. Darinya pula lahir apa yang disebut sebagai goyang gandrung. Seperti namanya, siapapun yang melihat goyangan tersebut akan gandrung bahkan bisa bergairah.

Kebersamaan keduanya tidak mulus selamanya. Suatu ketika, saat mereka melakukan demo di depan pabrik sepatu di mana anak Cak Man yang hilang bekerja dan mereka harus berpisah. Tidak hanya berpisah, mereka pun harus menerima pil pahit dari aparat yang menyiksa mereka. Bukan saja dalam hal fisik, melainkan pada hal yang membuat konak.

Selepas berpisah. Mereka menempuh jalannya masing-masing. Sasa(na) kembali ke Jakarta, bukan untuk berkumpul bersama ayah, ibu dan adiknya Melati, tapi untuk berkumpul bersama orang-orang yang menurut orang-orang yang berada di luar pagar dikategorikan sebagai orang yang tak waras. Cak Jek pun demikian, ia pergi ke seberang mengikuti kakangnya dan bekerja sebagai ‘mesin’ pabrik di Batam.

Apakah lantas mereka bertemu kembali? Jawabannya adalah Ya. Mereka akan bertemu kembali tapi dengan kondisi yang bertolak belakang. Sasa menjelma menjadi artis papan atas dengan Goyang Gandrungnya. Dan Cak Jek menjelma menjadi pemimpin laskar yang membela agama dan negara. Sasa pergi dari satu panggung ke panggung lainnya untuk bernyanyi. Cak Jek pun pergi dari satu ‘panggung’ ke ‘panggung’ lainnya untuk menegakkan agama dan negara sesuai ‘orderan’.

Sasa begitu benci, marah, saat mengingat bagaimana Cak Jek memperlakukannya sekarang. Tidak ada yang jauh menyakitkan dibandingkan dilecehkan dan disiksa oleh teman sendiri. Namun, disisi lain, Cak Jek pun merasa dirinya terus dihantui oleh tatapan mata Sasa yang penuh kebencian, tatapan mata Elis, seorang lonte saat ia masih menjadi ‘mesin’ pabrik di Batam, seonggok daging yang dipaksa dikeluarkan melalui liang senggama Kalina, akibat diperkosa mandor pabrik. Dan berbagai kepengecutan-kepengecutan yang pernah ia alami terus menghantui pikirannya.

Membaca ini anda akan dibuat berfikir atas cuplikan kisah dalam cerita dan kejadian yang pernah terjadi di dunia nyata. Membaca ini anda akan dibuat tegang dengan ketimpangan dan akibat yang ditimbulkannya. Membaca ini anda akan memiliki perspektif baru tentang hubungan kuasa. Dan membaca ini anda akan melihat seperti apa manusia akan memanusiakan manusia lainnya.

Dalam menggapai kebebasan setidaknya ada empat belenggu yang akan menghadang. Pertama, belenggu tubuh dan pikiran. Kedua, belenggu tradisi dan keluarga. Ketiga, belenggu norma dan agama. Keempat, belenggu ekonomi dan kekuasaan. Pada akhirnya, seluruh ulasan ini dapat diringkas ke dalam sebaris kalimat: Kebebasan hanya akan digapai saat anda benar-benar bebas dari dunia ini.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI 2016

Comments

comments