DILEMA CHAT GPT DALAM DUNIA AKADEMIK

333

Oleh: Lisna Dwi Astuti

Apa itu Chat GPT?

Chat GPT (Generative Pre-training Transformer) adalah kecerdasan buatan yang cara kerjanya memakai format percakapan. Teknis dalam menggunakan Chat GPT sama seperti ketika kita bertanya kepada teman atau guru, tetapi di Chat GPT kita akan bertanya kepada AI (Artificial Intelligence) dan AI akan menjawab pertanyaan tersebut dengan cepat. Chat GPT merupakan teknologi yang baru dan dirasa memudahkan manusia bahkan dalam dunia akademik. Hal ini dikarenakan responsivitas dalam menjawab pertanyaan dan aksesibilitas yang tidak terbatas, sehingga bisa diakses kapan saja dan dimana saja .

Manfaat Chat GPT bagi dunia akademik

Menurut Lund, & Wang, (2023) mengungkapkan bahwa Chat GPT memiliki power yang besar untuk memajukan akademisi dan kepustakawanan dengan cara baru. Hal ini tentu tidak terlepas dari bagaimana proses pembelajaran yang saat ini berjalan yang memberikan akses kepada pendidik yang tidak lagi menjadi sumber belajar satu-satunya. Chat GPT menawarkan suatu teknologi kepada dunia pendidikan, diantaranya:

1.      Memberikan ide-ide yang tak terpikirkan

Kita pasti sering menanyakan judul-judul yang cocok untuk gagasan yang kita buat atau artikel dan sejenisnya kepada Chat GPT. Ketika kita mengajukan pertanyaan, maka Chat GPT akan memberikan beberapa rekomendasi jawaban yang bisa digunakan. Dengan banyaknya tugas sekolah yang didapatkan, Chat GPT tentu mempermudah dalam menyelesaikannya bukan?

2.      Membuat paragraf untuk melengkapi sebuah tulisan

Ketika mendapatkan tugas menulis artikel, esai, dan jurnal, seringkali kita merasa buntu ingin menuliskan apa. Kebuntuan biasanya hadir ketika kita menulis latar belakang, abstrak, dan kesimpulan. Chat GPT dapat membuat dan menyelesaikan hal tersebut dengan mudah. Kita hanya menjelaskan poin-poin dalam jurnal yang akan ditulis, selanjutnya minta dibuatkan misalkan kesimpulan. Tidak sampai satu menit, kesimpulan sudah jadi.

3.      Mendukung jalannya pembelajaran (self learning)

Saat ini sumber belajar tidak lagi terpaku hanya pada guru saja. Kehadiran Chat GPT akan membantu kita dalam mencari penjelasan dalam waktu yang singkat. Misalnya ketika bingung membedakan stratifikasi dan diferensiasi sosial, kita hanya mengetik dan mengajukan pertanyaan, maka Chat GPT akan menjawab dengan kalimat yang mudah dipahami. Dibandingkan dengan mencari jawaban di jurnal atau website satu per satu yang membutuhkan waktu yang lama.

4.      Meningkatkan kreatifitas

Peningkatan kreativitas bisa terjadi melalui Chat GPT. Pengguna bisa mendapatkan inspirasi dan saran untuk menghasilkan konten yang kreatif. Dapat berupa tulisan puisi, cerpen, hingga lirik lagu. Ini akan membawa penggunanya terhadap sesuatu yang baru melalui Chat GPT.

Alibi dan dilema Chat GPT dalam dunia akademik

Melihat banyaknya manfaat yang ditawarkan oleh produk AI tersebut, tentu banyak orang yang tergiur untuk menggunakan Chat GPT. Banyak yang mempertanyakan integritas dan orisinalitas karya tulis ketika dibuat dengan campur tangan Chat GPT. Chat GPT yang akan menurunkan sisi kognitif, critical thinking, dan literasi akademisi hingga siswa.

Hal tersebut tidak terlepas bagaimana saat ini aktor dalam dunia pendidikan mulai dari akademisi hingga siswa menggunakan Chat GPT dalam mengerjakan tugas mereka. Ketika buntu mencari ide, sebelum berpikir terkait gagasan yang akan dibuat, mereka bahkan sudah terlebih dahulu menggunakan Chat GPT. Ini berbanding terbalik dengan kebiasaan dalam pembuatan artikel yang biasanya kita akan melakukan riset dengan membaca jurnal yang sesuai dengan topik yang akan kita angkat kemudian dikerucutkan hingga munculah judul. Sedangkan yang terjadi saat ini adalah mencari judul melalui Chat GPT terlebih dahulu baru mencari jurnal. Sekilas memang terlihat jauh lebih efektif dan tidak akan menurunkan integritas dan kognitivisme akademisi maupun siswa karena pada akhirnya akan tetap membaca jurnal. Namun bagaimana pada akhirnya jurnal yang mereka baca hanya sekilas sebagai formalitas agar pada bagian daftar pustaka memenuhi persyaratan. Mereka tidak lagi melakukan anotasi dengan membaca semua jurnal, melainkan hanya melihat sekilas lalu dimasukan dalam jurnal yang mereka tulis.

Dari sanalah pada akhirnya Chat GPT dapat menurunkan integritas akademisi dan siswa. Pertama, daya literasi menjadi rendah, mungkin orang akan membaca jurnal yang sama banyaknya tapi secara konteks isi tidak lagi benar, pada akhirnya membaca dilakukan hanya sebagai formalitas untuk kewajiban mengisi bagian daftar pustaka dalam penelitian yang dibuat dan bahkan ketertarikan terhadap membaca buku pun berkurang karena jawaban sudah tersedia di dalam Chat GPT. Kedua, penurunan kognitif atau daya pikir, orang-orang yang mencari ide atau gagasan melalui Chat GPT akan melewati proses berpikir yang seharusnya dilalui, tidak lagi melakukan riset dan menimbang benar atau salahnya, karena memakai Chat GPT berarti mencari kemudahan dan kecepatan untuk mendapatkan jawaban, bayangkan ketika nanti berada dalam suatu ruang diskusi tanpa teknologi AI maka otak mereka bisa menjadi lambat dalam berpikir dan tidak ada diskusi yang menarik lagi karena selama ini mereka telah melewati proses itu dengan mengandalkan Chat GPT. Ketiga, menurunkan integritas akademisi dan siswa, ketika literasi rendah dan daya berpikir menurun maka integritas pun akan ikut menurun, padahal seharusnya pendidikan bisa meningkatkan daya berpikir manusia bukan justru melemahkan.

Respon yang seharusnya hadir dari berbagai aktor dalam menghadapi tren ini

  1.  Lembaga pendidikan

Lembaga pendidikan perlu menganalisis bagaimana fenomena ini terjadi juga melihat penggunaan dan kecenderungan pemakaian Chat GPT. Lalu, melakukan boundaries dengan memberikan edukasi secara masif. Misalnya bagaimana penggunaan dan pemanfaatan teknologi yang bijak dalam ruang akademik. Hal tersebut dapat berbentuk webinar atau edukasi melalui film pendek yang dapat diakses oleh banyak pihak.

  1. Akademisi

Akademisi perlu berdiskusi terkait etika penggunaan Chat GPT dan batasan yang diperbolehkan dalam ruang akademik. Akademisi juga perlu memperhatikan jalannya pembelajaran dari mulai penyampaian materi hingga pemberian tugas, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kecenderungan siswa dalam penggunaan Chat GPT dan membuat siswa tidak melewati proses berpikir. Misalnya, tugas yang esensial ditanyakan ketika berada di kelas dengan mengadakan kuis dan sebagainya.

  1. Siswa

Siswa perlu menyadari etika penggunaan dan pemanfaatan Chat GPT agar hasilnya bisa berdampak baik. Siswa juga perlu melihat pendidikan secara filosofis yaitu untuk menjadikan kita sebagai manusia yang utuh, memiliki morality, dan mampu menggunakan akalnya dengan baik, bukan hanya sekedar untuk lulus dan mendapatkan nilai. Ketika siswa sudah menyadari hal tersebut, maka seharusnya kekhawatiran akan keberadaan Chat GPT  bisa berkurang.

Melarang penggunaan Chat GPT tidaklah mungkin dilakukan, maka yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan batasan-batasan penggunaan agar tidak terjadi demotivasi siswa dalam belajar yang menghambat critical thinking mereka. Dalam melakukan hal tersebut diperlukan kesadaran semua pihak terkait. Hal ini dilakukan agar pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya yaitu mampu mencerdaskan secara kognitif, afektif, dan psikomotorik.

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” – Tan Malaka

Tujuan tersebut tidak bisa digantikan oleh teknologi yang tidak memiliki moral value didalamnya.

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan

*Penulis adalah Mahasiswa Teknologi Pendidikan Angkatan 2021 FIP UPI

Comments

comments