Fantasi Dunia Tanpa Patriarki: Review Film Barbie

209

Oleh: Aizhar J.

Judul film : Barbie

Tahun rilis : 2023

Sutradara : Greta Gerwig

Pemeran : Margot Robbie, Ryan Gosling, Helen Mirren, Ariana Greenblatt, Issa Rae, Dua Lipa, America Ferrera, Kate McKinnon, Simu Liu, Michael Cera, Rhea Perlman, Will Ferrell, John Cena.

Durasi : 114 menit

Greta Gerwig berdiri di jajaran mereka para seniman, penulis, aktivis, dan filmmaker perempuan yang sejauh ini selalu sangat baik menyuarakan isu-isu perempuan. Track record miliknya berhasil membuat kagum setiap orang yang menikmati filmography buah tangan Greta. Dalam Lady Bird (2017), eksplorasi autentik hubungan antara anak perempuan dan seorang ibu dibungkus melalui dialog-dialog tajam serta humor ringan. Hal tersebut membuat film ini sangat melekat di hati para penonton. Sama seperti Little Women (2019), penyampaian karakter yang kompleks dari persaudaraan serta penggambaran peran perempuan pada masa sekitar tahun 1860-an, digarap jari Greta sangat telaten.

Keputusan film Barbie disutradarai oleh Greta Gerwig akan menjadi keputusan tepat yang dikenang dalam sejarah sinema. Siapa sangka hanya berpondasikan boneka anak kecil tahun 1950-an dapat dikembangkan menjadi film berwacana serius dan amanat berantai. Poin-poin yang dibawa oleh film Barbie bukan hanya sekadar visualisasi bentuk live action dari cerita Barbie yang sebelum ini seringnya disajikan lewat medium animasi dan berputar di kisah-kisah putri istana saja.

She’s Everything He’s Just Ken

Greta memang dikenal juga sebagai sutradara yang cukup sensitif di daerah pemilihan kata dan kekuatan obrolan (dialog) setiap tokoh. Jargon film “She’s everything he’s just Ken”, sedikit menggelitik apabila mengingat saat pertama melihat slogan ini dijadikan sebagai promosi film. Sebab secara gamblang, slogan ini memberikan petunjuk bahwa film akan berpusat pada Barbie dan bukan Ken.

Konflik film ditandai sewaktu Barbie menyadari pelan-pelan bahwa ia mulai berubah, tidak sama lagi dengan Barbie-barbie lain di Barbie Land. Berubah menjadi datarnya kaki Barbie (kaki boneka Barbie harusnya berjinjit) atau munculnya selulit di paha. Hal itu memaksa Barbie melakukan perjalanan ke Real World—dunia manusia, lalu menemui seorang manusia agar ia bisa menjadi Barbie seperti semula.

Namun, ketika Barbie memutuskan untuk melaksanakan perjalanan ke Real World sendirian, tidak disangka Ken juga ikut di kursi belakang mobil Barbie. Seterusnya, Ken akan menjadi bagian dari perjalanan yang nantinya akan memunculkan konflik baru lagi. Ken diceritakan sebagai karakter yang rela menerjang ombak laut demi mendapatkan perhatian Barbie.

Serba-Serbi Barbie Land

Selain dress atau aksesoris milik boneka Barbie yang terkenal, boneka ini banyak dicintai anak-anak saat Mattel meluncurkan juga Dreamhouses atau set rumah-rumah mainan boneka Barbie. Rumah Barbie tersebut selanjutnya diimplementasikan bentuk visual, secara realistis menjadi rumah yang layak disinggahi Barbie hidup, dengan detail di dalam film ke dunia bernama Barbie Land—dunia tempat tinggal Barbie dan karakter lain sangat feminim serta penuh oleh warna terang.

Warna pink mendominasi segala sudut Barbie Land. Pink ada di bangunan tertinggi Barbie Land bahkan mungkin ke sudut ruangan paling tak terlihat sekalipun sebab warna pink sudah menjadi identitas Barbie. Pink adalah Barbie, Barbie adalah pink. Boneka Barbie adalah salah satu faktor mengapa zaman sekarang warna merah muda dilambangkan sebagai bagian dari sifat feminim atau girlhood. Walau awalnya Mattel hanya menjadikan warna pink sebagai metode branding produk, kini warna merah muda telah bergeser menjadi warna yang mengandung suasana ceria dan lembut. Padahal, jika membaca sedikit sejarah warna pink, warna ini merupakan warna kuat yang melekat pada laki-laki atau kebutuhan perang hingga status sosial. Betapa ikonik kontribusi boneka Barbie sampai bisa merebut renda-renda perspektif masyarakat tentang warna pink.

Uniknya, film Barbie seolah menyentil realita sekarang ketika laki-laki masih sangat alergi terhadap warna terang, khususnya merah muda. Sebab di saat yang sama, seluruh tokoh Ken di Barbie Land nampak serempak tidak segan untuk selalu berpakaian mencolok. Seperti pengingat, pada dasarnya satu warna tidak dimiliki suatu gender. Lelaki tidak semestinya terkungkung ego maskulinitas bahwa segala hal feminim cuma milik perempuan saja.

Sejak awal, eksistensi boneka Barbie telah menghasilkan gebrakan lain. Narator menjelaskan di pembukaan film bagaimana boneka Barbie menciptakan pandangan anyar kalau perempuan bisa menjadi apa pun selain menjadi seorang ibu. Jauh sebelum itu, boneka yang dimainkan anak-anak perempuan hanya boneka bayi. ini seakan membangun perangkap pemikiran pengap, yaitu masa depan kelak anak perempuan hanyalah berkutat merawat bayi. Boneka Barbie pun datang membuka gerbang baru untuk anak perempuan seluruh belahan dunia, beragam variasi Barbie berkarir hadir diikuti bermacam warna-warni dress yang khas. Lahirnya beraneka variasi boneka Barbie ini ditujukan supaya dapat memotivasi anak perempuan kalau dunia ini tidak cuma selebar pagar rumah. Barbie bisa menjadi apa saja, perempuan bisa menjadi apa saja, di luar sana. Beberapa dari banyaknya variasi boneka Barbie kemudian diperkenalkan film di Barbie Land: Barbie berprofesi dokter, pengacara, pilot, hakim pengadilan, jurnalis, pemenang nobel sains, author, hingga seorang presiden.

Ekosistem di Barbie Land didominasi Barbie seluruhnya. Berbanding terbalik, kembali lagi pada slogan, film ini, film Barbie bukan film Ken. Tokoh Ken tidak spesifik diceritakan apa pekerjaan dan di mana tempat mereka tidur. Seolah nama adalah identitas semata-mata yang Ken punya dalam film. Di Barbie Land, mereka tidak mempunyai peran krusial, kecuali keinginan mendapat validasi dari Barbie. Film Barbie sukses memanfaatkan potensi sejarah panjang boneka Barbie secara maksimal.

Konsep Matriarki Bukan Inti dari Cerita

Ironisnya, selang tak berapa lama saja film ini tayang di layar lebar, banyak dari pihak konservatif dan kalangan laki-laki cishet kebakaran jenggot juga menyalangkan mata sambil berkata kalau film ini anti laki-laki. Lebih jauh, sejauh review ini ditulis, beberapa negara bahkan telah menyekal penayangan film dilatarbelakangi rupa-rupa alasan.

Munculnya banyak backlash tentang film Barbie yang merendahkan lelaki, ringkasnya karena plot film menitikberatkan cerita kepada Barbie dan bukan Ken. Dimulai dari slogan utama film sering memperlihat sisi buruk maskulinitas, urak-urak dampak patriarki, sampai yang kentara yaitu dipegangnya konstitusi atau pemerintahan Barbie Land oleh para Barbie. Karakter Barbie menggerakkan kehidupan di Barbie Land. Dari sini, timbul asumsi kalau film Barbie serta unsur keperempuanan di dalamnya disangka sedang menormalisasikan konsep matriarki. Padahal, film ini tidak mempromosikan konsep matriarki sebagai konsep yang paling mantap direalisasikan pada realita sosial. Walau demikian, Greta pun tidak pernah membantah kalau film ini telah menggunakan sudut pandang feminisme. Sebab feminisme sendiri sejatinya tidak berdefinisi menempatkan perempuan di tatanan tertinggi sosial, melainkan untuk melawan kehadiran tatanan itu sendiri. Kata matriarki tidak sejalan dengan kata ideal dalam kamus feminisme.

Film Barbie bukan film perempuan-sentris. Perspektif cerita memang fokus pada perempuan, tetapi tidak alih-alih film lalu melupakan realita yang sebenarnya. Justru apabila cerita diresap secara teliti, film ini sebenarnya hanya mengutarakan apa yang terjadi di kehidupan sosial. Film Barbie merangkul penonton untuk melihat realitas dari arah yang berbeda. Pertanyaan kecil tertuang ke dalam premis film: bagaimana pemandangan apabila dunia ini dibalik? Dunia di mana perempuan bisa lebih bersinar dan lebih leluasa untuk menunaikan keinginan, serta lebih banyak perempuan bernama besar di dalamnya.

Film ini juga serasa ikut mengabulkan anggapan terkenal “hal mustahil cuma ada di film-film”. Karena kenyataannya, di Real World dan di dunia asli kita, segala sektor kehidupan masih menganut patriarki. Film Barbie menjadi angin segar yang lewat sebentar di wajah para penonton, khususnya perempuan. Seperti jendela baru, jendela yang pemandangannya berisikan kehidupan sejahtera bagi perempuan.

Melalui film Barbie, kita disajikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sesungguhnya terkena pula dampak patriarki. Buah-buah patriarki dalam film merefleksi realita sosial kita yang pada dasarnya musuh bersama. Bukan hanya merugikan perempuan, tetapi semua pihak. Film ini cukup lihai membuat analogi kemunculan patriarki di dunia, yaitu ketika laki-laki mulai menganggap kalau maskulin lebih tinggi dari hal-hal lain. Film ini menunjukkan bagaimana patriarki langgeng di realita, diamini bukan hanya oleh pelaku, tetapi juga korban patriarki yang belum sadar sebenarnya telah menjadi korban. Produk patriarki sangat jelas disampaikan cerita, salah satunya toxic masculinity, lewat karakter Allan serta perbedaan female gaze dan male gaze sampai objektifikasi perempuan kehidupan sehari-hari di adegan pantai saat Barbie pertama kali menginjakkan kaki ke Real World.

Betapa banyak dampak patriarki dalam film Barbie bukan berarti film ini sedang menyiarkan konsep matriarki, sebab closing statement Barbie yang sekaligus menutup film nanti akan memperjelas kalau pada akhirnya Barbie tidak menyetujui konsep yang dipakai Barbie Land. Namun, setidaknya film ini akan menebarkan beberapa pengalaman spiritual yang tidak didapatkan di kehidupan sosial oleh penonton.

World has Always Revolves Around Kens

Fantasi dunia tanpa patriarki tervisualisasikan secara sempurna. Selain dieksekusi dengan baik, kalimat “fantasi dunia tanpa patriarki” juga dibuktikan secara langsung melalui reaksi negatif yang datang ke film Barbie. Untuk terlepas dari belenggu patriarki sepertinya akan memakan lebih banyak waktu, atau bahkan tidak pernah mungkin. Seolah kekuatan yang dimiliki patriarki sebegitu kuat sehingga cita-cita untuk menghilangkannya sulit untuk dicapai dan menjadi angan-angan saja. []

Redaktur: Amelia Wulandari

Comments

comments