Pendidikan Bohong

382

Oleh: Syahidah Qolbiya S, S.Hum

Juni – Juli lalu muncul Video yang viral berisikan mengenai kritikan Pendidikan di Indonesia di instagram dengan kata kunci pencarian “Pentingkah Pendidikan di Indonesia?”. Berawal dari pertanyaan “Pentingkah Pendidikan di Indonesia?” jawaban yang diberikan di dalam video seolah memberikan tamparan bagi keadaan hari ini. Kembali mengingat film di tahun 2010 dengan judul “Alangkah Lucunya Negeri Ini” dalam salah satu dialognya, seorang tokoh bernama Samsul mengatakan “menurutku pendidikan itu penting lalu setelah gua kelar kuliah ternyata pendidikan itu tidak penting” lalu dijawab oleh tokoh yang lain “itu, itu hasil pendidikan Sul, kalau kau tidak berpendidikan kau tidak akan tau kalau Pendidikan itu tidak penting”. Mengapa terjadi hal tersebut? Inilah yang disebut dengan paradoks.

Paradoks adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pandangan umum atau kebenaran yang terjadi. Contoh sederhana yang bisa kita lihat yaitu budaya me“rokok”. Rokok banyak dijadikan stigma negatif bahkan dilarang, namun dalam kehidupan sehari-hari rokok menjadi barang yang terlihat dan menjadi konsumsi harian kebanyakan orang.

Di tahun 2005 muncul fenomena baru, yakni Korean Pop atau K-Pop di Indonesia dengan munculnya boyband dan girlband. Anak-anak banyak mengikuti mulai dari pakaian hingga cara memoles wajah namun lagi-lagi dalam Pendidikan dianggap hal yang tidak baik khususnya pada Pendidikan formal. Mengapa dilarang dan dalam Pendidikan dianggap buruk tetapi dikonsumsi?

Pembahasan mengenai pendidikan sudah banyak dibahas oleh para cendekia Indonesia, salah satunya Rocky Gerung. Gita Wirjawan, selaku pembawa acara saat itu dalam podcast-nya menanyakan “Bagaimana agar Pendidikan Indonesia menjadi lebih baik?” dengan penjelasannya Rocky Gerung mengatakan “Indonesia butuh focal point”. Apa itu focal point? Focal point adalah suatu elemen yang tampak lebih mencolok sekaligus menarik perhatian dari elemen lainnya. Focal point akan ada manakala Indonesia berada dalam satu suara.  

Hari ini apakah Indonesia sudah dalam satu suara dalam hal pendidikan? Focal point muncul dari budaya masyarakat yang diprioritaskan, sementara budaya berasal dari pemikiran atau ideologi yang diyakininya yang kemudian menjadi prinsip.

Mengapa ideologi menjadi unsur yang sangat penting dalam hal Pendidikan? Karena ia menjadi tonggak benar, salah, baik, dan buruk keberjalanan pendidikan. Ideologi berasal dari kata idea atau oida yang artinya mengetahui dan logos yang berarti pengetahuan. Jika disatukan ideologi berarti pengetahuan tentang ide-ide yang berlandaskan pemikiran. Pemikiran ini menjadi sumber nilai yang dianut kemudian menjadi prinsip serta budaya yang berkembang di masyarakat.

Pada Kenyataannya Pancasila belum mencapai ideologi

Ideologi di Indonesia dalam panggung Sejarah dianggap final dalam Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila atau yang dikenal dengan P4. Kenyataannya Pancasila hanya merupakan pemersatu bangsa, belum mencapai ideologi. Hal ini bisa dilihat pasca kemerdekaan. yang mana dalam kurun waktu 1950 hingga 1960 pada masa Demokrasi Liberal yang sedang mencari serta mengharmoniskan pemikiran serta ideologi para pendiri Bangsa Indonesia. Pancasila sudah ada tetapi ideologi-nya belum final. 

Dibubarkannya Dewan Konstitusi menunjukan adanya ketidak final-an ideologi para pendiri bangsa. Pada masa Orde Lama, ideologi Soekarno dengan Marhaenisme-nya menjadi ideologi nasional. Namun, tragedi (G30S PKI) Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia mengakibatkan kembali hilangnya ideologi nasional yang dilanjutkan dengan orde baru sekaligus menunjukan kalahnya ideologi komunis di Indonesia pada saat perang ideologi atau perang dingin di dunia. 

Di masa Orde Baru tahun 1978, Pancasila dianggap dan dijadikan ideologi dengan munculnya P4, padahal banyak para cendekiawan yang berlomba memberikan gagasan ideologi. Hal ini ditandai dengan banyaknya tulisan di berbagai media. Namun sayangnya hal tersebut dianggap oposisi oleh pemerintah dan permainan kucing-kucingan yang berlangsung cukup lama. 

Di tahun 1990-an hal ini ditangani oleh pemerintah dengan adanya asas tunggal Pancasila. Menurut para cendikiawan dan beberapa organisasi, hal ini dianggap sebagai alat kekuasaan karena dianggap memunculkan standar ganda dan autokrasi pemerintahan. Ini menjadi salah satu faktor penyebab lahirnya reformasi dengan diturunkannya Soeharto sebagai presiden. 

Pasca Reformasi, pembahasan ideologi dan prinsip bangsa negara sedikitnya terbahas dengan munculnya berbagai amandemen Undang-undang Dasar sehingga banyak sendi yang ter-reformasi salah satunya Pendidikan yang ditandai dengan munculnya sistem Pendidikan nasional (SISDIKNAS) tahun 2003. Sayangnya ideologi kembali redup di tahun 2004 pada masa pergantian presiden Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga hari ini, tidak lagi terdengar pembahasan mengenai ideologi bangsa dan negara.

Ideologi dan Pendidikan

Keterkaitan Ideologi dan Pendidikan sebenarnya sudah dimulai sejak dahulu kala saat manusia sudah saling mengenal dan memahami anggota keluarga satu sama lain, karena dari sana muncul adanya regenerasi. Generasi awal harus mendidik generasi dibawahnya agar mampu memenuhi kebutuhannya dan orang sekitarnya sesuai dengan ideologi atau keyakinannya yang kemudian melahirkan prinsip dan budaya tertentu di masyarakat. 

Semakin banyak jumlah penduduk semakin banyak pula yang perlu dipelajari dalam hal memanfaatkan apa yang ada sebagai kebutuhan termasuk sumber daya manusianya itu sendiri. Di Indonesia, pendidikan sudah banyak dilakukan seiring perkembangan zaman. Pada masa Hindu-Budha adanya padepokan, pada masa Islam adanya pesantren, dan pada masa penjajahan Belanda baru dikenal dengan istilah “sekolah”. Sekolah berasal dari bahasa latin skhole, scola, scolae yang artinya waktu luang. Sekolah ini dibuka dan diadakan untuk anak-anak yang mengisi waktu luang saat orang tuanya bekerja. 

Pasca kemerdekaan, kebingungan akan ideologi bangsa itu sendiri mengakibatkan kebingungan juga dari sisi pendidikan. Tidak adanya regenerasi menjadikan kehilangan prinsip sebagaimana seperti yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun dalam Kitab Mukaddimah “Barang siapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman”. 

Bisa dilihat pada beberapa pernyataan Menteri dan tokoh pemimpin negara jika ingin Indonesia seperti negara lain atau selalu membandingkan negaranya dengan negara lain tanpa kejelasan prinsip kenegaraan, hanya prinsip pribadi. Perubahan kurikulum setiap pergantian Menteri juga menjadi bukti adanya kebingungan pada Pendidikan Indonesia yang hanya mengikuti arus zaman saja seolah tidak memiliki prinsip pendidikan nasional. 

Indonesia hari ini

Barangkali hal ini memang sengaja terjadi di Indonesia mengingat tulisan Ali Khamenei dalam bukunya Perang Kebudayaan yang menjelaskan adanya serangan terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan negara sehingga menjadi kabur bahkan tidak mengerti bagaimana seharusnya nilai-nilai yang dianut oleh bangsanya. 

Perang kebudayaan ini tidak muncul berupa fisik setahun dua tahun melainkan psikologis, menarik perhatian, dan berlangsung bertahun-tahun dengan kegaduhannya dari sisi budaya. Indonesia akan kalah dalam perang ini serta kembali terjajah jika tidak memiliki ideologi yang menjadikan negara ini kuat. Tak heran bila banyak permasalahan kesehatan mental terjadi dimana-mana yang menunjukan korban perang ini.

Fenomena lemahnya ideologi dikenal dengan sebutan budaya populer atau budaya Pop. Budaya populer ini muncul di tahun 1960-an meski istilah kata budaya populer sendiri sudah ada sejak abad ke-19. Budaya populer disematkan kepada masyarakat non-elit alias masyarakat yang kurang berpendidikan dan kurang berpengetahuan luas. Sifat budaya populer ini mudah diterima karena mudah diakses serta tidak berat bagi pemikiran dan bisa dikendalikan sesuai dengan tren yang muncul. 

Budaya populer muncul di Indonesia pada masa orde baru dan berkembang di awal reformasi yang kondisinya masih menjadi negara berkembang. Kondisi pencarian ideologi menjadikan lahan basah untuk budaya pop ini. Ketika reformasi usai dengan ideologinya yang belum rampung, budaya pop semakin menjelajahi Indonesia melalui media massa mulai dari radio, televisi, hingga berbagai media sosial di gawai atau telepon genggam. 

Budaya pop yang paling terlihat di Indonesia pada dua zaman terakhir ini yakni budaya populer Amerika dan budaya populer Korea atau yang dikenal dengan K-Pop.  Budaya populer Amerika berkembang saat perang dingin seolah mengambil alih kondisi masyarakat yang terabaikan oleh elitis dengan perang dinginnya. melalui media massa yang saat itu berkembang yakni radio, televisi, dan koran budaya populer ini tersebar begitu luas termasuk Indonesia. Musik digaungkan melalui beragam radio, iklan-iklan makanan dimasukkan melalui koran harian dan televisi, film-film ditampilkan di bioskop serta televisi yang dilakukan terus-menerus. 

Sesuatu yang ditampilkan secara terus menerus membangun alam bawah sadar untuk mencicipinya hingga menyukainya. Indonesia saat itu masih berada dalam masa orde baru mulai menyukai makanan yang dicampuri bahan terigu serta digoreng oleh minyak goreng, yang kini dikenal dengan gorengan, rokok ditampilkan di layar bioskop dan atau layar kaca dianggap keren dan nikmat sehingga orang-orang berbondong bondong mencoba serta menirunya, dengan alunan musik yang ringan tanpa alat musik tradisional kendang menjadi sesuatu yang baru. 

Amerika menjadi tren zaman itu. Kerjasama dalam berbagai hal dengan Amerika mulai terjalin salah satunya di bidang Pendidikan pada tahun 1992. Para cendekiawan yang pulang dari Amerika membandingkan serta ada juga yang menginginkan negaranya, Indonesia, sama dengan negara guru pengampunya, Amerika. 

Reformasi muncul sebagai angin segar untuk ideologi di Indonesia meski Kembali senyap di tahun 2004. Satu tahun setelahnya, 2005, muncul grup tarian dan musik yang dikenal dengan istilah boyband dan girlband. Keduanya menarik perhatian banyak orang dan menjadi tren. Sifatnya yang ringan perlahan halus Budaya K-Pop mulai masuk menggeser budaya pop Amerika. 

Tren baru ini menarik bangsa Indonesia untuk mencari tahu bahkan belajar dari negara Korea. Melalui gawai dan internet yang mudah didapat sedikit demi sedikit musik diikuti, pakaian diikuti, memoles wajah dengan make up diikuti, bahkan cara belajar ala Korea juga diikuti. 

Sama seperti saat Amerika menjadi tren, arus budaya Korea yang semakin kuat ini memunculkan pemikiran membandingkan negara Indonesia dengan Korea bahkan menjadikan Korea sebagai kiblat budaya yang harus diikuti. Dari sini dapat terlihat serangan kebudayaan luar yang menyerang Indonesia. Tanpa Ideologi yang jelas bangsa dan negara ini memiliki peluang kembali terjajah dari sisi kebudayaan dan berdampak pada berbagai hal khususnya Pendidikan. 

Di dalam pembelajaran di sekolah anak-anak dilarang serta diajari untuk tidak merokok karena berbahayanya bagi kesehatan serta pertimbangan perbandingan antara manfaat dan keburukannya lebih banyak keburukannya khususnya bagi kesehatan. Penggunaan pakaian dan make up atau polesan wajah di sekolah juga dilarang dengan alasan belum sesuai dengan umurnya dan pada bidang Kesehatan akan memunculkan penuaan dini. Makanan yang tersedia di kantin berupa makanan rumah gorengan yang digemari tetapi buruk bagi Kesehatan meskipun harganya terjangkau oleh anak-anak tetap dikonsumsi. Perempuan menjadi pro-kontra sebagai bagian yang ikut serta dalam berbagai kegiatan publik karena keyakinan dalam beragama serta tren yang terjadi hari ini di negara luar khususnya Amerika dan Korea berbeda dengan Indonesia. Musik dan tarian pop yang sedang tren di upload di internet menjadi hal tabu bagi anak sekolah dan beberapa tokoh seperti guru. 

Di rumahnya, anak-anak melihat bapaknya menyalakan rokok setiap hari atau bahkan gurunya sendiri merokok. Di rumah dan di toko-toko sekitar rumahnya make up adalah barang wajib yang digunakan oleh para perempuan agar terlihat lebih menarik. Setiap pagi ibu-ibu tidak lepas dengan kata gorengan. Tidak hanya laki-laki saja yang bekerja, hari ini, perempuan juga ikut bekerja bahkan menjadi ketua dalam beberapa perusahaan tertentu meski selalu dinasehati oleh pemuka agama jika pemimpin haruslah seorang laki-laki. 

Paradoks-paradoks ini bagi anak-anak yang sedang belajar dan di-didik membuat mereka kebingungan dengan apa dan bagaimana nilai yang benar seharusnya hingga tak aneh jika muncul kata-kata “Pendidikan itu tidak penting” karena realita dan pengetahuan yang mereka dapatkan tidak selaras. 

Pendidikan dalam undang-undang SISDIKNAS nomor 20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. 

Pendidikan terbagi menjadi tiga bagian yaitu Pendidikan formal yakni sekolah; Pendidikan informal yakni keluarga; dan Pendidikan non-formal yakni diluar dua hal tersebut seperti komunitas. Pendidikan tidak bisa dibebankan pada Pendidikan formal saja. Hanya dengan mengantarkan anak ke gerbang sekolah dari SD hingga SMA bahkan Bangku Kuliah saja, itu tidak cukup. 

Definisi Pendidikan tersebut mencangkup ke-tiga bagian bukan salah satunya untuk menjadikan nilai yang utuh. Jika masing-masing bagian ini menuntut perbaikan Pendidikan dengan perbedaan ideologi dan prinsip masing-masing yang dianggap penting dan sangat penting maka tidak ada focal point di sini, tidak selaras apalagi harmoni.

Di dalam rumah, anak-anak perlu diarahkan ditanami nilai-nilai budaya kemudian di sekolah mereka mengembangkan dirinya sebagaimana tanaman yang telah muncul pucuk tumbuhnya dibarengi dengan lingkungan yang mengawasinya. Melihat budaya Pop khususnya Amerika Pop dan K-Pop yang terjadi hari ini, apakah sudah selaras antara Pendidikan formal, informal, dan non-formal?.

Paradoks menjadikan anak-anak kebingungan nilai mana yang harus mereka anut. Adanya paradoks membuktikan tidak selarasnya nilai budaya yang terjadi. Nilai-nilai budaya ini perlu diselaraskan dan diharmoniskan agar menjadikan bangsa dan negara yang luhur serta kuat yang bisa kita sebut “Peradaban”. Bukan negara yang terjajah. Kembali kepada focal point, focal point ada bila sudah selarasnya suara Pendidikan di Indonesia. Dengan melihat paradoks bagi anak-anak sebagai generasi selanjutnya, apa yang akan dijadikan focal point jika Indonesia hari ini belum mampu menyelaraskan dan mengharmoniskan ideologi bangsanya sendiri.

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan 

*Penulis adalah Guru Sejarah SMAN Situraja

Comments

comments