Menanti Reaktivasi Bus DAMRI Leuwipanjang—Ledeng 

319

Oleh: Harven Kawatu

Bandung, Isolapos.comAkhir Oktober 2021 menjadi momen bersejarah di mana Djawatan Angkoetan Motor Republik Indonesia (DAMRI) Cabang Bandung menghentikan 8 rute bus DAMRI dengan alasan kondisi finansial perusahaan yang merugi. Salah satu rute yang dihentikan ialah rute Leuwipanjang—Ledeng. Rute sibuk ini harus terhenti akibat sepinya penumpang yang diperparah dengan masa pandemi kala itu.

Tiga tahun berlalu, pandemi telah usai dan roda ekonomi pun perlahan bergerak kembali. Akan tetapi, hingga kini nasib rute Leuwipanjang—Ledeng belum juga menemukan titik terang. Berbagai upaya terus dilakukan oleh masyarakat yang menunggu jalur ini diaktifkan kembali, salah satunya Komunitas TransportforBandung (TFB).

Dilansir dari Bandungbergerak.id, TransportforBandung dikenal sebagai komunitas yang bergerak pada isu transportasi publik khususnya di wilayah Bandung Raya. Berdiri sejak Juli 2020, komunitas ini bertujuan sebagai wadah informasi yang terintegrasi dari seluruh moda transportasi yang ada. Selain itu, TFB juga sering melakukan kerja-kerja advokasi terhadap rute-rute transportasi umum yang dinonaktifkan, seperti ketika Trans Metro Pasundan Leuwipanjang—Gading Tutuka yang sempat ditutup karena dihadang oknum sopir angkot. Kini, hal serupa sedang TFB lakukan agar rute Leuwipanjang—Ledeng dapat beroperasi kembali.

Berdasarkan Data, Mengumpulkan Suara

Perjuangan TFB dalam mereaktivasi jalur Leuwipanjang—Ledeng berangkat dari survei yang mereka lakukan pada November 2022. Muhammad Zulyandri, Co-Founder komunitas TFB, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu sepekan, jumlah responden dari angket tersebut mencapai 700 responden dengan persentase yang setuju akan reaktivasi pada angka 90%. “Dari situlah pegangan pertama kita buat datang ke DAMRI,” jelasnya dalam ruang virtual pada Jumat (01/03) malam.

Hasil survei tersebut menjadi acuan TFB dalam pertemuan dengan Manajer Usaha DAMRI Cabang Bandung pada (16/11/2022). TFB yang saat itu ditemani oleh Pecinta DAMRI Community (PDC) menyerahkan surat permohonan reaktivasi dan hasil survei kepada DAMRI Cabang Bandung. Namun, hasil pertemuan tadi mengambang-ngambang hingga akhir Januari 2023.

“Selanjutnya, baru ada info dari DAMRI itu tanggal 27 Januari 2023. Waktu itu Manajer Usaha DAMRI-nya, Pak Suprihatin, mengajak bertemu untuk membahas reaktivasi jalur ini lagi, tapi waktu itu tidak jadi karena beliaunya berhalangan hadir karena ada agenda di Dinas Perhubungan Jawa Barat dan akhirnya tenggelam lagi isunya gitu.” jelas Zulyandri.

Tenggelamnya isu ini tak membuat TFB patah semangat. Zulyandri bercerita, strategi TFB untuk menaikkan kembali isu reaktivasi ketika itu adalah dengan membuka data survei kepada khalayak publik. 

Berdasarkan hasil survei yang telah TFB olah per November 2023, demografi terbesar responden yang setuju akan reaktivasi didominasi oleh mahasiswa dan pegawai. Hal tersebut dijelaskan oleh Naufal Farras, anggota TFB yang turut bergabung dalam ruang virtual dengan Isolapos. “Ada lebih dari 64,44% mahasiswa. Nah, sisanya 24% itu pegawai. Jadi, bisa dibilang 90% isinya itu mahasiswa dan pegawai,” ujarnya.

Naufal juga menjelaskan 50% tempat tinggal responden berada pada area yang dilewati atau sejalur dengan rute Leuwipanjang—Ledeng. Ia juga mengungkapkan rata rata frekuensi responden menggunakan DAMRI adalah sebanyak 2—4 kali dalam seminggu.

“Ini ada demografinya, berapa kali mereka naik dan memang kebanyakan 2—4 kali seminggu, ngga cuma seminggu sekali ketika weekend. Nah, setelah DAMRI ini dinonaktif, mereka beralih kemana juga kita tanya. Ada yang beralih ke angkot, terus ada yang motor, terus ada juga moda transportasi lain. Yang paling banyak itu transportasi umum. Jadi, masih banyak yang bergantung kepada transportasi umum” jelas Naufal.

Ajakan kepada Kampus dan Mahasiswa

Melihat antusias mahasiswa yang begitu besar membuat Zulyandri dan rekan-rekan TFB mencoba untuk menggaet mahasiswa agar turut serta dalam kegiatan aktivisme ini. Usaha mengontak beberapa organisasi mahasiswa yang berkampus di Jalan Setiabudi telah mereka lakukan pada Agustus 2023. 

“Kami coba mengontak Kang Hilal, kalau gasalah ketua BEM UPI, ya. Itu kami coba mengontak via IG untuk minta kontak-kontak, tapi ga ada kabar lagi. Kami juga mengontak Teh Syifa, kalau tidak salah itu Wakil Ketua BEM gitu ya, Teh Syifa Sofadiyanti, sama kami juga mengabari bahwa ingin mengangkat isu ini, tapi tidak ada respon lebih lanjut,” jelas Zulyandri.

Tiadanya respon juga dialami TFB ketika mereka menyerahkan hasil survei terbaru kepada DAMRI pada November 2023. General Manajer DAMRI saat itu, ungkap Zulyandri, menindaklanjuti hasil survei yang TFB bawa dengan mengirimkan surat pengajuan audiensi kepada pihak rektorat UPI. “Waktu itu suratnya tertanggal 28 November 2023, DAMRI mengirim surat ke rektorat UPI buat pengajuan dan audiensi. Jadi, waktu itu sempet menunggulah, tapi tidak ada kelanjutan juga tanggal audiensinya. Akhirnya udahlah dari rektorat UPI belum ada kabar.” jelasnya.

Pendiri komunitas TFB Raihan Aulia menganggap, gigihnya ajakan TFB dalam menggandeng UPI disebabkan jenis demografi terbesar pengguna bus jalur Leuwipanjang—Ledeng merupakan mahasiswa yang berkuliah di UPI. 

“ … ini penting diperjuangkan karena mahasiswa-mahasiswa ini kebanyakan mungkin ngekos, kebanyakan mungkin aslinya bukan dari lingkungan sekitar UPI gitu. Jadi, mereka tuh kecenderungan untuk menggunakan transportasi umumnya tuh lebih tinggi dibandingkan demografi lain.” jelas Raihan.

Hilal Syahbana, selaku Presiden Mahasiswa BEM REMA UPI tahun lalu, mengonfirmasi bahwa dirinya sempat dihubungi oleh TFB untuk membahas isu reaktivasi bersama. Kata Hilal, sempat ada pembahasan soal reaktivasi dalam lingkup internal BEM REMA. “Waktu itu sempet bahas cuma posisinya ketunda, duh,” ujarnya melalui pesan Whatsapp pada Senin (04/03).

Harapan untuk Terus Bergerak

Pertemuan virtual yang diadakan Isolapos pada Jumat (01/03) malam itu menjadi kesempatan TFB untuk bercerita bagaimana usaha mereka dalam memperjuangkan reaktivasi rute Leuwipanjang—Ledeng. Salah duanya adalah cerita Muhammad Alfrido dan Satrio Ikhwan. Muhammad Alfrido yang kerap disapa Aldo adalah Mahasiswa UPI yang bergabung dengan komunitas TFB. Ia bercerita bahwa dirinya sempat didesak oleh teman-teman kelasnya untuk menyampaikan kepada DAMRI agar mengaktifkan kembali rute tersebut.

“ … awalnya dari temen-temen kelas. ‘Do, bantuin dong bilangin ke DAMRI ini bis Ledeng tuh dioperasiin lagi, aku jadi susah kalo mau pulang ke Bekasi, biasanya pake bis cuma 5.000, sekarang harus pake ojol’ terus awalnya dari situ.” jelas Aldo.

Sementara itu, bagi Satrio yang sering berada di Terminal Leuwipanjang, acapkali menemukan penumpang yang tidak mengetahui bahwa bus Leuwipanjang—Ledeng telah berhenti beroperasi. “Sering tuh banyak penumpang yang nanya, bis yang ke Ledeng ada atau enggak? Saya bilang berkali-kali, enggak ada. Tetap tidak percaya. Akhirnya, ya, apa, ada yang sampe nunggu ga datang-datang. Baru weh ganti ke angkutan yang lain, entah naik yang bis Dago atau angkot yang ke Kebon Kalapa.” ucapnya.

Raihan sebagai Founder komunitas TFB melihat reaktivasi ini sebagai simbiosis mutualisme. Baginya, membuka kembali jalur ini tak hanya menguntungkan penumpang, tetapi juga pihak DAMRI. “ … kan tidak menuntut jalur yang antah-berantah. Kita kan menuntut rute yang emang market-nya sudah ada dan bisa dibilang ga bakal sepi gitu. Karena itu, kami terus mendesak DAMRI karena emang kami punya keyakinan kalau jalur Leuwipanjang—Ledeng diaktifkan kembali, DAMRI ga bakal menyesal.” jelasnya pada akhir pertemuan virtual.

Berdasarkan pantauan Isolapos, isu reaktivasi jalur Leuwipanjang—Ledeng sempat diberitakan oleh PRFMNEWS.id dengan judul artikel “Ada Rencana Bus Kota Rute Leuwipanjang – Ledeng Akan Aktif Kembali”. Dilansir dari PRFMNEWS.id, hal ini disampaikan oleh Kepala Terminal Leuwipanjang Asep Hidayat. Asep berkata rute bus Leuwipanjang—Ledeng akan diaktifkan kembali dengan armada bus konvensional yang digantikan dengan bus listrik.

“Itu nanti Leuwipanjang – Ledeng akan pakai bus yang diganti bus listrik itu,” ucapnya saat on air di Radio PRFM 107,5 News Channel Rabu, 21 Desember 2022 lalu. []

Redaktur: Amelia Wulandari

Comments

comments