Hari Perempuan Sedunia di Bandung Angkat Tema “Jeruji Fasisme dalam Kepemimpinan Prabowo–Gibran”

29

Oleh: Agis M, & N. Hamra*

*Reporter Magang Isola Pos

Bandung, Isolapos.com-Aksi peringatan Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day) telah digelar pada Minggu (08/03). Aksi ini dimulai dengan long march dari titik 0 KM Bandung dan berakhir di Cikapundung River Spot, dilanjut dengan mimbar bebas, aksi lilin, dipenuhi dengan berbagai lapak dan kegiatan lainnya. Aksi ini digelar setiap tahunnya oleh berbagai komunitas, organisasi, maupun individu kolektif yang fokus pada isu sosial dan perempuan. 

Pada tahun ini, aksi tersebut tetap membawakan tuntutan terkait pemenuhan hak-hak dasar perempuan. Salah satu peserta aksi, N (inisial), menyebut bahwa peringatan tahun ini mengangkat tema “Jeruji Fasisme dalam Masa Kepemimpinan Prabowo–Gibran” 

Menurutnya, tema tersebut dinilai relevan dan kuat terlihat dari antusiasme massa. Ia juga menambahkan terkait situasi perempuan di Bandung yang banyak mengalami penindasan, mulai dari kasus Sukahaji serta kondisi teman-teman kaum marginal lainnya yang tertindas. 

“Secara umum tuntutan kami tuh membicarakan hak-hak dasar perempuan, kaum Queers, Perempuan buruh tani..” ujar Levi, selaku Koordinator Lapangan. Menurutnya, Hingga saat ini masih banyak bentuk penindasan terhadap perempuan yang dipicu oleh sistem kapitalisme di Indonesia. Situasi tersebut, semakin diperburuk oleh kebijakan pemerintah yang berujung pada tindakan represif. Ia juga menambahkan bahwa saat ini terjadi gelombang demoralisasi dan meningkatkannya kekerasan terhadap masyarakat sipil yang turut berdampak pada perempuan.

Terdapat 14 poin tuntutan yang dibawakan selama Aksi berlangsung. Dilansir dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bandung, tuntutan secara umum berisikan seruan pencabutan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat (Undang-undang Cipta Kerja, Proyek Strategis Nasional, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan perjanjian dagang), penghentian perampasan tanah dan kriminalisasi gerakan rakyat, serta pemenuhan hak ekonomi, sosial, dan perlindungan bagi buruh, petani, perempuan, pekerja rumah tangga, dan sektor pendidikan melalui reforma agraria sejati dan pembangunan industri nasional.

Editor: Sennita T.D.

You might also like