POTRET SENJA DAN BADAI SALJU
Oleh: Sennita Tya Divany
Hembusan angin sore hari, menusuk menghampiri kulit perempuan yang terbungkus sehelai tipis gaun biru bermotif siluet dedaunan. Ombak bersahutan, menyambut bulan yang perlahan muncul menggantikan riangnya mentari. Ramalan bintang malam ini meredup, mungkin memberi duka, ataupun bahagia yang hendak disampaikan pencipta.
“Berdansa?”
Lelaki dengan air wajah senja menghampiri, memberikan lengan penuh luka kepada sang perempuan yang termenung, duduk membiarkan ombak membasahi tungkainya. Ia tersenyum. Menyambut lengan sang lelaki, bagaikan harta karun pasar raya.
Sejenak mereka mengudara, dalam khayalan masing-masing yang bertaut, berirama, dan saling memberikan kehidupan.
Ingatan mereka, kini menyelam lebih jauh pada dua tahun sebelum dansa ini dimulai, sebelum lagu romansa yang pilu mengudara, sebelum jiwa mereka bertaut.
Dua Tahun Sebelumnya
Lorong-lorong putih, memenuhi pandangan seorang lelaki muda. Seorang dengan lengan penuh luka, pelaku seni yang terlalu dalam menghanyutkan kata-kata, hingga terlena pada keterpurukan dunia yang semakin merenggut sinar dalam dirinya.
“Mas Damar, silahkan masuk. Kita akan memulai sesi terakhir”
Suara wanita dengan sayup menghamburkan lamunan lelaki jangkung itu. Ia tersenyum, pilu. Mengangguk, lantas berjalan mengekor sang wanita berusia lima puluh dua tahun itu.
Mereka kini berada dalam sebuah ruangan bernuansa cokelat hangat, namun menyesakkan, bagi Damar. Netra nya melirik kursi-kursi melingkar dengan masing-masing pemilik bersimpuh di atasnya, kecuali satu kursi di tengah pada sayap kanan.
“Silahkan duduk, Mas. Satu kursi kosong, samping Mbak Naya” Wanita tua yang dikenal sebagai Laras, menunjuk satu kursi yang tepat seperti dugaan Damar.
Lelaki itu melangkah, dengan enggan-nya melirik manusia lain di sekitar. Merebahkan bokongnya, masih dengan acuh dan pikiran penuh umpatan pada tempat yang ia datangi saat ini.
‘Ruang Pulih’, sebuah tempat dipenuhi asa manusia-manusia dengan pikulan beban yang terlampau berat. Dengan tujuan berbagi, memberikan harapan dan saling menguatkan jiwa-jiwa mereka.
Di tempat inilah, lelaki jangkung yang sedikit kurus itu terjebak. Bersama pikiran yang siap mendidih, dan menguap kapanpun ia mau.
“Seniman? Menulis atau menggambar?”
Pertanyaan mendadak, membuat lelaki itu sedikit bergeming. Melirik ke arah yang sedari tadi ia hindari, tempat sang perempuan yang disebut Naya itu berada.
“Maaf lancang. Nayara Senja, fotografer!” Perempuan itu tersenyum berseri mengangkat kamera digital, memamerkannya.
Menjelaskan jeli netranya, dalam menangkap jemari sang lelaki yang penuh luka dan kusam, lantas menyimpulkannya segera.
“Damar. Damar Aksami” Tersenyum kikuk, lelaki payah.
Belum sempat membuka kembali suaranya, perempuan itu terdiam tatkala Laras mulai memperkenalkan Damar, sebagai seorang penulis dan anggota baru Ruang Pulih. Diiringi gemuruh getir tepuk tangan, lima belas orang.
Sialnya bagi sang lelaki, menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata. Sedikit banyak dari hal yang ia benci, tatapan itu.
Mengingat ia berada dalam sesi terakhir, Damar harus meluapkan seluruh pikiran dan apa yang terjadi dalam hidupnya, hingga berada di ruangan yang sama, dengan para penyintas.
Damar Aksami. Seorang lelaki jangkung berkulit cokelat, dengan kacamata yang senantiasa bertengger membantu penglihatannya. Ia adalah seorang penulis sastra lepas, penuh dengan pendalaman emosi dalam tiap tulisannya.
Lelaki yang mengaku bahwa jiwa nya telah ditelan oleh nestapa buatannya sendiri.
Lingkungan yang buruk, kesalahan yang ia limpahkan pada dirinya, membuatnya terkena berbagai tekanan. Tak dapat kembali menulis, rasa gundah membawa ia ke dalam titik terendah dalam hidupnya. Hingga ia terselamatkan oleh keinginannya untuk bangkit.
Dan memulai fase kehidupan baru dengan merayap dari garis pertama, Ruang Pulih.
“Boleh lihat tulisanmu?” Damar menoleh, perempuan itu ternyata mengikutinya.
Setelah sesi panjang penuh dengan afirmasi yang tak terlalu mempan, lelaki itu memutuskan untuk segera beranjak, hatinya tak bergeming. Entah, mungkin mati.
Namun niat sang lelaki untuk segera berlalu, hilang menyublin. Menghadirkan senyum seorang perempuan berambut pendek dengan jepit bunga matahari, senada dengan tas selempang kecilnya.
Mengangkat kamera digital, dan memotret Damar disetiap akhir sesi.
Yang entah sejak kapan, menjadi sebuah hal biasa bagi sang lelaki. Obrolan ringan perempuan cerewet itu, menjadi hal baru yang kini terasa nyaman bagi Damar.
Terasa hangat, hingga sesi hari rabu itu memulai peperangan batin yang baru baginya.
“Bagaimana, Mba Naya? Apakah ada berita baik?” Pertanyaan Laras dijawab dengan anggukan antusias.
“Membaik, sangat. Tapi, saljunya semakin jelas terlihat”
Dan untuk pertama kalinya, lelaki itu melihat perempuan nya terdiam, tatapan yang sendu.
Nayara Senja. Perempuan ceria yang menghangatkan bak bunga mentari, sebenarnya adalah bunga mawar penuh duri yang indah, namum menyakitkan.
Perempuan riang itu, dikategorikan sebagai penyintas kekerasan sejak kecil. Dibesarkan dalam lingkungan yang lebih busuk, dari bunga bangkai.
Klise, namun kematian kerap kali ia hampiri dengan lapang hati.
Hingga pada usia remaja, perempuan itu menegak cairan terkutuk bernama metanol. Ia campurkan dalam minumannya sendiri, setiap pagi. Setiap hari, secara perlahan, hingga kematian menantinya di ujung malam.
Sunyi dan merdu, kematian itu baginya.
“Sialnya, aku temukan kehidupan, melalui lensa ini,” Perempuan itu mengangkat kamera digital putih miliknya, menunjukkan ke arah lelakinya, dengan sendu, menutup satu matanya dan tersenyum getir.
“Hanya beberapa tahun lagi, jadi.. akan aku abadikan seluruhnya. Sebelum badai salju itu tiba, sebelum netraku menjemput kematian” Imbuhnya.
Akhir dari kisah ini, sudah sangat jelas. Entah bagi Damar, maupun bagi para pembaca.
Siapakah sosok pemberani yang masih mengharapkan sebuah akhir bahagia, ketika pencipta telah memberikan titah mutlaknya?
Ia akan mati, sungguh.
Namun seperti kata hati seluruh manusia. Persetan dengan yang akan terjadi pada masa depan, biarlah hidup berjalan hari ini, esok, esoknya, hingga ia terhenti tanpa ditunggu dan dihitung.
Beriringan dengan garis luka yang tergores, taburan cinta melukis seluruh kisah mereka di atas kanvas yang hampir menghilang oleh basahnya hujan asam.
Nayara, perempuan riang dengan tangkapan lensa yang selalu indah. Damar, lelaki sunyi dengan guratan pena, yang selalu menjaga kisah romansa agar berakhir indah.
Sepasang yang keras kepala, duduk berdampingan menatap ranting kosong yang dingin pada sebuah pohon tua. Berguguran, daun itu menghirup arsenik mematikan yang hampa.
Dengan segala kesederhanaan, mereka merawat duka.
Tertunduk pilu, seolah menanti bungkusan penuh keajaiban dari tuhan. Sembari enggan melihat pada angka yang terus bergulir, berhitung mundur.
Mereka tertawa, bahagia. Sangat bahagia, melebihi sepasang burung merpati manapun di muka bumi. Melebihi ribuan jejak dan sinar bulan yang menyembunyikan ribuan kisah cinta.
Ribuan potret yang terabadikan dalam lensa juru foto, ratusan lembar yang digoreskan oleh penulis. Berkelana, singgah sejenak, menepi untuk berpeluk luka, lantas kembali melangkah menatap dunia yang semakin memutih.
Hingga sang juru foto kehilangan kendalinya, terhenti setelah dua tahun perjalanan mereka, menyusuri pasir pantai tanpa ujung, mengotori sepatu menyelimuti tungkainya yang dingin.
Rembulan sempurna, bersinar menyoroti kedua insan yang lara di bawah sana. Selepas berdansa, perempuan itu semakin bersinar dalam lemah dirinya.
“Aksami?”
“Kesunyian. Artinya kesunyian” Perempuan itu menggeleng, tak setuju.
“Aksa. Penglihatan” Perempuan itu tersenyum, menatap raray lelakinya, lantas mengelus perlahan dengan jemarinya yang lembut. Menyeka air mata yang berjatuhan dari manik mata lelakinya.
“Mata.. yang melihat kesunyian?” Lelaki itu bertanya dengan senyum getir, mengusak perlahan helai rambut perempuan nya.
Lagi dan lagi, sang perempuan menggeleng. Kini ia tertawa, pelan. Sangat pelan, namun bahagia.
“Kesunyian.. yang hidup dalam pandangan”. Perempuan itu menatap lekat, sebelum ia menutup mata dan bersandar menggengam jemari penuh luka lelakinya.
“Masih di sana?” Lelaki itu merangkul tubuh perempuannya, menahan isakkan. Dingin, perempuan itu mendingin.
Perempuan itu mengangguk lesu, lantas membuka matanya perlahan. Menatap deburan ombak yang disinari rembulan.
“Lihat.. ke arahku” Perempuan itu menolak. Semakin erat, genggamannya.
Seluruh potret yang telah ia abadikan, kini menari di kepalanya yang hendak menguap. Ribuan foto sang lelaki yang telah diabadikannya, sangat jelas dan indah.
Kini, pandangannya semakin memutih. Menjadi kabur, menjemput kematiannya.
“Badai salju, kekasihku”
Lelaki itu menangis, berusaha mengalahkan riuhnya deburan ombak yang membersamai kekasihnya,
menemui kematian.