Menunggu Rahasia Senja

69

Adegan ketika lelaki yang menjadi patung semakin dililit oleh akar. Pentas ini disajikan oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2011 di Auditorium A, FPBS UPI, Kamis ( 10/5).

Bumi Siliwangi, isolapos.com- “Aku pergi cuma sebentar, tunggulah di sini, aku segera kembali setelah iblis itu mati,” ujar seorang perempuan pada kekasihnya.

Alunan nada piano dan gitar mengiringi pertunjukan ini. Pun ketika Wanita itu pergi (Bunga Paulina) dengan mengucapkan kata tersebut pada kekasihnya (Indrawan).  Laki-laki itu dengan setia menunggu kekasihnya hingga menjadi patung (M. Hilmi Azizi). Semakin patung itu berusaha bergerak semakin kuat akar-akar mencengkramnya.

Kurun waktu yang lama membuat tempat yang semula merupakan desa-desa berubah menjadi kota, patung ini pun tetap setia menunggu kekasihnya membawa kepala iblis sebagai kado pernikahan. Meskipun pada kenyataannnya iblis tidak akan pernah mati, kecuali bumi ini sudah hancur.

Orang-orang dengan berbeda generasi pun berseliweran di tempat ini, dan membicarakan patung yang berada di pertigaan sebuah desa.  Namun sampai 200 tahun kemudian, kekasihnya tak kunjung datang.

Patung itu terus menatap ke arah barat, dan berharap kekasihnya datang ketika senja. Kesetiaanya masih terus berlanjut sampai waktu yang tak ada batasnya.

Pentas ini dipertunjukan oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2011 di Auditorium A, Fakultas Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia, Kamis ( 10/5).

Drama ini merupakan alih wahana dari cerpen Seno Gumira Ajidarma  dengan judul Patung yang disutradarai oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, F. Ujo Jauharudin. Drama ini merupakan jenis drama Surealis. Muhammad Patoni, penonton teater tersebut mengatakan bahwa kata-kata dalam teater ini sangat romantis dan sangat menarik.” Apalagi akhir cerita dari teater ini, sangat mengejutkan,” ujar Patoni.  [Julia Hartini]

Comments

comments