Penyebab Plagiat, UPI Tak Miliki Standar Pengutipan

17

Euis Rosinar saat menyampaikan sosialisasi anti Plagiarisme di Auditorium Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Jum’at (11/5).

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

 

“Selama ini, UPI belum punya standar untuk mensitasi, tak memiliki panduan cara mengutip.” Demikian dikatakan Kepala Divisi Pelayanan Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Euis Rosinar,  saat Sosialisasi Anti Plagiarisme di Auditorium Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Jum’at (11/5).

Dihadapan para mahasiswa FPIPS, sosok yang biasa dipanggil Nana ini menyatakan bahwa penyebab munculnya kasus plagiarisme di UPI salah satunya disebabkan oleh tak adanya standar dalam pengutipan karya ilmiah.

Pasalnya, kata Nana, kebanyakan yang diduga plagiat itu karena salah pengutipan atau tak mencantumkan sumber. “Kami menginginkan, UPI memiliki standar gaya selingkung,” ujarnya.

Pentingnya ada standar cara mengutip, kata Nana, Ia sering sekali menemukan Tesis atau bahkan Disertasi mahasiswa yang berbeda-beda pada saat mengutip sumber referensi. “Lihat Disertasi, cara mensitasinya berbeda-beda, lha? Masa iya, padahal mestinya harus konsisten,” ujarnya heran.

Plagiarisme Dampak Consumer Mentality

Nana mengungkapkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan maraknya kasus plagiarisme, salah satunya ialah karena terlalu berorientasi pada skor. “Hanya melihat achievement (prestasi) saja, tidak melihat pada effort (proses)-nya,” ujar Nana. Menurut Nana, hal ini menandakan akademisi masih memiliki consumer mentality (mentalitas pemakai).

Maraknya aksi plagiarisme yang dilakukan pendidik, Nana menyitir ungkapan seorang profesor, salah satunya disebabkan karena para profesor terlalu sibuk. “Akhirnya menyuruh mahasiswa untuk penelitian, lalu di klaim sebagai karyanya sendiri,” ungkap Nana. “Juga karena gaji yang tidak memadai, akhirnya berlomba-lomba jadi guru besar karena tergiur tunjangan yang hampir 15 juta per bulan,” tambahnya.

Padahal, menurut Nana, haram hukumnya bagi seorang pendidik atau akademisi jika melakukan plagiat, baik itu sengaja atau tidak. “Mestinya, gembar-gembor koruptor itu sama dengan plagiator,” ucapnya. “Jika koruptor sama dengan hukuman mati, kalau plagiator, sama dengan…,” katanya tak melanjutkan, lalu disambut tawa hadirin.

Namun, kata Nana, hingga saat ini hukuman bagi plagiator masih tergantung pada kepala dari Institusinya. “Yang jelas, hukumannya harus menimbulkan efek jera, tapi kenyataannya apakah menimbulkan efek jera?,” sindirnya.

Berbagai penyebab aksi plagiarisme di kalangan mahasiswa, dosen dan bahkan guru besar dinilai Nana perlu segera mendapatkan perhatian serius dari UPI. Pasalnya, ini menyangkut juga dengan citra dari Institusi. “Plagiator sama dengan Koruptor, sama-sama mencuri,” katanya. [Isman R Yoezron]

 

Comments

comments