Representasikan Konflik, Mahasiswa Seni Rupa UPI Gelar Pameran Tunggal

316
Dimas Satria Putra berfoto di depan karya seninya, pada Pameran Tunggal miliknya, Jumat (19/02), di Temporal Platform, Jl. Wira Angun-Angun No 4 B. Dimas yang merupakan mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Rupa UPI memamerkan 12 karya tunggalnya yang merepresentasikan konflik. Menurutnya, konflik merupakan masalah yang tidak hanya terjadi pada perang, namun saat ini masih berlangsung dan menyebabkan banyak dampak negatif.
Dimas Satria Putera berfoto di depan karya seninya, pada Pameran Tunggal miliknya, Jumat (19/02), di Temporal Platform, Jl. Wira Angun-Angun No 4 B. Dimas yang merupakan mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Rupa UPI memamerkan 12 karya tunggalnya yang merepresentasikan konflik. Menurutnya, konflik merupakan masalah yang tidak hanya terjadi pada perang, namun saat ini masih berlangsung dan menyebabkan banyak dampak negatif.

Oleh : Irma K dan Fathan Ismail

Bandung, isolapos.comDi tangan Dimas Satria Putera, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), objek-objek perang dan konflik direpresentasikan menjadi karya seni rupa beraliran ekspresionis yang abstrak. Dengan menampilkan 12 karya lukis berteknik stensil dalam pameran tunggalnya, Dimas menyampaikan pandangan kritisnya bahwa konflik merupakan masalah yang tidak hanya terjadi pada perang, namun saat ini masih berlangsung dan menyebabkan banyak dampak negatif.

“Masih belum ngerasa bisa mengubah mindset seseorang untuk berhenti melakukan atau berhenti bertindak secara brutal terhadap orang-orang lemah. Tapi setidaknya saya merepresentasi,” ujar Dimas, saat ditermui isolapos.com, pada pameran tunggalnya, Jumat (19/2), di Temporal Platform, Jl. Wira Angun-Angun No 4 B.

Di samping mengangkat pesan sosial terhadap permasalahan konflik yang terjadi, pameran yang berlangsung mulai tanggal 12 hingga 19 Februari 2016 tersebut, juga menekankan bentuk kebebasan dalam berkarya, terutama karya lukis. Adapun selain karya lukis yang didominasi warna hitam, pameran tersebut menampilkan pula karya seni tiga dimensi hasil kolaborasinya dengan Taufik Fathurahman, yang juga mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI, serta t-shirt yang diproduksi dalam rangka kerja samanya dengan Distro Maternal Disaster.

Karya-karya lukis seniman kelahiran Bogor ini sebelumnya pernah dipamerkan di beberapa tempat, seperti Bogor, pameran internasional Djamoe 5 FPSD UPI, Bali, dan pameran lainnya baik secara resmi maupun mengokupasi ruang publik. Terkait hal tersebut, Dimas yang juga menggunakan teknik splatter dan brush dalam lukisan-lukisannya mengungkapkan, pameran yang dikuratori oleh Dannus Darmawan ini merupakan pameran tunggal pertamanya yang cukup memuaskan. “Beda kalo tunggal kita menampilkan tidak hanya satu atau dua karya tapi kan mungkin sepuluh atau beberapa karya dan itu karya-karya tunggal,” ungkapnya seraya menyatakan terima kasih kepada kuratornya dan beberapa orang yang terlibat.

Tidak hanya menikmati karya seni, dalam pameran tersebut pengunjung juga dapat menikmati sebuah bacaan berbentuk zine hasil tulisan Dimas dan beberapa penulis kontributor. Terakhir, seniman yang mengidolakan pelukis Anselm Kiefer dan Picasso tersebut berpesan, dalam berkarya tidak perlu dipusingkan dengan konsep yang rumit.  “‘Mending jadi diri sendiri, liat kemampuan kita di mana, belajar terus, jangan melupakan proses,” ujar mahasiswa tingkat akhir yang juga tengah berkutat dengan penyusunan tugas akhirnya itu.

Comments

comments