Dua Garis Biru: Film yang Berani Melawan Arus

245

Oleh: Muhamad Abdul Azis

Telah banyak film-film Indonesia yang mengangkat cerita mengenai asmara remaja SMA, termasuk film Dua Garis Biru yang berangkat dari cerita yang telah umum ini. Terutama mengisahkan dua pasang remaja dengan latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda dan hasil ujian yang timpang.

Menarik jika memperhatikan fenomena asmara remaja di Indonesia sekarang ini, kita harus akui banyak sekali kejadian yang membuat seorang pelajar dikeluarkan dari sekolah karena hamil diluar nikah atau biasa dikenal married by accident. Seperti data yang dikutip dari suara.com, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty mengungkapkan, angka kehamilan di kalangan  remaja Indonesia cukup tinggi, yakni 48 dari 1000 remaja.

Maka menarik ketika Gina S. Noer sutradara dan penulis film ini untuk memberikan pengenalan resiko akibat sex diluar nikah. Bima yang diperankan oleh Angga Aldi Yunanda dan Dara yang diperankan oleh Adhisty Zara, menjadi pasangan remaja yang berpacaran di film ini. Sejoli itu diceritakan berhubungan sex dan mereka harus merasakan dampak dari hubungan itu.

Konflik film dimulai ketika Dara merasakan mual dan hasil tes alat pendeteksi kehamilan menunjukan positif dengan tanda dua garis biru, upaya aborsi hampir dilakukan tapi kemudian mereka berkomitmen untuk menjaga kerahasiaan tubuh Dara.

Hingga akhirnya pihak sekolah dan keluarga mengetahui, disinilah penonton khususnya khalayak yang diusia Bima dan Dara mesti belajar dari konflik-konflik di film ini. Lingkungan keluarga Bima yang hidup di pemukiman padat penduduk dan dibantaran sungai menjadi latar belakang serta dengan keanekaragaman tetangga Bima yang telah berkeluarga ditonjolkan dengan konflik-konflik keluarga yang biasa terjadi.

Keluarga Bima harus menanggung aib karena perlahan desas-desus itu menjadi trending topic utama di wilayah tersebut, hingga Dara kembali ke rumahnya yang nyaman dengan hiasan kamar poster-poster “suami” Dara yang tidak lain adalah boyband k-pop favorit remaja putri di usia Dara. Juga obsesi untuk pergi ke Negeri Ginseng yang telah lama mengobsesi Dara perlahan mulai hilang akibat kehamilannya.

Jalan kekeluargaan ditempuh yaitu Bima dan Dara dinikahkan. Tapi ternyata menikah tidak menyelesaikan apapun! Bima kini menjadi suami yang tidak hanya bertanggungjawab secara moril tapi juga materil, sebuah pembelajaran yang sangat penting bagi remaja putra yang masih memiliki ego tinggi apalagi jika sudah menatap gawai dan bermain game online.

Ketidaksiapan Dara dan Bima menjadi orangtua membuat konflik yang menarik di film ini “Menjadi orangtua itu bukan hanya sembilan bulan, tapi seumur hidup!” ungkap ibu Dara yang sangat memahami hal ini, sehingga menawarkan agar cucunya untuk diadopsi oleh saudara Dara yang tak kunjung memiliki keturunan.

Penyuluhan yang diberikan orangtua Dara dan Bima menjadi energi positif, juga memberikan pemahaman bahwa peranan orang tua sangatlah penting untuk membentengi remaja ditengah pergaulan bebas. Karena sebaik-baiknya teman untuk bercerita atau sekadar berkeluhkesah sebetulnya kedua orangtua, bukan pacar kita. Hal ini perlu betul-betul ditangkap orangtua dalam film ini.

Film ini pun menceritakan resiko kehamilan secara fisik, karena Dara yang baru berusia 17 tahun harus menanggung kehamilan yang beresiko kematian terhadapnya. Jadi, jika film ini disebut sebagai sarana sex education bagi saya itu salah. Film ini adalah paket komplit dan cocok disebut sebagai parenting education, lebih dari itu Gina S. Noer sangatlah berani untuk mengangkat masalah ini di tengah masyarakat yang masih tabu akan hal itu.

Banyak pihak yang kontra dengan film ini karena dianggap mengkampanyekan sex di luar nikah dan melegalkan pacaran. Penolakan yang digaungkan baik langsung maupun daring perlu diterima untuk menjadikan media perdebatan yang lebih bermutu dan bermakna, juga baik dalam menyelesaikan masalah sex di luar nikah dan hamil pra nikah.

Diluar isi film, kemahiran aktor muda Angga Aldi Yunanda perlu diapresiasi dan kecocokannya beradu peran dengan Adhisty Zara yang sebetulnya berlatar belakang penyanyi grup JKT48 itu begitu baik. Dibumbui humor receh membuat film yang serius ini begitu terasa ringan untuk dinikmati bersama orangtua dan mungkin calon pasangan. []

Redaktur: Aulia Rachma Febriani

Comments

comments