Aksi Tolak UU Omnibus Law di Bandung Kembali Ricuh

101

Oleh:  Salsabilla Ramadhanty Surachman dan Muhammad Ihsan Fajar Sayyid Muharram

Bandung, Isolapos.com—Pada Senin lalu (05/10), DPR RI Mengesahkan RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang secara resmi.Undang-undang ini dinilai tidak pro terhadap buruh dan masyarakat menengah kebawah. Tetapi malah menguntungkan investor-investor asing. Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya serangkaian aksi penolakan UU tersebut, dari tanggal 6-8 Oktober 2020.

Aksi menolak Undang-undang Cipta Kerja atau Onmibus Law yang dilaksanakan di depan gedung DPRD Jawa Barat pada Kamis (8/10) diakhiri dengan kericuhan. Aksi yang merupakan lanjutan dari demonstrasi pada tanggal 6 dan 7 Oktober lalu, diikuti oleh sejumlah elemen buruh dan mahasiswa dari beberapa Universitas di Bandung, Jawa Barat.

Kronologi Aksi

Diketahui sekitar pukul 10.00 daerah Gedung Sate dan DPRD Jawa Barat sudah dipenuhi oleh massa aksi. Aksi menolak UU Omnibus Law diikuti oleh sejumlah elemen buruh dan mahasiswa yang berorasi sembari memampangkan flyer propaganda di depan gedung DPRD Jawa Barat.

Sekitar pukul 14.20 massa aksi yang kemudian diketahui adalah Forum Mahasiswa Indonesia (FMI) bergerak dari Tugu Toga dekat kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) untuk melakukan long march menuju DPRD.

Sekitar pukul 15.20 massa aksi sudah mencapai samping Jembatan Pasupati, bersiap belok ke arah Jalan Diponegoro. Dari arah yang berlawanan terdapat massa aksi dari Poros Revolusi Mahasiswa Bandung (PRMB).

Menyusuri jalan Diponegoro, kedua kelompok massa aksi bergabung. Namun menurut keterangan Galih, salah satu anggota aksi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), depan gedung DPRD sudah dipenuhi oleh kelompok massa aksi lain. Karena itu, massa FMI memilih untuk memblokade perempatan jalan di Dukomsel untuk menghambat jalur-jalur ekonomi. Sedangkan massa PRMB bergerak lanjut ke gedung DPRD.

Pada pukul 16.15, depan gedung DPRD Jawa Barat dipenuhi oleh massa aksi dari berbagai elemen. Termasuk massa aksi dari komunitas motor Exalt To Coitus (XTC) yang terlihat memasuki barisan ke depan gedung DPRD. Aksi masih terlihat aman dan kondusif.

Hingga pada pukul 18.12, Aksi yang bermula hanya penyampaian orasi serta pemasangan flyer propaganda, berubah ricuh ketika sekelompok demonstran berusaha memasuki pagar kantor DPRD Jawa Barat. Beberapa kelompok massa aksi berlarian menghindari semprotan water cannon serta menghindari aparat yang menembaki gas air mata.

Represifitas yang Ditemukan Selama Aksi

Menurut siaran langsung dari akun instagram @suaramahasiswadotinfo, belasan tim Prabu menyisir titik aksi dari Taman Pranatayuda, hingga memasuki daerah kampus UNISBA. Beberapa satpam kampus UNISBA terkonfirmasi menjadi korban represifitas aparat kepolisian. Kaca gedung kemahasiswaan UNISBA dikabarkan pecah akibat ditembaki gas air mata. Tidak hanya itu, salah satu massa aksi menemukan selongsong peluru laras panjang disekitar Jalan Tamansari, tepat di depan gedung Fakultas Kedokteran UNISBA.

Mahasiswa tim paramedis yang bertolak di UNISBA, mencatat ada ratusan korban luka akibat insiden tersebut. Massa aksi yang menjadi korban tertahan di dalam kampus hingga pukul 10 malam. Berdasarkan keterangan yang kami dapat dari hasil penyisiran pihak kepolisian, terdapat sebanyak 87 orang yang ditangkap pada aksi tersebut dan telah dicatat oleh Tim Advokasi Jabar.[]

 

Redaktur: Aulia Rachma Febriani

Comments

comments