Menilik Kehidupan Anak Jalanan Melalui Film

183

Oleh: Amelia Wulandari dan Haura Nurbani

Bumi Siliwangi, Isolapos.comDalam rangka 50 tahun Christine Hakim berkarya, The Journey of Christine Hakim bekerja sama dengan Program Studi Film dan Televisi (FTV) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film “Daun di Atas Bantal”. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Jumat (08/12) di Auditorium Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Lantai 4 UPI. 

Film “Daun di Atas Bantal” merupakan film tahun 1998 yang diproduseri Christine Hakim dan disutradarai oleh Garin Nugroho. Film berdurasi 83 menit ini berisi kisah tentang tiga orang anak jalanan, yaitu Kancil, Sugeng, dan Heru. Mereka berjuang bertahan hidup. Walaupun hidupnya penuh tantangan, mereka memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan.

Dalam film disebutkan, “Daun di Atas Bantal” merupakan adaptasi dari kisah nyata anak jalanan di Indonesia. Selain itu, pemeran anak jalanan dalam film tersebut diperankan oleh anak-anak jalanan di sekitar lokasi kejadian. Film ini didedikasikan untuk anak-anak jalanan yang menjadi korban mafia asuransi di Indonesia serta anak-anak jalanan korban kekerasan dan ketidakadilan di seluruh dunia. 

This is based on true story. Kemudian, anak-anak yang main itu semua anak jalanan,” ujar Christine Hakim pada saat sesi diskusi.

Dalam sesi diskusi, Christine menceritakan alasan pembuatan film ini. Ia merasa ditampar setelah menonton film dokumenter garapan Garin Nugroho yang berjudul “Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan” yang juga mengangkat isu anak jalanan. 

“Jujur saja, ibu sebagai perempuan Indonesia merasa seperti ditampar. Hah, masa negeri yang berdasarkan Pancasila Ketuhanan Maha Esa nomor satu ada kehidupan anak jalanan seperti itu, dan kita diam-diam saja, biasa-biasa saja, atau mungkin kita tidak tahu seperti ibu saat itu,” jelas Christine. 

Terlebih, selama ini ia berpikir permasalahan tentang anak jalanan ini hanya terjadi di negara lain seperti negara bagian India, Filipina, maupun Thailand. Oleh sebab itu, setelah ia memiliki rumah produksi (production house), ia meminta Garin untuk membuat film dengan anak jalanan.

Christine mengungkapkan, Garin sempat kaget dan khawatir tentang rencana film yang ingin Christine angkat. Sebelumnya, “Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan” karya Garin untuk memperingati 50 Tahun Indonesia dilarang tayang karena membicarakan keburukan Indonesia. “Udah, ngga usah khawatir saya bilang. Itu urusan produser, urusan perizinan,” ucapnya. 

Tak sampai di situ, Christine juga mencoba presale film ini ke art cinema di Tokyo. Namun, pihak perusahaan tersebut memberi syarat, filmnya akan dibeli jika Christine Hakim mau turut serta menjadi pemain. Christine akhirnya menyetujui karena ia ingin sekali mengangkat cerita anak jalanan ini. “Jadi, terpaksa harus main walaupun dengan berat hati, tapi waktu itu adalah sebetulnya misinya bahwa, apa ya, masih banyak manusia Indonesia yang seperti ibu, yang tidak percaya ada kehidupan seperti itu,” pungkasnya. 

Melalui film “Daun di Atas Bantal”, Christine ingin memberi tahu masyarakat bahwa di Indonesia ada permasalahan tentang anak jalanan. Selain itu, ia juga berharap film ini ini bisa menjadi masukan bagi pemerintah untuk memperhatikan masalah yang terjadi di Indonesia. “Jadi, misinya adalah membuat film, tapi juga bisa meningkatkan awareness masyarakat tentang permasalahan-permasalahan yang ada di negeri ini,” ucap Christine Hakim.

Syifa, salah satu peserta acara dari prodi FTV memberikan tanggapannya tentang film ini. Menurutnya, film “Daun di Atas Bantal” membuat kita lebih sadar dengan kehidupan anak-anak jalanan. “Ya lebih aware aja, sih, rasanya, gitu, ada kehidupan lain selain kita, gitu,” ungkapnya.[]

Redaktur : Harven Kawatu

Comments

comments