Perempuan dan Pendidikan

82

Penulis: Wulan Nur Khofifah

*) Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi 2020

Sebagai seorang perempuan yang lahir dan tinggal di Indonesia, saya tidak bisa menafikan bahwa perempuan memang kerap kali dianggap sebagai orang kedua setelah laki-laki. Baik itu soal pendidikan maupun dalam hal lain.

Di Tanah Arab, sebelum diutusnya Rasulullah SAW. Wanita dianggap sebagai makhluk yang rendah, bahkan kelahiran seorang anak perempuan merupakan malapetaka bagi sang Ayah. Pada masa itu, perempuan tidak memiliki hak waris, laki-laki boleh menikah dengan banyak wanita tanpa batas, anak bisa menjual ibunya untuk membayar utang, ayah bisa menjual anak perempuanya untuk jaminan. Belum lagi perbudakan yang marak saat itu.

Di Negeri Yunani, wanita dianggap sebagai sumber musibah. Wanita diperbolehkan untuk melacur, bahkan bila seorang wanita mau melacur, hal itu dianggap terhormat. Kedudukan wanita tidak lebih dari melacur, mengurus rumah, dan mengasuh anak. 

Di Romawi, mereka memiliki budaya mempertontonkan wanita dalam kontes yang disebut ‘Fakuaro’. Seorang wanita yang sudah menikah berada dibawah penguasaan suaminya, bahkan jika seorang suami meninggal, semua anak laki-lakinya berhak atas ibunya. 

Di India, perempuan tidak memiliki hak waris, kedudukan suami sangat mulia bahkan dianggap sepert Tuhan. Wanita hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu seks semata. Bahkan jika seorang suami meninggal, maka sang istri harus ikut mati bersama suaminya.

Bagaimana dengan di Indonesia? 

Saat itu, perempuan Indonesia tidak diberi hak untuk menuntut ilmu. Hidupnya hanya seputar kasur, dapur, dan sumur. Ketiga kalimat diatas terdengar kasar, namun ada yang lebih kasar lagi yaitu, pemuas nafsu seks suaminya, pengasuh anak, dan pelayan rumah.

Saat itu, wanita tidak diberikan hak untuk bersekolah. Bagi seorang anak perempuan, hal yang utama adalah pandai memasak dan mengurus rumah. Sedangkan laki-laki boleh bersekolah dan menuntut Ilmu. Dalam hal ini pantas saja secara keilmuan laki-laki diatas perempuan. Sekolah saja tidak boleh. Bagaimana bisa memiliki kecakapan?. Pertanyaan besar selanjutnya. Perempuan itu bodoh? Atau dibodohkan? 

Dalam rumah tangga, suami dianggap superior karena selalu pulang membawa uang. Seolah suami adalah sumber penghidupan bagi keluarganya. Sedangkan wanita adalah makhluk yang hanya bisa menghabiskan uang suami. Makhluk yang tidak mampu mencari uang sendiri. 

Adapun wanita karir yang memiliki kemampuan mencari uang tetap saja harus melayani suami dan anak-anaknya. Pekerjaan rumah tetap dibebankan padannya. Alangkah beratnya menjadi seorang wanita.

Dalam artikel “R.A Kartini: Emansipator Indonesia Awal Abad 20” yang ditulis Hartutik di Jurnal Seumebok Lada Vol.2, Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini merupakan anak seorang Bupati Jepara yang terkenal dengan kemampuannya berbahasa Belanda. Kemahirannya itu lalu ia wariskan kepada Kartini sehingga Kartini mampu membaca buku-buku berbahasa Belanda. Melalui bacaannya itulah Kartini mendapat pemikiran ala barat.

Sebagai anak seorang Bupati, Kartini memiliki kesempatan untuk bersekolah. Hal ini sudah sangat lumayan jika dibandingkan dengan perempuan pada umumnya kala itu. Namun sayang Kartini tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke tingkat Pendidikan yang lebih tinggi lagi karena orang tuanya menentang hal tersebut. 

Berkat pendidikan, Kartini bisa menjadi wanita yang memiliki empati dan pemikiran luas. Berkali-kali Kartini mendapat kesempatan untuk bersekolah seperti sekolah kedokteran. Namun hal itu tetap ditentang orang tuanya. 

Menginjak usia 24 tahun Kartini terpaksa menikah. Meski tidak memiliki pilihan lain, ternyata Kartini memiliki kecerdasan yang tinggi. Ia mengajukan beberapa syarat yang salah satunya adalah Ia ingin dibuatkan sebuah sekolah dan tidak ingin dilarang untuk mencerdaskan perempuan-perempuan Hindia Belanda kala itu.

Keinginan Kartini disambut baik sang suami. Berdirilah sekolah yang diberi nama “Sekolah Kartini”.

R.A Kartini adalah salah satu dari sekian banyak pahlawan wanita yang berjuang membela hak-hak masyarakat Hindia Belanda, terutama kaum Perempuan. 

Ada banyak pahlawan wanita lainnya seperti Cut Meutia, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Kemala Hayati dan Ibunda para pahlawan Nasional. Tanpa mereka tidak akan lahir para tokoh bangsa.

Oke, cukup sekian pembahasan mengenai perempuan dan R.A Kartini. Tidak banyak karena saya bukan mahasiswa sejarah dan ini pun bukan tulisan tentang sejarah.

Saya hanya ingin berbicara tentang perempuan dan kedudukannya di mata masyarakat. Betapa perempuan dianggap manusia yang tidak terlalu pintar dan mudah disetir.

Saya rasa, perempuan bukan makhluk yang mudah disetir, melainkan makhluk yang kehilangan kesempatan belajar sehingga ia sulit keluar dari belenggu.

Andai saja perempuan diberi hak untuk mendapat pendidikan dan menjadi pintar. Ia pasti bisa melawan. Perempuan bukan makhluk yang bodoh. Ia dibodohkan dengan segala aturan yang dibuat-buat.

Cerdas bukan hanya milik laki-laki!

Kaya bukan hanya milik laki-laki!

Kebebasan bukan hanya milik laki-laki!

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis yang bersangkutan

Comments

comments