“Tuhan, kalau cintaku kepada Shinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaan ini di dalam sukmaku?”
–Rahwana.
Oleh: Agis Muhamad Ghiyasah*
Ramayana yang merupakan epos besar berasal dari India berkisahkan tentang perjalanan Rama menyelamatkan istrinya, Shinta. Rama harus melawan Rahwana. Penguasa Alengka yang menculik istrinya dengan motif Cinta. Selain pewayangan, Relief pada salah satu candi terbesar di Nusantara menghidupkan kisahnya di sekeliling dinding batunya. Selain itu, Candi ini tidak hanya menampilkan kisah Romantic Legend dengan sentuhan budaya Jawa yang kental pada reliefnya, tapi juga menyimpan bukti-bukti betapa besarnya peradaban Nusantara pada masa dahulu.
Prambanan: Jejak Kejayaan Mataram Kuno
Tepat di tengah lalu lintas wisata. Berdiri kompleks Candi Prambanan sebagai salah satu warisan terbesar sejarah Indonesia. Selain dengan megahnya arsitektur candi, Prambanan juga menyimpan cerita tentang agama, politik, budaya, hingga teknologi bangunan pada masa Kuno.
Kompleks Candi Prambanan dibangun sekitar tahun 856 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti kuno, candi ini dikenal dengan nama Siwagrha atau “rumah suci Dewa Siwa”. Kompleksnya berada di wilayah perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan luas sekitar 86 hektar.
Struktur Prambanan dibagi menjadi tiga tingkatan utama. Bagian kaki disebut Bhurloka yang melambangkan dunia manusia. Bagian tubuh disebut Bhuvarloka sebagai alam perantara, sedangkan bagian atas atau Swarloka melambangkan alam para dewa. Yang menarik, pembangunan candi dilakukan tanpa semen atau mortar. Batu-batu andesit disusun menggunakan sistem saling mengunci seperti puzzle raksasa. Prambanan dikenal sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Tiga candi utama di bagian inti mewakili Trimurti dalam kepercayaan Hindu, yakni Dewa Siwa sebagai penghancur dan pelebur, Dewa Brahma sebagai pencipta, serta Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta. Candi Siwa menjadi bangunan terbesar dengan tinggi sekitar 47 meter.
Arsitektur yang Sarat Makna
Setiap batu dibentuk menjadi pengait tertentu sehingga dapat menopang struktur secara kuat. Teknik ini membuktikan keterampilan arsitektur masyarakat Jawa Kuno yang sangat maju pada masanya. Bahan utama bangunan berasal dari batu andesit yang banyak ditemukan di sekitar Gunung Merapi. Bahkan hingga sekarang, sebagian besar struktur asli masih dipertahankan. UNESCO menetapkan minimal 55 persen batu asli harus tetap ada agar sebuah candi dapat dianggap autentik, sementara sebagian besar bangunan Prambanan masih memiliki sekitar 85 persen batu asli.
Relief Ramayana dan Legenda Rara Jonggrang
Di salah satu dinding Prambanan ada relief yang menceritakan kisah epik Ramayana. Relief tersebut dibaca dengan berjalan searah jarum jam mengelilingi candi. Cerita tentang Rama, Sinta, Hanoman, hingga Rahwana dipahat dengan detail yang masih bisa dinikmati hingga sekarang. Relief-relief itu bukan hanya karya seni, tetapi juga media pendidikan dan penyebaran nilai moral pada masa lampau.
Selain kisah Ramayana, legenda Rara Jonggrang juga sangat melekat dengan Prambanan. Tokoh Rara Jonggrang sering dikaitkan dengan arca Dewi Durga di dalam Candi Siwa. Meski legenda tersebut berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, keberadaannya menunjukkan bagaimana sejarah dan mitos saling bertemu dalam budaya Nusantara.
Pernah Runtuh, Lalu Dipugar Kembali
Prambanan sempat mengalami kerusakan besar akibat gempa bumi, letusan gunung, serta faktor usia bangunan. Pemugaran besar pertama terhadap Candi Siwa selesai dilakukan pada tahun 1953. Hingga kini, proses restorasi masih terus berlangsung pada banyak bagian kompleks candi. Dari sekitar 240 candi pendukung, baru sebagian yang berhasil dipugar sepenuhnya.
Teknik pelestarian modern juga diterapkan untuk menjaga kekuatan bangunan. Retakan batu diisi menggunakan cairan khusus berbahan kapur dan pasir halus agar struktur tetap stabil dan tahan gempa. Beberapa bagian tertentu diperkuat dengan beton bertulang dan pin logam khusus untuk menjaga posisi batu agar tidak bergeser.
Pelestarian ini penting karena Prambanan telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO. Pengunjung pun diingatkan untuk tidak mencoret, memindahkan batu, atau naik ke area tertentu demi menjaga keberlangsungan situs sejarah tersebut.
Warisan Budaya yang Masih Hidup
Prambanan bukan sekadar bangunan kuno untuk latar foto bagi wisatawan. Kompleks ini masih digunakan dalam berbagai kegiatan budaya dan ritual keagamaan. Beberapa upacara tradisional rutin dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah secara bergantian. Hal ini menunjukkan bahwa Prambanan adalah peninggalan masa lalu yang masih menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat masa kini. Keberadaan Prambanan menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar hafalan tahun dan nama kerajaan. Sejarah adalah jejak bagaimana manusia membangun makna, identitas, dan peradaban. Dan kadang, jejak itu mampu bertahan lebih lama daripada janji pembangunan lima tahunan.
“Prambanan itu bukan cuma tumpukan batu tua. Di setiap relief dan susunan candinya ada cara berpikir masyarakat Jawa kuno tentang kehidupan, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan alam maupun Tuhan.”
-Nono, tour guide di kawasan Candi Prambanan.
Lebih dari sekadar bangunan batu peninggalan masa lalu, Prambanan menjadi simbol perjumpaan budaya, spiritualitas, dan pengetahuan masyarakat Nusantara. Hingga hari ini, candi tersebut tetap hidup melalui pelestarian, ritual budaya, dan keterlibatan masyarakat lintas wilayah. Seperti tercermin dalam salah satu catatan mengenai tradisi di kawasan Prambanan, “Rotasi ini memastikan partisipasi seimbang antara kedua wilayah dan menegaskan posisi geografis Prambanan sebagai titik temu budaya.” Dengan demikian, Prambanan bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga ruang yang terus menjaga hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia.
Referensi
Prasetya, R. (2021). JEJAK PERADABAN KERAJAAN HINDU JAWA 1042-1527 M Sejarah Kejayaan dan Keruntuhan Mataram Kuno hingga Majapahit (Vol. 21). Araska Publisher.
Riyani, M. R. (2015). Local genius masyarakat Jawa kuno dalam relief Candi Prambanan. SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan, 2(1), 9-20.
Herwindo, R. P. (2010). Candi Prambanan dan Candi Sewu dalam perspektif arsitektur.
Riyanto, S. (2007). Candi Prambanan: Pengelolaan dan Potensi Persoalannya. Berkala Arkeologi, 27(2), 66-80.
Kisah Ramayana di Dinding Candi Prambanan
Adaptasi Epos India ke Pewayangan Jawa: Sejarah, Tokoh, dan Nilai Budaya
*Penulis merupakan mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UPI
Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan