Manusia VS AI: Bagaimana Kita Memanfaatkan AI dengan Bijak?
Oleh: Silvy R. A., M. Nashruddin A. S., Lasyarikalla, & Elga H.N
Bumi Siliwangi, Isolapos.com – Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membantu masyarakat dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari, khususnya bagi kalangan akademisi seperti mahasiswa dan dosen. Isu yang menjadi perbincangan di antara para mahasiswa karena diharuskan untuk beradaptasi dengan teknologi dan tetap mempertahankan integritas akademik, khususnya bagi mahasiswa UPI yang memiliki batasan-batasan terkait penggunaan AI, ini menjadi bukti bahwa AI sudah menjadi bagian dari pendidikan itu sendiri. Dilansir dari GoodStats, Indonesia menempati urutan pertama penggunaan AI yang didominasi oleh mahasiswa, yakni sekitar 95 persen pada tahun 2025. Dengan tingginya angka tersebut, AI bukan lagi teknologi baru, melainkan alat yang secara umum membantu mereka mengerjakan tugas. Namun, perkembangan AI yang semakin pesat juga memunculkan sejumlah kekhawatiran. Mulai dari persoalan plagiarisme hingga batas yang semakin kabur antara AI sebagai alat bantu dan sebagai pembuat karya.
Tim Isola Pos berkesempatan berbincang mengenai penggunaan AI di kalangan mahasiswa bersama Jatmika Nurhadi, Dosen Linguistik Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Rabu (01/06). Berikut petikan bincang Tim Isolapos bersama Jatmika:
Bagaimana AI Mengubah Gaya Belajar dan Kemampuan Menulis Mahasiswa?
Tentu ada perbedaan antara gaya belajar mahasiswa sebelum dan setelah berkembangnya AI. Sebelum berkembangnya AI berbasis Large Language Model (LLM), kemampuan menulis mahasiswa sangat bergantung pada pemahaman dan keterampilan menulis yang dimiliki masing-masing individu. Kini, dengan adanya AI, paradigma belajar dan mengerjakan tugas telah berubah. Mahasiswa menjadi lebih mudah memperoleh informasi dan menyusun tulisan. Namun, perubahan tersebut juga menyebabkan karakter atau “sidik jari” tulisan setiap orang mulai berkurang karena tulisan yang dihasilkan AI cenderung memiliki pola yang serupa. Pada akhirnya, manfaat AI tetap bergantung pada literasi digital dan kualitas pemahaman masing-masing mahasiswa. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya memengaruhi proses belajar di lingkungan akademik, tetapi juga telah menjadi bagian dari berbagai aktivitas masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk memahami sejauh mana penggunaan AI telah berkembang serta berbagai kelebihan dan kekurangan yang menyertainya.
Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan dari Berkembangnya AI?
AI yang sudah sangat umum terjadi dan penggunaannya yang kian masif, khususnya di lingkungan akademik. Dahulu penggunaan Google saja sempat dilarang, kemudian menjadi hal yang wajar. Hal serupa terjadi pada AI. Saat ini mahasiswa perlu menguasainya agar tidak tertinggal perkembangan teknologi.
Kelebihan AI adalah mampu meningkatkan efisiensi pekerjaan, membantu menyusun tulisan, mengolah informasi, hingga mendukung proses pembelajaran melalui berbagai media seperti podcast atau video penjelasan. Namun, kekurangannya adalah muncul potensi ketergantungan, hilangnya karakter tulisan individu, serta menurunnya kemampuan berpikir kritis dan menulis apabila AI digunakan tanpa diimbangi dengan kemampuan dasar.
Mengapa Bahasa Yang Dihasilkan AI Cenderung Sangat Baku?
Kalau AI kan ada data latih dari berbagai sumber. Kalau misalnya memintanya dengan kalimat akademik, maka AI bisa menggunakan kata-kata akademik. Sebenarnya AI sudah ada sejak tahun 1950-an, hanya saja yang versi LLM itu baru berkembang di tahun 2022. Sebelum LLM ada, tulisannya tidak terlalu bagus, kecuali pengalaman menulisnya sudah banyak. Yang hilang itu karakter pribadi tulisannya atau “sidik jari” digitalnya. Ketika era LLM berkembang, mahasiswa jadi jago dalam menulis, tapi terlihat predictable—dapat diprediksi kalau tulisannya bukan gayanya. Yang selalu saya tekankan itu adalah idenya. Idenya jangan semuanya dari AI.
Bagaimana Batasan Bagi Mahasiswa Agar Tugas berbasis AI dapat Teruji Kualitasnya?
Sisi menulis dan berpikir kritis dengan pemanfaatan AI, keduanya harus berkesinambungan. AI bisa jadi teman diskusi. Jadi, kita harus tahu alur menulisnya seperti apa. AI hanya sebatas menjadi alat bantu saja. Kalau kemampuan dasar (basic) AI-nya ga ada, tapi sudah ada AI, yang ada tulisannya kurang. Itu terlihat ketika sidang skripsi sehingga pas presentasi kosong. Tapi, kalau penggunanya sudah menguasai AI, maka ketika sidang skripsi, mau ada tes, dia bisa menjawabnya.
Jika secara rigidnya, yang penting itu integritas. Integritas dalam konteks penulisan ilmiah;
(1) datanya dibuat, dianalisis oleh yang bersangkutan, bukan dianalisis oleh AI
(2) sumber datanya berasal dari ide yang bersangkutan.
Apakah Kesamaan Pola Tulisan AI Berisiko Menumpulkan Kemampuan Menulis Mahasiswa?
Sebelum menilai kemampuan menulis seseorang, perlu dicek dulu indikatornya sehingga kita dapat mengetahui kemampuan dia sebelum dan sesudah menggunakan AI. Apakah menurun atau meningkat. Masalahnya, sejauh ini belum ada pengecekan terkait hal tersebut. Tapi yang jelas, berbicara soal gaya tulisan, itu tergantung penggunanya. Misalnya, seorang mahasiswa yang meminta AI membuat artikel ilmiah 5000 kata, tanpa parameter tambahan, pasti AI akan membuat artikel tersebut 5000 kata berdasarkan kemampuan AI yang dia miliki. Tapi, kalau mahasiswanya lebih kritis dan berpengalaman, masalah pola tersebut dapat disiasati.
Yang jadi masalah itu, mahasiswa tidak semuanya paham teknik dasar prompting. Jadi misalnya ketika membuat abstrak, hasil yang didapatkan sesuai dengan pengetahuan AI, tapi belum tentu standar abstrak seperti itu. Akibat tidak ada keseimbangan. Ketika mahasiswanya tidak menyeimbangkan diri dengan menambah kemampuan menulis, itulah yang dampaknya pola-pola tersebut mudah terdeteksi, ciri-ciri bahasa AI muncul sehingga kemampuan menulisnya tidak berkembang karena yang berkembangnya hanya kemampuan memerintah, bukan kemampuan mengembangkan tulisan.
Kalau saya menggunakan AI bukan hanya membantu menulis saja, melainkan mengkritisi tulisan. Jadi ibarat seorang programer, kita cari bugs-nya. Apa yang jadi kelemahannya, kita tanya lagi sampai tulisan itu punya kualitas yang baik. Dengan proses tersebut, kita belajar bahwa terdapat tulisan yang tidak baik berdasarkan AI. Ketika kita minta AI buat jadi reviewer, AI-nya dapat di-set parameternya sehingga ia bisa berkata sejujur-jujurnya. Masalahnya kemampuan dasar mahasiswa yang kebanyakan saya tahu, mereka tidak melakukan setting itu. Sehingga artikel yang mereka buat itu, datanya dari mereka, namun hasil analisisnya, penyajiannya, gaya bahasanya, dan sebagainya tidak ada ciri-ciri mahasiswa lagi.
Bagaimana Dunia Pendidikan Harus Menyikapi Keabsahan Uji Plagiarisme yang Kini Mudah Dikelabui?
Masalah similarity, saya coba cek beberapa kali tulisan lewat AI menggunakan chatbot sendiri. Lalu saya masukkan ke dalam Turnitin. Hasilnya di bawah 10%. Kenapa bisa seperti itu? Setiap AI memiliki parameter untuk bisa men-humanisasi tulisan sehingga tulisannya lebih humanis. Biasanya ciri-cirinya terdapat kesalahan. Karena kalau natural bahasa robot itu minim kesalahan. Kalau menggunakan bahasa manusia, mungkin kesalahannya lebih banyak. Justru kelemahan itulah yang saya inputkan ke alat humanisasi yang saya buat sehingga hasilnya di bawah 10%.
Tapi, mau pakai AI saya, mau pakai Gemini atau pakai ChatGPT, pasti terdeteksi oleh AI meskipun sudah diparafrase.
Kalau di Universitas Terbuka (UT), mereka tidak pakai Turnitin, melainkan menggunakan DrillBit. Semua tugas mahasiswa harus diinput ke DrillBit dan nilai similarity-nya di bawah 30% bisa dikumpulkan. Jika Turnitin itu dikelola oleh instansi, maka DrillBit bisa dikelola individu. Ketika saya cek DrillBit di ahli parafrase, ternyata mereka mengubah kata akademis menjadi nonakademik. Di beberapa tempat cek parafrase yang berbeda, mereka menggantikan huruf tertentu sehingga DrillBit tidak bisa mendeteksi kata. Namun berbeda dengan Turnitin yang masih dapat terdeteksi. Jadinya dampak untuk mengelabui AI sudah banyak dilakukan. Justru yang tetap harus ada bukan hanya bahasa tersebut tidak terdeteksi oleh AI, melainkan pertanggungjawaban mahasiswa tersebut yang dapat dibuktikan. Karena jika hanya menggunakan artikel, semua mahasiswa juga sudah banyak yang menggunakan AI.
Lalu, bagaimana Cara bijak Memanfaatkan AI untuk Meningkatkan Kualitas Tugas Kuliah?
Yang jelas kuncinya dari diri sendiri. Kalau misalnya masalah turun atau tidaknya, mau ada AI maupun tidak ada AI pun, disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa untuk belajar. Kalau saya sebelum adanya AI, kebiasaan saya suka ngulik sesuatu. Jadi, sebelum adanya AI pun, saya sudah terbiasa ngulik sesuatu. Kenapa ada orang yang bisa terbit artikel di Scopus, saya cari tahu caranya dan saya terapkan sehingga artikel saya bisa diterbitkan di Scopus. Karena saya sudah terbiasa, ketika ada AI, saya pindahkan ke situ. Saya buat AI yang cara nulisnya mengikuti gaya saya. Jadi saya punya “karyawan AI” sendiri di kubikel saya 24 jam. Dan itu menghemat waktu saya. Lalu, saya juga membuat web bimbingan untuk mahasiswa S1 hingga S3. Dengan saya membuat web bimbingan, mahasiswa jadi tahu kapan saya buka bimbingan, waktu buat bimbingan. Karena workflow-nya sudah ada, kita kembangkan di era AI. Jadi kalau mahasiswanya tidak ada keinginan buat berkembang, mau ada AI atau enggak, memang bisa meningkat, tapi seberapa jauh meningkatnya itu tergantung ke orangnya.
Contoh Pemanfaatan AI dalam Kegiatan Akademik tanpa Harus Menurunkan Integritas
Banyak. Sebetulnya seperti di Google Education ada pembelajaran bagaimana mempelajari NotebookLM. Sebagian besar mahasiswa itu malas buka buku. Jadi ketika dikasih tugas PDF tentang mata kuliah tersebut. Tapi seberapa banyak mahasiswa buka buku? Belum tahu. Di NotebookLM, PDF-nya bisa diubah menjadi podcast atau semacam video explainer sehingga lebih mudah. Jika mahasiswa bisa memanfaatkan itu, saya rasa kemampuan belajarnya meningkat. Mungkin sebagian mahasiswa tidak tertarik membaca, tapi tertarik mendengarkan juga bisa memanfaatkan NotebookLM.
Atau untuk Google Gemini itu kita bisa membuat semacam aplikasi yang bisa jalan di Gemini yang bisa dipersonalisasi buat belajar kita. Kita bisa bikin aplikasi di Gemini membuat rangkuman dari rangkuman yang panjang menjadi ringkas. Bahkan bisa menyederhanakan tulisan yang sulit seperti tulisan hukum menjadi menggunakan “bahasa awam” ada. Bahkan itu lebih memudahkan daripada membaca buku yang sulit. Apakah banyak mahasiswa yang menggunakan cara tersebut? Sebagian besar hanya memanfaatkannya sebagai chatbot saja.
Apa Saja Kemampuan Mahasiswa yang Perlu Diasah Agar Tidak Tergantikan oleh AI
Ada pernyataan dari CEO Anthropic. Dia bilang ada 3 pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI. Yang pertama itu ahli coding, ahli akuntansi, dan ahli financial advisor yang bisa membuat laporan keuangan. Tidak menutup kemungkinan guru dan dosen juga tergantikan oleh AI. Jadi, perannya bukan sebagai guru atau dosen saat ini, tapi perannya orchestrator. Jadi, satu guru bisa mengajar di berbagai tempat sekaligus. Bagi orang bahasa, saat ini untuk mencari kerja susah. Banyak penerbit di Indonesia yang tumbang karena budaya baca di Indonesia rendah. Hal ini berbeda dengan India yang memiliki minat baca yang tinggi. Bagi mahasiswa bahasa, khususnya sastra masih belum tergantikan oleh AI karena belum ada AI yang memiliki kemampuan dalam mengkritisi dan menyanggah karya sastra. Tapi AI bisa menilai puisi, asalkan dengan menambahkan beberapa parameter tertentu. Semakin banyak parameter yang diberikan ke AI, maka tugas manusia akan berkurang. Bahkan, di India saja akan ada robot yang menggantikan peran rumah tangga.
Apa pesan Anda bagi sivitas akademika dalam menghadapi era disrupsi AI saat ini?
Kalau saran saya, tetap ikuti perkembangan AI. Maksudnya, mau urusan pakai atau tidaknya AI itu urusan masing-masing. Tapi kalau tidak diikuti, kita tidak mesti terlalu hype karena akan memicu kecemasan digital (digital anxiety). Yang jelas, penggunaan AI itu pilihan, namun mempelajarinya, di era sekarang itu keharusan supaya kita tidak tertinggal. Perkembangan AI bisa dibilang terlalu cepat. Kalau AI semakin berkembang sampai-sampai tidak terkejar. Makanya untuk mempelajari AI secara dasarnya perlu dikuasai. Tapi kalau sampai bikin perusahaan AI ya tidak harus juga. Yang penting dari saya itu, pelajari, kuasai, dan pahami tingkatkan kemampuan bukan hanya AI-nya, tetapi kemampuan dasar seperti mengkritisi tulisan dan lain-lain sehingga itu bisa menjadi bekal untuk kegiatan lain.
Editor: Zhafira K.
