Pentas Anak Golek
Oleh: Zhafira Khaerinnisa M. H.
Di hadapannya seonggok buku
pada tergeletak,
punggung tegak
sebab tarikan kawat di pundak,
didandan mewajahi puteri-puteri raja,
dipampangnya menyambut harapan mak bapa
Seringkali kutemui
tengah menimbang nyali
: dari derap suara sepatu
hingga cara menggeser pintu
Mak bilang
“Jangan jadi Hakim yang menghukum”,
maka ia hitung tiap kata di ujung lidah
supaya tak lebih dari bisu
Bila lisannya meruncing
kawat lehernya memelintir,
dibiarkannya luka pada tekak
terus berbiak
Seperti kayu menyambut api
habis perlahan
membawa kehangatan orang mati
ke hadapan hari
baru lagi
—