PRISM RONDO — Kejujuran Imaji yang Perlu Dipreteli
Oleh: Zhafira Khaerinnisa M.H*
*Reporter Magang Isola Pos
Judul film : Love Through a Prism (Prism Rondo)
Penulis : Yoko Kamio – Saki Fujii
Ilustrator : Maki Minami
Studio : Wit Studio dilisensikan Netflix
Rilis : 15 Januari 2026
Durasi : 20 menit x 20 episode
Dari banyaknya komentar netizen tentang animasi berjudul “Prism Rondo”, saya sepakat dengan mereka dalam banyak hal. Terutama ketika mereka menyebut ceritanya sebagai sebuah seni pemaknaan dan refleksi kehidupan itu sendiri. Sekadar melirik judul uniknya dan resolusi yang memanjakan mata, orang mungkin akan mengira ini hanyalah animasi drama picisan yang layak dikonsumsi sambil menyesap teh susu di sore hari. Tampak luar yang begitu “cantik” ini rawan membuat penonton terjebak dalam ekspektasi bahwa hidup hanya berisi warna-warna 1080px yang mudah ditebak. Namun, jika kita memutuskan untuk menyelaminya hingga pukul 2 pagi, pasti akan tersadari bahwa keindahan itu hanyalah selapis tisu dibagi dua yang menutupi luka, ambisi, dan ambiguitas realita di dalamnya.
Berlatar di London awal 1900-an, kita mengikuti Lili Ichijouin, mahasiswi pertukaran asal Jepang yang membawa harapan orangtua seberat neraca Libra di pundaknya, yaitu menjadi yang terbaik di Akademi Seni Saint Thomas dalam waktu 6 bulan, atau pulang membawa kehampaan. Kemudian, kita disuguhi adegan-adegan klise yang mungkin membuat kita ingin segera memotong durasi. Tapi, bertahanlah sejenak. Sebab penulis naskah mulai mengurai setiap lapisan ceritanya ketika Lili dipertemukan dengan Kit Church, seorang aristokrat yang seolah-olah lahir dengan kuas emas di tangannya. Namun, di balik sikap tenangnya yang mengisolasi, Kit diperlihatkan sebagai “prisma” itu sendiri—ia tidak memantulkan cahaya yang diterimanya begitu saja, melainkan membiaskannya menjadi sesuatu yang tak terpikirkan oleh orang awam.
Di sana, kita dipaksa berhenti melihat dunia dalam biner hitam dan putih. Ia menyeret kita ke dalam spektrum abu-abu yang suram, hijau yang indah, sesekali merah membara, dan warna-warna tak bernama lainnya. Saat mahasiswa lain berlomba mencari langit paling megah untuk dilukis, Kit justru menemukan “langit” itu pada pantulan genangan air. Di saat orang-orang menudingnya jadi si No. 1 karena bakat lahir dan koneksi, mereka lupa bahwa genangan air hanya tercipta setelah badai yang hebat. Kita dibuat melek bahwa mereka yang diam-diam berusaha seringkali yang paling nyesek latar belakangnya.
Namun ironisnya, Kit harus membagi jiwanya. Di satu sisi, ia pelukis yang mendamba kebebasan di atas kanvas, namun di sisi lain, menjadi tawanan akan responsibilitasnya sebagai aristokrat. Di tengah hentakan propaganda geopolitik, ada kelucuan getir ketika Kit akhirnya memutuskan terjun ke dunia diplomasi hanya sebab Lili begitu mengagumi Inggris. Kit membuang ego senimannya demi memastikan “dunia” yang dicintai Lili tetap aman. Terdengar hiperbola, namun begitulah adanya.
Tak sampai di situ, dunia Lili sempat berubah monokrom saat ia mengira Kit telah gugur di medan perang. 5 tahun Takotsubo Syndrome merongrong jiwanya, tapi kita diperlihatkan bagaimana pigmen lazuli menjadi saksi kembalinya “ruh” Lili.
“Kenangan.. kembalilah padaku. Aku belum melupakan aroma ini. Jantungku berdebar. Cinta membias di sepermuka lazuli. Pigmen Lazuli mengisi kanvas putih. Berwarna biru hampir jernih. Warnanya menghidupkan ruang.. dan membangkitkan perasaan yang telah kupendam. Ternyata aku suka melukis.”(terjemah haiku eps. 19).
Sebuah elegi ‘warna biru’ menjelma jadi kejujuran yang menyeruak sebagai kontras di atas kanvas. Perjalanan yang mempertemukan sastra dengan pahatan, aristokrat dengan pembully, hingga petualang dengan pedagang. Semuanya terjalin erat, dari tanah Jepang, Eropa, hingga Indonesia ikut melatari dilema usia 20-an yang penuh gelombang. Di sini, profesi bukan sekadar tempelan, tetapi juga sebagai identitas bercap strata kedalaman. Ragam emosi yang kaya?manis polos, kemarahan yang dipendam, hingga kebahagiaan yang getir, semuanya hadir tanpa perlu disuratkan dengan gamblang.
“Sejauh apapun aku keliling dunia, angin tetap berhembus.”
Begitu pengakuan Kit akan absurdnya eksistensi. Bahwa sekeras apa pun kita berlari mencari makna hingga ujung dunia, realita akan tetap berhembus entah betapapun kencang dan dinginnya. Menyaksikan mahakarya ini meninggalkan sensasi yang paradoks. Menggugah semangat yang meledak karena pengetahuan baru, namun juga dibayangi ketakutan bahwa kita merasa sudah mengerti, padahal sebenarnya kita sama sekali tidak memahami sesuatu sepenuhnya. Sebuah ketakutan akan ketidakmampuan menangkap maksud semesta yang begitu luas.
Pada akhirnya, kita diajak untuk tidak menerka-nerka alur, baik alur cerita di layar maupun di balik layar hidup sendiri yang seringkali brengsek dan tak terduga.
Jika mencari hiburan yang meninabobokan, pergilah. Tapi jika siap untuk dipreteli hingga mempertanyakan kejujuranmu sendiri, maka tontonlah hingga matamu sembap di pukul 2 pagi, atau setidaknya berani menunduk dan melihat ke dalam genangan air yang kita lewati.
Editor: Sennita T.D.