Mahasiswa Menyayangkan Tidak Dilibatkannya Pembicaraan Program Kesehatan

118

Bumi Siliwangi, isolapos-com


Poliklinik UPI

Program layanan kesehatan yang digagas Manager Poliklinik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Ambar Sulianti sampai hari ini masih menggantung. Belum ada pembicaraan lebih lanjut mengenai hal tersebut karena Ambar sebagai koordinator sampai hari ini belum kembali aktif di kampus setelah percobaan pembunuhan yang dialaminya akhir Februari 2010. Apalagi sudah tersiar kabar, Ambar akan mengundurkan diri dari Manager Poliklinik berkaitan dengan jabatan dan program tersebut.

Calon Presiden BEM Rema, Teguh sarwono angkat bicara mengenai program layanan kesehatan tersebut. ”Yang jelas saya mendukung selama untuk kepentingan mahasiswa,” ujarnya ketika ditemui isolapos.com, Jumat (12/03/).

Begitupun dengan pasangan Teguh, dalam perebutan ketua BEM Rema UPI 2010, Rahman Ginanjar. “Asal layanan yang diberikan sebanding dan ada sosialisasi kepada mahasiswa,” kata Calon Wakil Ketua BEM Rema UPI ini.

Menurut Teguh, alangkah bagusnya jika dalam proses pengambilan keputusan ini melibatkan unsur-unsur mahasiswa untuk dimintai pertimbangan. “Karena kami (unsur mahasiswa-red) yang lebih tahu kondisi mahasiswa,” kata Teguh.

Menurut Ginanjar, akan lebih baik jika dalam meningkatkan layanan untuk mahasiswa tidak selalu diikuti dengan meningkatnya biaya yang harus dibayar. “Namun kalau toh harus bayar gak masalah kalau fasilitas yang didapatkan sebanding,” tambah Ginanjar

Ketua Himpunan Ilmu Keolahragaan, Dwiki Prayoga Menzano mendukung program tersebut karena layanan kesehatan yang maksimal memang perlu dan program tersebut tidak memberatkan. “Sehat itu murah untuk yang tidak sakit, tapi mahal untuk yang sakit,” ujarnya.

Namun dalam hal ini, Dwiki menyayangkan tindakan Ambar karena tidak melibatkan mahasiswa dalam pembuatan program ini. “Seharusnya beliau mengajak kami untuk membicarakan masalah ini,” katanya.

Begitupun dengan Himpunan Mahasiswa Elektro mengenai tidak dilibatkannya mahasiswa dalam pembicaraan program itu, “Rektorat siap-siap aja kalau ada protes dari mahasiswa karena tidak ada sosialisasi mengenai hal ini,” kata Aceng Furqan, salah satu pengurus himpunan itu.

Ketua Himpunan Elektro, Salman Harianto mengatakan mahasiswa sebagai stakeholder (pemangku kepentingan) seharusnya ikut dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan. apalagi kebijakan yang langsung menyangkut kepentingan mahasiswa.

Himpunan Mahasiswa sejarah juga satu suara dengan Himpunan Mahasiswa Elektro. Munurut salah satu pengurusnya, Tito Wardani, program seperti ini sama dengan UPInet. “Mahasiswa suruh bayar untuk satu tahun namun belum tentu semua mahasiswa memakai UPInet. menurutnya hal ini tidak realistik,” ujarnya. Dia berpandangan, program tersebut tidak perlu.

Menurut Tito lebih baik layanan kesehatan seperti sekarang saja karena kalau program layanan kesehatan itu dilaksanakan, tidak adil untuk mahasiswa lain yang tidak pernah sakit tapi juga harus bayar. [Siti]

Comments

comments