Kilas Balik Hasrat dan Kehancuran Penguasa di Drama Tari “Gumuruh di Rajagaluh”

1

Oleh: Rakha A.D., & M. Ulil A.

Bandung, isolapos.comKekalahan ‘tak selalu datang dengan congkak langsung memaksa kepala ’tuk menunduk, tapi ia bisa datang merayap, membelai lembut sebagai keindahan yang menusuk dari belakang. Itulah pesan dari runtuhnya kekuasaan besar di tanah Sunda yang dipentaskan di atas panggung teater tertutup Dago Tea House pada Sabtu (26/07) malam.

Drama tari berjudul “Gumuruh di Rajagaluh” ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Seni Tari UPI angkatan 2023. Produksi pertunjukan ini berlangsung sejak Februari lalu. Prosesnya tak lepas dari banyaknya tantangan, dimulai dari riset tentang Babad Rajagaluh hingga proses artistik yang berliku, yang  berbuah hasil riuh tepuk tangan hingga dinding belakang aula selepas pementasan. “Susahnya mah dalam menyatukan tari dengan musiknya, “ tutur Erik, seorang dramaturg dan sosok Syarif Hidayatullah di atas panggung yang telah ia ciptakan. 

Drama yang menjadikan dominasi gerakan sebagai medium penceritaanya ini berpusat pada empat tokoh, yaitu Prabu Cakraningrat, Nyi Putri Indangsari, Nyi Mas Gandasari dan Syarif Hidayatullah.  Konflik kekuasaan dan pengaruh antara Rajagaluh yang dipimpin Prabu Cakraningrat dengan Syarif Hidayatullah sebagai pemimpin Kesultanan Cirebon pecah menjadi peperangan fisik setelah penolakan pembayaran upeti kepada Rajagaluh dari pihak lawan. 

Syarif Hidayatullah menyadari jika serangan fisik tidak akan berhasil, mengingat Prabu Cakraningrat adalah seorang sakti yang terlalu kuat. Lalu Kesultanan Cirebon pun mendatangkan utusan untuk berdakwah di wilayah Rajagaluh. Namun taktik halus ini diketahui Prabu Cakraningrat dan ia memerintahkan pasukannya untuk menghadang rombongan utusan tersebut.

Penghadangan ini sampai ke telinga Syarif Hidayatullah. Karena kegeramannya, ia memerintahkan Nyi Mas Gandasari untuk menyusup ke wilayah kekuasaan Rajagaluh dan menyamar sebagai ronggeng. Nyi Mas Gandasari yang mampu memikat banyak orang ternyata berhasil pula memikat Sang Prabu. Dan disinilah puncak konflik mulai memenuhi atmosfer pementasan. 

Karena kebutaannya pada godaan hasrat, Prabu Cakraningrat tak sadar belaian lembut Nyi Mas Gandasari sebenarnya belati tajam yang menikam kewarasannya. Ketika peringatan sang anak Prabu, yaitu Nyi Putri Indangsari sudah dianggap sebagai perlawanan dan kedurhakaan, takhta laki-laki penguasa yang sakti itu telah jatuh sepenuhnya ke bawah ranjang hasrat kebinatangan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nyi Mas Gandasari pun mencuri Zimat Bokor Mas yang menjadi sumber kesaktian Prabu Cakraningrat. 

Misinya berhasil, Nyi Mas Gandasari kembali ke tuannya, dan Prabu Cakraningrat mulai menyadari ular berbisa di ranjangnya itu. Tapi semua terlambat, penyergapan Kesultanan Ciirebon meluluhlantakan semua. Sebab Prabu Cakraningrat tak bisa apa-apa tanpa kesaktiannya. Dan Nyi Putri Indangsari, atas semua yang terjadi, akhirnya memilih pergi mengasingkan diri.

Selalu ada pesan dibalik pementasan. Gerakan-gerakan yang lembut dan tegas menjadi medium makna tentang kerendahan hati dan keangkuhan. Ritme dan tempo yang dibuat lincah dengan gema iringan musiknya yang tajam, pentas ini seolah ingin membawa penonton kepada alur cerita yang ekspansif, namun tetap memberi keleluasaan untuk penonton memaknai setiap adegannya. 

Jauzi, alias Sang Prabu Cakraningrat ini, dengan wajah lelah dan semburat kelegaannya selepas pentas mengatakan ada maksud yang ingin disampaikan pemeran di setiap gerakannya. Dan itu pula lah yang menjadi bahan bakar mengapa panggung mereka kuasai dengan totalitas. 

“Jangan tergoda dan harus teguh pendirian. Kalo udah ada tugas yang emang diprioritaskan, prioritaskan. Jika ada gangguan dari yang lain meskipun menggiurkan tapi harus tau kalo tugasnya di ranah itu,” pesan Jauzi, selepas pementasan usai, dan para pemain merayakan malam besar mereka.

Editor: Sennita T.D.

You might also like