Cerpen: Waregu

2

Setiap subuh, kakek akan dengan tergesa mendatangi persimpangan jalan, menemui Mang Engkus untuk mengambil dua sampai tigabatang  pohon waregu. Wajahnya sumringah ketika batang yang ia terima panjang dan lurus. “Ini baru batang.” Kata kakek sambilmembayar Mang Engkus dengan uang kertas bercampur recehan yang menggunung. “Sering-seringlah memberi aku batang yang lurus begini Kus, aku akan bayar banyak nanti!” sambungnya lagi. Senyum bibir Mang Engkus tidak sempurna melengkung saat uang itu selesai ia hitung. Segera ia selipkan uang itu di balik jaket kulitnya dan pergi tanpa banyak bicara. Aku tahu apa yang ia pikirkan, perkataan itu sering dilontarkan kakekku, dan ketika Mang Engkus mencarikan keinginannya, tak sedikitpun uang bertambah. Kakek hanya tersenyum dan tak henti mengagumi batang pohon itu.

Kakek membawa batang itu ke rumah. Biasanya di sana selalu ada aku yang menunggu ia datang dan segera menawarinya secangkir kopi. “Aku buatkan kopi untuk kakek, asalkan aku minta sedikit saja batang waregu itu!” kakek pun akan menolak, atau terkadang langsung mengiyakan perjanjianku. Saat itu aku akan bersusah payah membujuk ibu membuatkan kopi untuk kakek. Rasa kopi yang enak akan menambah panjang waregu yang kudapatkan.

Umurku baru 11 tahun waktu itu dan sangat menginginkan batang waregu kakekku. Bukan tanpa alasan aku menginginkan batang pohon  itu, kakek sering berkata, Waregu yang kini dipegang kakek adalah pohon yang disayangi Prabu Siliwangi. Pohon itu hanya tumbuh di sebuah pulau kecil di pantai selatan, yang terpisah oleh sungai air payau. Sang prabu selalu menjaga pohon-pohon waregu agar tidak sembarangan orang menebangnya. Ular-ular pun diperintahkan melilit batang waregu dan ular akan melepasnya ketika Prabu mengijinkan. Kadang beberapa pemburu melihat seekor harimau besar hilir mudik di pulau itu, memasang mata waspada dan terkadang dapat berdiri seperti manusia. Aku kaget, saat kakek mengatakan harimau itu adalah Sang Prabu Siliwangi. Lalu aku bertanya, kenapa Mang Engkus bisa mendapatkan pohon waregu ini? “Ada kuncennya. Kalau mau mengambil batang waregu harus ijin kuncen dulu. Kalau kuncen bilang aman, baru bisa ambil. Tidak boleh sembarangan!.” Mata kakekku mengeras dan kerut di wajahnya mengencang. “Dan pisau raut ini adalah kuncinya. Tukang pancing waregu selalu diijinkan untuk mengambil beberapa batang.”

Kakek seorang pembuat pancing waregu terkenal di kampung dan pernah menjadi pemburu waregu. Ia adalah pembuat pancing yang handal dan akan seperti orang kesurupan kalau sudah memegang batang waregu. Ia akan berdiam diri berjam-jam di sebuah bangku kecil di depan rumah sembari membawa kaleng dan buntelan kulit berisi berbagai pekakas. Tak lupa sebuah cempor berukuran sedang berselongsong kaca, alat untuk meluruskan batang-batang yang bengkok. Aku sering menjadi pembantu paling setia, menyusun batang, menyalakan cempor, membeli rokok bahkan membersihkan pisau raut yang menakutkan.

Pisau itu tak bisa kulupakan. Selain tajam, pisau yang seperti pisang buntet itu sering kakek todongkan padaku kalau aku mematahkan batang waregu miliknya. Atau ketika nenek dengan begitu marah membakar pancingan kakek. Kakekku langsung kalap, matanya membesar, dan hendak memutuskan leher nenek. Gila pikirku, Aku pun kurang mengerti tentang hal itu, yang kutahu nenek marah karena kakek tak pernah memberi uang. Kakek hanya mengurusi pancing yang harganya tak lebih mahal dari sekilo beras. “Namanya juga pasar!” Kata kakek ketika nenek merasa uang yang diberikan kakek tak bisa memberi makan empat orang penghuni rumah. Ibuku hanya tukang cuci serabutan dengan penghasilan tak menentu, dan ayahku sudah lama meninggal dunia. Maka hanya kakek lah satu-satunya lelaki yang harus bisa diandalkan.

Meski kakek sering menjual pancing itu ke pasar, ia hanya menggunakannya untuk judi ikan di kolam desa. Mengajak teman-teman lainnya untuk ikut serta, membuat peraturan yang rumit, dan menghabiskan waktunya seharian di kolam ikan. Itu salah satu alasan nenek membakar pancingan kakek.

Namun karena ekonomi yang semakin sulit, kakek dan warga kampung yang lain jarang memancing lagi di kolam desa. Kebanyakan mereka menghabiskan waktunya untuk memancing di sungai Citarik, sungai dekat rumah kami tempat ribuan warga sekitar bertahan hidup. Warga sering menggunakannya untuk mandi, mencuci, dan tempat mencari air untuk memasak. Sebagian memakainya untuk mengairi sawah dan kolam. Sedangkan kakek akan menjadikan sungai itu kolam yang besar dengan beribu macam kejutan di dalamnya.

***

Ah, barangkali nenekku sekarang masih mengingat itu semua. Nenek sering bercerita padaku, bahwa dia adalah orang pertama yang melarang kakek pergi ke pabrik, sampai akhirnya  kakek pulang ke rumah dengan dada berlumur darah dan nadi yang tak lagi berdetak. Nenek sudah mencegah kakek untuk tidak bertindak nekad. Ibu pun melarang kakek. Tapi kakek malah nekad berangkat dengan membawa tongkat waregu yang selalu ia bangga-banggakan. Sebelum berangkat, kakek membakar menyan di atas sabut kelapa, dapur penuh dengan asap. Diusapkan sabut kelapa itu pada seluruh batang waregu dan mulut kakek komat-kamit membaca mantra. “Buktos ajimat Sang Prabu!” (buktikanlah jimat Sang Prabu) kata kakek sambil meludahi tanah dan menginjak ludah itu dengan sendal terumpahnya. Nenek menangis di kamar, melihat tangan ibuku yang memar sedikit berdarah.

***

Aku teringat waregu yang terbelah empat, kakek membelahnya dengan kampak kecil dari atas batang sampai pangkalnya. Kakek pun lantas bercerita, bahwa orang-orang dulu selalu menggunakan waregu sebagai alat bela diri yang dapat menahan sabetan pedang atau golok dari musuhnya. Bahkan tukang ronda dan anak-anak muda selalu membawanya keliling kampung untuk mencari pencuri. Aku pun tak lantas percaya pada pekataannya. Kupegang batang yang telah terbagi empat itu dan merasakan batang tengahnya hanya gabus yang empuk, namun dinding dari batang waregu penuh dengan serat yang keras. “Inilah serat yang kuat melebihi besi itu” kata kakekku sambil memukulkan batang waregu ke pantatku. Aku berpikir kalau batang serat itu masih melingkar utuh, jelas sulit dipatahkan. Tapi jika sudah terbelah seperti ini, maka batang akan lentur dan alot. Pantas saja cocok dijadikan pancing yang kuat.

“Kalau jadi lelaki itu harus kuat, tapi hati tetap dingin.” Kata kakek, saat memperlihatkan batang waregu kesayangannya. Batang waregu itu lurus sempurna, dengan panjang kira-kira sebatas pusar orang dewasa. Warnanya mengkilap, terdapat ukiran harimau di bagian atas tongkat. “Daging waregu hanya gabus yang empuk, namun dinding kulitnya keras perkasa.” Kakek memukulkan tongkat itu pada pohon pepaya. Ia mengatakan kalau tidak ada seorang pun yang punya batang waregu semacam ini. Termasuk Mang Engkus yang berulang kali pergi ke pulau.

Semakin gila aku pada waregu. Akhirnya, selama satu minggu aku menunggu Mang Engkus di persimpangan jalan. Berharap dia datang dan menerima uang tabunganku untuk ditukar dengan satu batang waregu terbaik. Namun Mang Engkus tak kunjung muncul. Aku hampir putus asa dan akhirnya mencoba sabar, barangkali waregu sulit didapatkan atau kuncen penjaga pulau tak mengijinkannya.

***

Beberapa minggu sebelum kakek meninggal dunia, aku pernah melihat kakek memukul-mukulkan tongkat waregu pada pohon pepaya yang bentuknya sudah tak menemu rupa. Nenek hanya menangis ketika kutanya tentang apa yang terjadi. “Ia memang gila” kata nenek sedikit berteriak. Dengan pipi yang belepotan, sebab bedaknya berlumur air mata, nenek berusaha menjelaskan semuanya. “Kakekmu marah pada Sipatex yang ngotori sungai, nyogok warga dengan beras seleter dan pekerjaan. Sungai yang kotor membuat warga berhenti mancing di sungai yang tak ada ikannya. Terus, pancing waregu buatan kakekmu itu nggak laku. Kalah saing, Nyalahkeun (menyalahkan) Sipatex!” “Gandeng siah! (berisik kamu!) Akan aku bunuh semua pegawai pabrik itu!” kata kakek dari luar rumah sambil mengacung-ngacungkan batang waregunya.

Sipatex adalah perusahaan tekstil yang baru sebulan yang lalu berdiri di dekat kampung kami. Banyak penduduk yang menjadi karyawan di sana, terkecuali ibuku. Kakek melarang ibu bekerja di sana. Kakek adalah orang yang paling tidak setuju kalau ada pabrik di dekat kampungnya. Jelas kakek tahu kalau pabrik itu akan membuang limbah ke sungai pada malam hari dan membuat ikan-ikan di sungai mati. Tapi penduduk malah senang. Mereka menganggap ikan-ikan yang mati itu adalah kemudahan warga untuk mendapatkan ikan dengan tak perlu susah payah memancing.

Kakek pun tersinggung dan geram. Berulang kali ia hendak berangkat membuat kekacauan di pabrik Sipatex. Namun nenek selalu melarangnya. Nenek takut kalau kakek dimusuhi warga yang anaknya bekerja di sana. Amarah kakek dilampiaskan dengan memukul-mukul tongkat waregu pada batang pepaya sambil berteriak-teriak. Mungkin tujuannya agar semua orang tahu akan protesnya terhadap Pabrik Sipatex itu.

Sampai hari dimana kakek meninggal dunia, pagi harinya nenek tak sanggup lagi menahan kakek, dan ibu hanya terkulai dengan tangan memar, sebab ibu menahan kaki kakek dan kakek memukul tangan ibu dengan tongkat waregunya.

***

Hari itu aku dan seorang tetangga langsung mencari informasi tentang kematian kakek. Tentang siapa yang membunuhnya dan bagaimana kejadiannya. Menurut warga sekitar pabrik, polisi telah menangkap satpam yang membunuh kakek ke kantor polisi. Sementara dalam benakku hanya ada tongkat kakek yang hilang. Tongkat itu jelas sangat berarti bagiku. Tongkat itu adalah tongkat yang selama ini aku inginkan dan berharap kakek mewariskannya padaku.

Di kantor polisi, tepatnya ruang barang dan bukti. Di sana aku tidak menemukan tongkat itu. Aku mendapatkan informasi dari seorang polisi yang memperlihatkan barang bukti berupa pisau yang digunakan satpam pabrik untuk menusuk kakekku. Ternyata pisau itu adalah sebilah pisau ukir. Bulu kudukku seketika berdiri, rasa penasaran menjalar di benakku. Ingatanku menerawang pada cerita-cerita yang sering kakek ceritakan semasa hidupnya. Tentang arti pisau ukir sebagai kunci, tentang waregu, pulau, harimau, dan Prabu Siliwangi.

Aku dan tetanggaku pun segera masuk ke ruang pemeriksaan ingin mengetahui siapa pembunuh kakekku. Dan di sana seorang pria dengan baju tahanan yang bernomor di punggungnya telah duduk di depan petugas polisi sambil menunduk dan menangis. Di atas meja pemeriksaan, tongkat kakeku terbungkus kantung plastik dan sempat beberapa kali dipertanyakan polisi. Pria yang menjawab pertanyaan polisi itu dan merupakan pembunuh kakekku adalah Mang Engkus, penjual waregu yang selalu aku tunggu.

***

Waregu merupakan sekelompok palem yang termasuk dalam genus Rhapis. Terdapat sekitar 10 jenis. Jenis-jenisnya berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara, terutama pada daerah subtropika dan tropika.

Biodata Penulis: Zulfa Wikarya Nasrulloh, adalah penikmat, pegiat dan pemerhati sastra. Lahir di Bandung 21 Januari 1993. Terkadang berkuliah di Jurusan Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung dan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI.

Comments

comments

Discussion2 Comments

Leave A Reply

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com