Warna Ungu

115

Salah satu adegan yang disajikan oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dik B 2010 dalam drama berjudul Warna Ungu, di Auditorium A FPBS UPI, Jumat (11/5).

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

“Waah, semuanya serba ungu ya?”

“Iya dong, masa kamu nggak tahu, ungu kan warna kota Malang,”

Percakapan dua orang karyawan wedding organizer dalam drama berjudul “Warna Ungu” itu rupanya menjawab pertanyaan setiap penonton akan dekorasi ruangan yang kental dengan warna ungu. Dimulai dari pintu masuk auditorium Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) yang dihiasi dengan kertas, tirai, dan taplak meja berwarna ungu. Hingga lampu-lampu yang ditutup kertas juga berwarna ungu.

Luke, putri pengusaha di Kota Malang adalah seorang guru playgroup yang sangat menyukai anak kecil. Kecintaannya terhadap anak-anak membuat ia terobsesi ingin segera menikah dan memiliki anak. Gayung bersambut, Ia akan segera menikah.

Suatu malam, pada pesta ulang tahun, Luke bertemu dengan seorang pria bernama Indra. Mereka terlibat dalam sebuah obrolan. Pembicaraan yang hangat itu rupanya mengantarkan mereka pada jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan. “Aku mau menikah denganmu, tapi kamu harus janji tidak akan meninggalkan aku dan anak kita nanti,” pinta Luke kepada kekasihnya, Indra.

“Aku tidak suka berjanji, aku lebih suka membuktikan,” tegas Indra.

Hari yang dinanti tiba, Luke melihat aula besar tempat resepsi yang akan digelar. Ruangan berhiaskan karpet dan tirai ungu membuatnya terpana. Ia semakin yakin mimpinya untuk memiliki seorang anak akan segera terwujud.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil namanya dan mengajaknya bermain. Suara gamelan khas Jawa yang sejak tadi mengalun seketika menjelma menjadi alunan keyboard yang mistis. Cahaya lampu berwarna kuning pun meredup, suasana kian menegangkan. Luke nampak gelisah, ia pun berlari mencari dan mengejar sumber suara.

“Bagaimana bisa Luke hilang di hari yang penting ini? Bapak tidak bisa menjadi orang tua yang baik!” ujar orang tua Indra.

“Hati-hati kalau bicara ya! Kamu pikir kamu sudah menjadi orang tua yang baik?” kata Ayah Luke.

Pertengkaran antara orangtua Luke dan Indra pun tak terelakan. Beberapa saat kemudian, Luke kembali. Ia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Namun, tak satupun orang percaya akan ceritanya, bahkan mereka menganggap Luke sudah tidak waras.

Satu per satu pemain meninggalkan panggung. Tinggal Luke sendiri menangis dan meratapi nasibnya.

Drama ini merupakan alih wahana dari cerpen berjudul “Warna Ungu” karya Ratna Indraswari Ibrahim ini. Pentas ini digelar oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dik B 2010 di Auditorium A, FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, Jumat (11/5). [Dini Ehom]

 

Comments

comments