Indonesia Tanpa Pacaran, Berkacalah dari Anime Koi to Uso

260

Oleh: Rio Tirtayasa*

*) Mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia UPI 2015 

Baru-baru ini Indonesia sedang ramai membahas gerakan komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Gerakan ini juga mempunyai target bahwa Indonesia pada tahun 2024 terbebas dari yang namanya pacaran.

Terlepas dari baik tidaknya gerakan ini, warganet dengan segala celetukannya mulai menguap-uap dari yang pro hingga kontra. Contohnya dari akun Twitter @roysetiawann dan @thombongantuk, menurut Roy ia sebagai muslim setuju, kalau tidak usah pacaran. Baginya ada proses dalam Islam yang sudah mengatur kalau mau ke jenjang yang halal. Sedangkan Toms tidak setuju kalau gerakan ini mengatasnamakan Indonesia, karena baginya negara Indonesia tidak hanya beragama Islam. Baginya yang lebih cocok jika diganti menjadi Muslim Tanpa Pacaran.

Dilansir dari Tirto.id, bahkan ada salah satu sekolah di Brebes yang meminta seperti secara paksa kepada murid-muridnya untuk berjanji memutuskan pacarnya dengan ikhlas. Bahkan aktivis perempuan Tunggal Pawestri mengkhawatirkan gerakan seperti itu mengakibatkan persekusi nantinya.

Anime Koi to Uso, Pemerintah yang Mengurusi Hal Pribadi Rakyatnya

Anime Koi to Uso (Cinta dan Kebohongan) adalah sebuah anime berlatarbelakangkan Jepang dengan adanya sistem perjodohan bagi rakyatnya. Anime ini menceritakan tentang Yukari dan dua perempuan yang masih duduk di bangku SMA yang melakukan penolakan terhadap sistem perjodohan tersebut.

Anime ini lebih memunculkan sisi romantismenya murid-murid SMA. Tapi Jika benar-benar dilihat lebih jauh, anime ini menceritakan tentang pemerintah yang ikut andil bagian dan bahkan lebih jauh ke urusan pribadi rakyatnya. Seakan rakyatnya dipaksa untuk mengikuti peraturan yang ada tanpa peduli akan hak rakyatnya..

Pada anime ini jodoh berada di tangan pemerintah, bukan di tangan Tuhan yang membuat hambanya mencari jodoh. Peraturan pemerintah dalam anime ini mewajibkan setiap anak ketika berusia 16 tahun wajib mengikuti program perjodohan. Melalui teknologi pemerintah mencocok-cocokan dua insan manusia yang menurut pemerintah baik untuk masa depan mereka.

Semua warga dilarang untuk saling melakukan hubungan percintaan dengan lawan jenisnya sampai waktu pengumuman siapa jodoh dari mereka. Sampai pada akhirnya mereka sudah tahu siapa jodohnya, baru mereka boleh saling mengenal satu sama lain dan itu pun harus ada pihak ketiga, yaitu pemerintah.

Entah suka atau tidaknya terhadap jodoh yang sudah ditetapkan, baik jodohnya kurang enak dipandang atau hal lainnya. Masyarakat dipaksa untuk mematuhi segala keputusan pemerintah yang ada. Jika membangkang pada sistem yang ada pasti akan terkena hukuman seperti di negara pada umumnya.

Berkaca Lewat Anime Koi to Uso

Mengutip data Tirto.id, Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran sampai saat ini sudah memiliki sekitar 20 ribu anggota di 80 daerah Indonesia. Bukan hal yang mustahil jika pada tahun 2024 Indonesia bebas dari yang namanya pacaran. Sebab pada dasarnya minoritas akan selalu mengikuti yang mayoritas baik itu keinginan atau secara paksaan.

Dalam hal ini yang paling ditakutkan adalah terjadinya persekusi pada kelompok minoritas yang tidak setuju pada gerakan ini. Seperti yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta tahun lalu. Ketika seseorang tidak mengikuti atau memilih yang sama dengan sekitarnya ia akan dijauhi bahkan dihujat.

Bukankah menarik jika tidak terjadi keributan di negara yang Bhineka Tunggal Ika ini. Bayangkan jika di Indonesia ada sistem perjodohan paksa seperti di anime Koi to Uso itu? Jika seperti itu memang sepatutnya kita tolak. Sebab pemerintah tidak sepatutnya mencampuri urusan pribadi dalam hal jodoh hingga jauh, malah pemerintah akan mengambil hak rakyatnya. Pemerintah saja pasti ditolak karena dianggap mengambil hak rakyatnya, apalagi jika sekelompok golongan tertentu.

Mungkin maksudnya baik bagi sekelompok golongan tertentu, tapi yang harus dilihat adalah Indonesia bukan mempunyai satu golongan. Atau kalau kata W.S Rendra dalam puisinya adalah “Maksud baik saudara untuk siapa?”

Belajarlah dari anime Koi to Uso, jangan mengurusi urusan pribadi masyarakat yang seperti akan mengambil hak orang lain.

Terkahir adalah, banyak hal lucu di ajakan ITP seperti ajakan-ajakan “Putusin pacarmu” malah dijadikan gurauan. Banyak yang mengatakan siap memutusi pacarnya, tapi nanti ketika sudah mau menikah, karena putus dari pacar menjadi suami atau istri. Atau kalau kata Pidi Baiq dalam novelnya Dilan mengatakan, “Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah atau berpisah.”[]

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis yang bersangkutan.

Comments

comments