Kronologi Pemukulan Terhadap Ketua PTPU Rema UPI

285

Oleh: Muhamad Abdul Azis

Bem Kema FPOK melakukan aksi keliling kampus menyuarakan penolakan pada Pemilu Rema UPI, Selasa (4/12). Hal itu lantaran KPU dianggap tidak pernah menerima aspirasi yang disampaikan ormawa fakultas. Aksi tersebut sempat ricuh. Ihza Abdurosyadi, Ketua PTPU, menjadi korban pengeroyokan massa aksi Bem Kema FPOK ketika massa aksi tiba di FPSD.

Kronologi.

Ihza, yang juga sebagai mahasiswa FPTK, tengah melakukan kewajibannya mengawasi pendistribusian logistik ke setiap TPS. Di TPS FPEB terjadi penolakan dari ormawa fakultas. Mereka meminta TPS dipindahkan ke area gedung lama FPEB. Massa aksi FPOK pun sedang berada di tempat yang sama.

Konflik di FPEB telah selesai, massa aksi melanjutkan aksi ke beberapa fakultas. Sesampainya di FPSD, Massa aksi kembali melakukan orasi. Saat itu massa merusak logistik di TPS yang tersedia.

Ihza segera ke FPSD dan mencoba melindungi anggota PTPU dan logistik KPU. “Saya datang untuk melerai,” ujarnya. Di TPS tersebut memang ada 2 anggota PTPU yang sedang bertugas, “Memang ada ukhti-ukhti disitu, tapi anak FPOK tidak akan berani melakukan kekerasan ke ukhti,” jelas Ahmad Salam Al Khabari, Ketua BEM Kema FPOK.

Ihza dan Salam pun mencoba berdiskusi untuk mengatasi masalah tersebut. Saat itu Ihza menampik tangan Salam yang menahan dada ihza. “Massa mendorong balik saya, saya mencoba bertahan dan saling dorong,” ungkap Ihza.

Emosi massa aksi terpancing. Tindakan tersebut menyebabkan pemukulan terhadap Ihza “Ada yang memukul saya dari belakang, kanan dan kiri,” ujar Ihza

Ihza tersungkur ke tanah dan tubuhnya diamankan anggota massa aksi ke selasar FPSD untuk menghindari dampak yang lebih parah. “Ada yang menarik saya dan mengamankan saya,” tuturnya.

Anggota massa aksi yang mengamankan Ihza meminta maaf atas tindakan tersebut. Massa aksi pun bergerak menuju FPTK. “Yang saya sesalkan adanya perusakan kotak suara dan bilik suara,” sesal Ihza.

Setelah kejadian tersebut, Ihza melakukan pelaporan kepada UPT K3. “Saya membuat BAP ke Pak Cecep,” tuturnya. Sementara dari pihak massa aksi, Adam, mengaku memukul Ihza. Namun, Ihza merasa bukan hanya Adam yang melakukan pemukulan. “5-7 orang yang mengeroyok saya,” ungkapnya.

Mediasi antara korban dan pelaku di K3 ternyata belum usai, Ihza melimpahkan perkara kepada pihak kepolisian Polsek Sukasari didampingi Menteri Advokasi BEM Rema UPI.

Kapolsek Sukasari memberi solusi perkara kepada Ihza karena khawatir jika masalah ini berlangsung panjang nama lembaga UPI akan tercoreng. “Pak Sukma (Kapolsek Sukasari -red) menghubungi Pak Anton dan Pak Mupid,” tutur Ihza. Kapolsek menyarankan kasus tersebut diselesaikan oleh pihak UPT K3 dan Komisi Disiplin UPI.

BEM KEMA FPOK menyayangkan kasus ini diperkarakan kepada kepolisian karena ketika mediasi dengan korban, korban menyampaikan hanya akan melaporkan kasusnya pada pihak internal. “Saya juga menyayangkan Miftahudin tidak mengikuti ke K3 dan tiba-tiba muncul dalam foto di polsek,” ujar Salam

Pihak pelaku mengaku siap dengan segala konsekuensi yang ada dan meminta tidak ada lagi konflik horizontal antar mahasiswa UPI. “Saya memohon maaf kepada teman-teman FPTK dan tidak bermaksud untuk merusak hubungan antara FPOK dan FPTK,” ungkap Salam.

Kini pesta demokrasi mahasiswa UPI dihentikan sementara oleh pihak kampus dengan adanya surat edaran No: 11980/UN40.RI/KM/2018 tentang Pemilihan Umum Republik Mahasiswa (Rema) Universitas Pendidikan Indonesia. []

Redaktur: Muhammad Zaki Annasyath

Comments

comments