Untuk Fauzan Aqil

442

Oleh: David Klakson*

*tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Mahasiswa yang masih belajar dewasa berdemokrasi

Mahasiswa adalah manusia. Mahasiswa adalah insan yang memiliki ruang untuk berekspresi maupun berpendapat sesuai dengan koridornya. Akan tetapi, sebagai yang katanya intelektual, mahasiswa memiliki nilai ataupun gagasan untuk disalurkan terhadap setiap keresahannya. Demonstrasi, atau aksi massa merupakan salah satu ruang intelektual mahasiswa ketika melakukan perlawanan. Ekspresi dalam demonstrasi mungkin bagi sebagian orang tidak dewasa, lantas apakah ekspresi dalam menyikapi suatu kasus selalu berujung pada pelabelan ketidakdewasaan?

Betapa ironinya membaca Tulisanmu di katamahasiswa.com. Mengapa? Kau beraninya mengganggap bahwa mahasiswa UPI tidak dewasa berdemokrasi, sungguh generalisasi yang kekanak-kanakan. Berdasarkan rasa kecewamu terhadap sejumput mahasiswa UPI yang kau anggap tidak disiplin dalam pelaksanaan Pemilu Rema UPI, kau berani menganggap bukan cerminan perilaku mahasiswa yang tidak dewasa berdemokrasi. Saya kira, Fauzan Aqil adalah orang yang dewasa, yang mengerti arti kedewasaan.

Poin pertama pada tulisanmu yang menyebutkan bahwa “Aktivitas politik anarkis dan vandalisme yang menjadi budaya”, sungguh mengherankan. Yang katanya insan intelektual dimana setiap gagasannya berbasis data ataupun landasan teori, saudara dengan lantangnya menyebutkan bahwa aktivitas politik anarkis dan vandalisme disebut sebagai budaya.

Melville J. Herskovits mendefinisikan budaya sebagai produk manusia sebagai bagian dari lingkungannya. Dengan kata lain, manusia senantiasa berada dalam suatu lingkungan dan menghasilkan produk berupa budaya”. Lucman mengatakan bahwa budaya adalah karakteristik unik yang melekat pada kehidupan sehari-hari suatu suku bangsa.

 So, apakah aktivitas politik anarkis dan vandalisme yang dibicarakan oleh Fauzan Aqil bisa disebutkan sebagai sebuah budaya? yang lebih mengherankan lagi. Penjabaran yang saudara tulis tidak menjelaskan mana letak aktivitas anarkis dan vandalisme yang menjadi budayanya. Hanya melihat satu contoh kasus, dan seolah-olah melegitimasi bahwa aktivitas politik anarkis dan vandalism mahasiswa UPI zaman now itu adalah budaya.

Yang saya ketahui, beberapa fakultas memberikan surat pernyataan terhadap pelaksanaan Pemilu Rema UPI juga terhadap lembaga penyelenggaranya yaitu KPU. Surat pernyataan tersebut dilandaskan pada keresahan dan permasalahan yang terjadi pada tubuh KPU. Menyatakan pendapat dengan surat pernyataan, apakah disebut sebagai provokasi? Provokasi menurut KBBI artinya “perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan”. Apakah surat pernyataan tersebut berisi maksud yang demikian? Surat penyataan bertujuan untuk mengevaluasi maupun mengkritik proses pemilu dan KPU untuk lebih baik lagi, jika ada tindakan provokasi dalam surat pernyataan tersebut, mengapa tidak dihadirkan pak? Adapun penolakan yang terjadi didasari atas permasalahan yang ada. Bukan berarti membatasi demokrasi, akan tetapi merevisi agar pelaksanaan demokrasi yang dilaksanakan ditempat tersebut dapat berjalan lebih demokratis.

Intervensi menurut KBBI artinya campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, Negara, dan sebagainya). Mungkin Fauzan Aqil mengetahui apa yang disampaikan oleh Birokrat terkait permasalahan yang ada. Sehingga Fauzan Aqil bisa menyatakan bahwa Birokrat intervensi. Jadi apakah sebuah kesalahan ketika jelas ada beberapa pihak yang bermasalah dalam kasus tersebut, kemudian menghadirkan pihak birokrat?

Saya sepakat dengan isi pada point 4. Namun yang jadi pertanyaan adalah mana letak mahasiswa UPI yang tidak mengindahkan asas-asas keberlangsungan pemilu rema UPI? Coba tolong berikan saya pernyataan yang menjelaskan judul poin tersebut yah.

Polemik pemilihan umum rema UPI bukan tanpa sebab, alasan yang tercantum dalam surat pernyataan diberbagai ormawa fakultas merupakan hal yang seharusnya KPU tanggapi dengan  serius. Alasan-alasan tersebut bukan untuk membuat demokrasi mahsiswa UPI terbatas, melainkan untuk mengevaluasi pelaksanaan demokrasi. Memang tidak mudah menjalankan proses pemilu dilingkungan kampus dimana penuh dengan dinamika. Akan tetapi, jika memang persoalan yang muncul dihadapi dengan professional dan penuh tanggung jawab, permasalahan tersebut tidak akan terus berlarut.

Jika Fauzan Aqil mengajak kita untuk dewasa dalam berdemokrasi, tentunya Fauzan Aqil juga bisa memberikan argument yang dewasa. Saya tidak melihat sama sekali keberadaan Fauzan Aqil dalam kasus yang terjadi. Saya sangat hargai argument Fauzan, namun sayang sekali argumen tersebut tidak lebih dari anggapan yang tidak berdasar. Seperti kata Fauzan Aqil kita harus dewasa dalam berdemokrasi, tapi tidak lupa yah kita juga harus dewasa dalam memberikan argument. Jika memang kita tidak mengalami tentunya berikan argument yang berdasar. Semoga kekecewaan Fauzan Aqil terhadap mahasiswa UPI bisa disalurkan dalam karya lain yang lebih berbasis data ataupun sesuai dengan realitas.

Comments

comments