Kontroversi Dugaan “Pihak Luar” dalam Aksi Demo Akanba di UPI

88

Oleh: Davina S.,Naufal F., & Qanita J. 

Sehari sebelum terjadinya demonstrasi hari Kamis (16/04) terkait penyelewengan kewenangan oleh Rektor UPI, pada Rabu (15/04) beredar pesan Whatsapp dari Wakil Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan, Yanty Wirza. Pesan tersebut berisi himbauan kepada mahasiswa FPBS untuk tidak terlibat dalam aksi demonstrasi yang terjadi. Dalam pesannya, himbauan juga telah disampaikan kepada Ketua Himpunan dan Keluarga Mahasiswa FPBS.

Selain himbauan, pesan tersebut juga berisi pernyataan dugaan bahwa demonstrasi tersebut dipatroni oleh kepentingan luar. “Sehubungan dengan aksi unjuk rasa yang diantisipasi terjadi pada hari Kamis, 16 April 2026 yg disinyalir dimotori oleh pihak luar, saya menegaskan bahwa seluruh mahasiswa FPBS untuk TIDAK TERLIBAT dalam aksi unjuk rasa ini dalam bentuk apapun” tulis Yanty.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Aktivis Anak Bangsa (Akanba), Dena Hadiyat membantah dugaan atas adanya pihak yang memotori demonstrasi yang diinisiasi oleh organisasinya.

“Kita bukan massa bayaran, dapat dilihat dari substansinya saja, bukan dari hal-hal tersebut. Karena hal tersebut adalah konspirasi-konspirasi yang dibuat oleh Dekan, oleh Warek untuk membungkam mahasiswa-mahasiswa yang ada di UPI. Silakan saja dinilai oleh mahasiswa UPI substansi-substansi yang kita sampaikan, ini on point ada atau tidak seperti itu.” Ujar Dena saat wawancara pasca-demonstrasi.

Sejumlah reporter IsolaPos yang meliput aksi menemukan beberapa fakta lapangan yang cenderung memperkuat dugaan adanya pihak yang memotori aksi tersebut.

Massa aksi menolak untuk diwawancara

Di tengah riuh teriakan massa aksi yang menggunakan pita merah putih, reporter berusaha mewawancarai massa untuk mengetahui tanggapan salah satu dari mereka.

Terhitung 10 kali percobaan permintaan wawancara pada 10 massa yang berbeda, tidak ada satupun massa yang bersedia diwawancara. 

Sebagian besar massa aksi yang menolak wawancara beralasan tidak tahu-menahu substansi demonstrasi yang diikutinya. Reporter langsung diinstruksikan untuk mewawancarai para orator di atas mobil komando. “Langsung ke aktivisnya aja, A!” Tunjuk salah satu massa aksi yang menolak diwawancara.

Percakapan Reporter dengan salah satu Massa Aksi

Setelah percobaan wawancara gagal, reporter mencoba untuk bercakap dengan salah satu massa aksi dan mendapati fakta bahwa ia bukan bagian dari Akanba. Ia  mengidentifikasi dirinya dan massa aksi lainnya sebagai “Umum”, sementara massa berkemeja merah putih adalah bagian dari Akanba. Massa aksi tersebut mengaku mendapatkan ajakan dari temannya untuk melakukan aksi dan memasukkan namanya ke list.

Reporter inisiatif menanyakan tentang tuntutan yang dibawakan pada demonstrasi ini dan ia menjawab tidak tahu. “Ikut-ikutan aja, gak tau yang gitu-gitu” ujarnya dalam bahasa Sunda. Ia juga mengaku bahwa sebelumnya Ia pernah beberapa kali datang ke UPI untuk tujuan yang sama.

Editor: Rakha Ajriya

You might also like