Riani dan Aster Rika

37

Oleh: Muhammad Haidar

*) Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi 2016

Hai Rika, lama tak jumpa.

Sudah tiga tahun lebih sejak perpisahan kita, kau baik-baik saja kan? Aku harap sakitmu tak kambuh lagi. Aku benar-benar rindu padamu Rika. Setahun bersamamu memang sebentar, tapi sangat berharga. Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Kau masuk dengan dipapah oleh seorang suster, masih ingat kan namanya? Aster! Aku merasa Aster memang cocok untuk nama suster kita itu. Bukankah bunga Aster merupakan lambang persahabatan? Sang bunga persahabatan mengantarkan padaku seorang Rika. Ya, kamu. Sahabat sejatiku satu-satunya.

Suster Aster memapahmu dengan sabar dan hati-hati. Saat itu aku pikir kamu sangat merepotkan. Kenapa tak pakai roda saja? Kau pasti anak yang menyebalkan. Seorang anak yang ingin setiap keinginannya terpenuhi tanpa tahu batas kemampuannya sendiri. Kau terus berjalan tanpa peduli suster Aster kesusahan membantumu. Mata sayupmu saat itu seperti menggambarkan rasa lelah. Mungkin karena menghadapi kehidupan beratmu. Sedikit terlihat seperti kecewa juga. Kau sedang depresi, tak kuat menghadapi penyakitmu. Begitulah pikiran menuntunku membuat gambaran tentang dirimu.

Keesokan harinya aku sadar bahwa apa yang tergambar dari mata sayupmu, langkah kakimu, sikap merepotkanmu di hari sebelumnya yang tertangkap oleh mataku tak satu pun benar. Saat itu kau masih tertidur pulas, sementara mentari pagi sudah menerangi kamar kita. Aku mendengar suara kicau burung entah dari mana, padahal kamar VIP ada di lantai 4. Tiba-tiba suara pintu terbuka membenamkan kicau burung nan indah itu. Suster Aster menyapaku, sebelum akhirnya sibuk mengamatimu sambil mencatat sesuatu. Aku ingin berbincang dengannya, namun saat akan kuucap namanya ia justru pergi tanpa melihatku sama sekali. Aku sangat kecewa dan merasa marah padamu. Suster Aster tak pernah pergi sebelum menceritakan hal menyenangkan padaku. Namun tak lama ia pun kembali dengan membawa bunga Aster di tangannya. Hanya setangkai tapi sangat indah. Kupastikan meja disisiku sudah rapi agar aku bisa meletakkannya disana. Tapi kekesalan menghampiriku lagi. Suster Aster tak memberikannya padaku. Ia justru meletakkannya di vas bunga bening yang sudah terisi air. Vas bunga itu ada di mejamu! Aku membuang wajah dari suster. Kenapa kau harus menjadi pasien sekamarku? Aku lebih berharap sendiri tapi suster Aster menemaniku setiap pagi dan sore. Aku benar-benar membencimu.

Suster Aster membawa sarapan untukku dan mulai menceritakan kebun bunganya yang sudah bermekaran. Bukannya senang, aku malah semakin sebal. Jika benar bunga di kebunnya bermekaran, itu artinya dia memetiknya sendiri untukmu. Dia tak pernah memetikkan bunga untukku, apalagi dari kebunnya sendiri. Aku membuang wajah. Suster Aster heran dan bertanya tentang kondisiku. Aku tak tahu harus bilang apa. Hampir empat tahun suster Aster hanya mempedulikanku. Ia bahkan pernah datang tengah malam dari rumahnya karena mendengar dari suster jaga kalau aku menangis. Ia seperti kakak bagiku, aku menyayanginya seperti sayangku pada mamah dan papah. Tapi hari itu ia mengabaikanku dan memberi perhatian lebih padamu. Air mataku mulai menetes, kakakku satu-satunya telah direbut. Sudah sekian lama aku mendengar cerita kebunnya yang indah tapi tak satu tangkai bunga pun diberikannya padaku. Ia telah menjadi kakakmu tepat saat itu.

Begitulah pikirku saat itu, Rika. Tapi Suster Aster menjelaskan semuanya. Dia akan tetap menjadi kakakku dan menyayangiku seperti adiknya sendiri. Aku merasa bodoh saat tahu bahwa setangkai Aster itu bukan dari kebunnya. Kau memetiknya sendiri di kebun halaman belakang rumah sakit. Dan saat kau pingsan hari sebelumnya Suster Aster menjaga bunga itu untukmu. Ia juga bercerita bagaimana kau bersikeras ingin pergi ke kamar pasien sendiri. Kau tak mau ibumu datang dan melihatmu masih ada di Instalasi Gawat Darurat kan? Suster bilang kau memberikan kursi rodamu untuk pasien lain karena rumah sakit saat itu sangat penuh. Kau memaksa suster untuk membiarkanmu melakukannya dan memilih pergi ke kamar pasien dengan berjalan. Untunglah lift tidak terlalu jauh dari kamar kita.

Aku salah Rika, dan aku senang kau sekamar denganku di rumah sakit. Apalagi ternyata kau memberikan setangkai Aster itu padaku saat kau sudah bangun. Rika, aku baru sadar kalau kau tak pernah bercerita tentang Aster itu. Aku menunggu balasan suratmu secepatnya. Mungkin waktuku tinggal tiga bulan lagi. Aku sayang kamu, Rika.

Riani,

Sahabat yang selalu rindu padamu

*) Tulisan ini pernah dimuat di Steemit.com

Comments

comments