Menilik Indonesia dari Kacamata Choi, Jun

28

Oleh: Putri Rachmahsari Fajriyah*

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2016

Oktober 2019, sebuah buku kumpulan sajak karya Choi, jun diterbitkan. Puisi-puisi karyanya berhasil mengantarkannya sebagai pemenang sayembara mengarang pada musim semi yang dilaksanakan oleh Harian Joong Ang, Korea. Diantaranya kumpulan sajak berjudul Kau, Masih di sana; Anjing; Melemparkannya Ke Dunia Tanpa Aku; Meditasi Tentang Rumah atau Pencarian Jalan (kumpulan sajak tiga penyair), Cinta Gaya Slav (kumpulan sajak tiga penyair) dan Orang Suci, Pohon Kelapa. Antologi puisi ini memuat 61 puisi dengan dua bahasa. Namun, dalam antologi ini Puisi-puisi karya Choi, Jun berhasil diterjemahkan oleh Kim Young Soo dan Nenden Lilis A. Kim Young Soo yang mahir berbahasa Indonesia berhasil berkolaborasi dengan Nenden Lilis A yang tidak diragukan lagi kiprahnya dalam dunia sastra. Nenden Lilis A telah melahirkan beberapa karya sastra. Salah satu cerpennya yang berjudul Ruang Belakang, berhasil menyabet penghargaan Pusat Bahasa 2005. Selain itu, Nenden Lilis A juga sebelumnya pernah menjadi penerjemah pada beberapa karya sastra mancanegara, seperti pada Antologi Puisi dan Prosa Langit, Angin, Bintang, dan Puisi karya Penyair Korea Yung Dong Ju, yang diterjemakan bersama Prof. Shin Young Duk, PhD. Tak heran jika dalam antologi ini beberapa puisi dapat mudah dipahami meskipun berasal dari bahasa terjemahan.

Keberadaan Choi, Jun di Indonesia selama lima tahun lamanya, tak aneh dapat membuat Ia menghasilkan 61 puisi bernuansa alam Indonesai yang jarang Ia temui di Korea. Choi, Jun dalam puisinya berusaha menyampaikan keprihatinan dan kritikan tentang fenomena sosial dan budaya yang ada di Indonesai. Ia melibatkan atau mengumpamakan tumbahan, hewan, laut, gunung, bahkan benda-benda yang ada dalam museum di Indonesia.

Puisinya yang memiliki judul-judul yang unik dan sangat orisinal, jarang ditemui pada karya  sastra lain. Keunikannya berhasil membuat para pembaca penasaran. Seperti pada puisi berjudul Pisang Di Pulau Jawa, Kebun Binatang Orang Utan, Nyanyian Kambing Papa, Andong Kuda Poni 1, Orang Suci Pohon Kelapa,Tarian Pepaya, Beli Rokok Di Waraung, dan masih banyak lagi. Puisi-puisi ini berhasil menyadarkan para pembaca bahwa banyak hal-hal disekitar kita yang sering kita abaikan ternyata dapat merepresentasikan permasalahan-permasalahan sosial yang sering terjadi dalam kehidupan kita.

Salah satu puisi yang amat menyetuh dan memiliki makna kehidupan sosial yang sering terjadi di Indonesia yaitu puisi berjudul “Terowongan”.

Terowongan

Ada sebuah laut, di pesisir panjang dan gelap

Akau tak tahu, masihkah lautan itu menggelombang di sana

Kubuka peta pelancong yang tertinggal di atas meja kabin penumpang

Mencari tahu, apakah si anak perempuan itu masih menetep di sana

Entahlah, tapi masih ada kampung dan laut

Masih terbayang gadis kecil itu laksana selayur perak yang dipancing pada malam bulan purnama

Si gadis kecil itu tak memiliki ibu

Aku tak punya ayah

Ada pohon pepaya, di beting belakang hutan kelapa

Tingginya melebihi cakrawala

Dedaunan hijau yang bergelombang dihembus angin laut

bagaikan rambut si anak laki-laki

Setiap dia mendekati mobil yang berhenti di lampu merah

Dan mengintip ke dalam laut biru pada kaca film mobil

Pantulan dirinya mirip ikan bersirip besar

Di suatu tempat di laut dalam

Si anak laki-laki itu tak punya ayah

Aku tak memiliki ibu

Si anak laki-laki memangku selayur perak

Si anak perempuan memeluk pohon pepaya

Setelah melalui waktu panjang

Garis pantai pupus, hutan kelapa lenyap dari ladang pasir

Si anak perempuan kehilangan ayah

Si anak laki-laki kehilangan ibu

Bagaimana caranya bertemu di Jakarta

Antara

Si anak perempuan yang menjadi bunga putih di simpang empat kuningan

Si anak laki-laki yang menjelma karpet merah hotel berbintang di China Town 

Pada puisi ini terdapat kritik sosial mengenai anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua harus berjuang untuk memenuhi kehidupannya. Dari mulai mengamen sampai menjadi wanita penghibur. Si anak perempuan yang diumpamakan oleh Choi, Jun seperti “selayur perak” yang dapat diartikan sebagai wanita polos, lugu yang belum mengerti apa-apa, sehingga dapat dengan mudah dibohongi dan dirayu oleh para pelancong. Layaknya perak logam berwarna putih yang lunak dan lentuk sehingga mudah ditempa. Selain itu, yang lebih menyedihkan anak perempuan ini juga sudah tak memiliki ibu. Di sisi lain Choi, Jun mengumpamakan si anak laki-laki seperti “pohon pepaya” yang dapat diartikan sebagai laki-laki yang memiliki cita-cita yang tinggi, namun ia hidup sendirian layaknya pohon pepaya yang batangnya lurus tapi tidak memiliki ranting. Pada bait puisi “Setiap dia mendekati mobil yang berhenti di lampu merah dan mengintip ke dalam laut biru pada kaca film mobil, pantulan dirinya mirip ikan bersirip besar Di suatu tempat di laut dalam” dapat diartikan bahwa setiap si anak laki-laki ini mengamen, Ia membayangkan dirinya lah yang ada dalam mobil sebagai orang kaya yang sukses di suatu hari nanti. Namun, pada akhirnya si anak perempuan dan si anak laki-laki ini dipertemukan di kota metropolitan di daerah yang cukup populer di sana.  Si anak perempuan menjadi “bunga putih” yang dapat diartikan sebagai wanita penghibur, sementara si anak laki-laki menjelma “karpet merah hotel berbintang” yang dapat diartikan sebagai orang kaya yang membawa wanita penghibur ke sebuah hotel, wanita ini adalah si “selayur perak”.

Tentunya makna dari puisi ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Bagaimana anak-anak di Indonesia yang tidak terurus karena kehilangan orang tuanya, pada akhirnya harus merantau ke ibu kota demi memenuhi kebutahannya hidupnya, mencari pekerjaan dari yang halal sampai yang haram, memupus segala cita-cita yang mereka miliki sedari kecil. Keprihatinan ini sering kita abaikan karena sudah menjadi hal yang lumrah bagi beberapa orang di Indonesia. Namun dalam puisinya, Choi, Jun berhasil membuat pembaca merasa miris dan tergugah hatinya untuk lebih peduli pada ketimpangan sosial yang selama ini sering dianggap lumrah.

Puisi itu hanya salah satu dari 61 puisi Choi, Jun dalam antologi yang di dalamnya berisi keprihatianan, kritik, dan kepedulian sosial yang dibungkus dengan majas personifikasi, sehingga puisi-puisi yang disajikan bernuansa puitis dan tidak membosankan untuk dibaca. Kumpulan sajak “Orang Suci, Pohon Kelapa” yang banyak menggunakan perumpamaan dari tumbuhan, hewan, alam, dan lain-lain. Sangat cocok jika dianlisis menggunakan kajian ekologi sastra, yang mana ekologi sastra adalah Ilmu ekstrinsik sastra yang mendalami masalah hubungan sastra dengan lingkungannya, sehingga akan sangat cocok jika dikaitkan dengan antologi ini. Mengingat bahwa antologi ini memanfaatkan alam sebagai jembatan Choi, Jun untuk menyampaikan suasana, citraan, latar, ataupun amanat dalam karya sastranya.

Comments

comments