Nobar Herstory Flix: Voicing Women’s Problem Through Art

68

Oleh: Lisna Dwi Astuti

Bandung, Isolapos.comKamis, (28/9) Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM Rema) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Kementerian Emansipasi dan Hak Asasi Manusia (HAM), Keditjenan Pemberdayaan perempuan mengadakan acara “Nobar Herstory Flix” yang bertempat di Ruangan Audio Visual Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia. Kegiatan ini mengangkat  tema “Voicing Women’s Problem Through Art”.

Eunike Bumi Pertiwi sebagai Ketua Pelaksana menjelaskan bahwa arti dari tema tersebut selaras dengan tujuan dari acara, yaitu untuk menyuarakan isu-isu perempuan melalui karya seni. “Karena sesuai dengan rangkaian acaranya yaitu ada pembacaan puisi dan pemutaran film yang menyuarakan isu-isu perempuan,” jelas Eunike.

Ia mengatakan bahwa acara ini merupakan langkah awal dari program kerja Keditjenan Pemberdayaan Perempuan. “Ini merupakan step awal dari program kerja kami menuju kegiatan inti yaitu YSE UPI 2023,” lanjutnya.

Eurike berharap dengan diadakannya acara ini bisa membuka kesadaran mahasiswa terkait isu perempuan. “Harapan aku dengan adanya acara ini bukan hanya sekedar hiburan semata. Tapi ingin lebih sebagai langkah awal yang bermakna buat perempuan yang sampai sekarang masih dilabeli sebagai kaum yang lemah dan acara ini bisa menyadarkan perempuan untuk bisa keluar dari label itu,” pungkas Eurike.

Acara ini dihadiri oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai Fakultas yang ada di UPI. Kegiatan ini memiliki dua rangkaian acara utama yaitu pembacaan puisi sebagai pembukaan dan dilanjutkan pemutaran 4 film sebagai agenda utama dan menghadirkan perwakilan dari masing-masing film.

Film pertama yaitu MSADBNT (Maybe Someday, Another Day, But Not Today) yang menceritakan tentang hubungan pernikahan. Tiara sebagai tokoh utama yang dijadikan pembantu dalam rumah tangganya sendiri. Dia juga mendapatkan kekerasan secara mental karena tidak ada kebebasan dalam rumah tangga yang dia jalani, dan komunikasi yang begitu buruk antara seorang istri dan suami.

Lalu, film kedua yaitu Two Birds yang bercerita tentang dua orang perempuan yang berusaha menyuarakan bagaimana nilai perempuan tidak hanya pada keperawanan atau tubuhnya saja, dan bagaimana mereka berusaha mengkritisi stigmatisasi yang dilekatkan pada perempuan selama ini.

Selanjutnya yaitu film Jari Tengah Sophia yang mengemas isu perempuan dengan tayangan yang lebih ringan yaitu melalui permainan badminton dengan tokoh utama Sofia dan Eky. Sofia ingin mengalahkan temannya yaitu Eky yang tidak pernah kalah dari perempuan. Pertandingan ini diwarnai dengan taruhan antara keduanya, dan memperlihatkan bagaimana ego masing-masing dipertaruhkan.

Terakhir, film Room 204 yang bercerita tentang seorang janda yang bekerja sebagai waitres disebuah tempat hiburan, sampai pada akhirnya dia mengalami kekerasan seksual. Disana dia berusaha mendapatkan keadilan dari apa yang dialaminya.

Salah satu peserta yang hadir yaitu Mayang mengaku terkesan dan acara ini memberikan pembelajaran untuk dirinya. “Perasaan setelah aku menonton film tadi, membuat aku semakin sadar bahwa patriarki di Indonesia masih sekencang itu. Aku juga merasa bahwa perempuan harus lebih berani atas dirinya, tubuhnya, dan kebebasannya,” ujar Mayang.[]

Redaktur: Wulan Nur Khofifah

Comments

comments

You might also like