Membongkar Paradoks: Kesenjangan Realitas di Balik Proker Mahasiswa

103

Oleh : Muhammad Dafa Ramadhan Surachman*

Masa perkuliahan merupakan fase yang sarat dengan proses pembelajaran dan pengalaman. Selain fokus pada pembelajaran, mahasiswa juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di luar jam kuliah. Kegiatan tersebut meliputi mengejar hobi pribadi, berbincang-bincang santai, terlibat dalam proyek penelitian kecil-kecilan, dan seringkali, aktif dalam kegiatan keorganisasian.

Banyak mahasiswa terlibat dalam berbagai organisasi kampus baik di tingkat jurusan (himpunan), fakultas, maupun organisasi kampus secara keseluruhan. Mereka sering kali diundang atau memilih untuk bergabung dalam organisasi tersebut baik oleh kakak tingkat maupun karena minat dan keinginan pribadi. Setelah bergabung, mahasiswa tidak hanya menjadi anggota pasif, melainkan harus aktif berkontribusi untuk memenuhi standar program-program kerja yang telah ditetapkan.

Program-program kerja tersebut dapat bersifat tradisional, diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya, atau bersifat inovatif sesuai dengan perubahan regenerasi yang baru.

Pada awal pergantian struktur manajemen dan penempatan staf, kebanyakan orang merasa gembira dan antusias dalam memilih jabatan atau posisi di dalam organisasi untuk mendapatkan pengalaman dan eksposur yang lebih baik. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka dihadapkan dengan tuntutan program kerja yang sebelumnya mereka sepakati sehingga pekerjaan mereka semakin bertumpuk.

Tantangan ini diperparah dengan beban perkuliahan yang sangat berat dan jadwal yang tidak menentu. Hal ini menimbulkan kompleksitas dalam mengelola waktu, proses, dan aktivitas mereka sehingga mereka merasa seperti berada di tengah laut dengan ombak datang dari segala arah. Akibatnya, banyak dari mereka terpaksa menyelesaikan pekerjaan hanya untuk memenuhi tenggat waktu yang telah ditetapkan tanpa mempertimbangkan kualitas dan hasil dari pekerjaan serta tanggung jawab khususnya organisasi terkait program kerja mereka.

Sayangnya, dalam kondisi tersebut, beberapa di antara mereka hanya fokus pada penyelesaian kerja mereka dengan motto “asal selesai” demi mencapai deadline, tanpa memperhatikan kualitas hasil akhir. Hasilnya, meskipun mereka mungkin mendapat sanjungan dan ketenangan karena berhasil menyelesaikan acara tepat waktu, tetapi dampak pada kualitas pekerjaan dan pemahaman konsep mungkin terabaikan dalam prosesnya.

Di sisi yang lain, dalam kegiatan organisasi khususnya dalam program kerja yang dibuat oleh mahasiswa memerlukan kehadiran audience atau peserta acara, dimana mayoritas peserta berasal dari masyarakat umum khususnya anak-anak SMA yang terlibat. Terutama dalam program kerja berupa perlombaan acara. Dari perspektif siswa SMA, partisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh institusi kampus merupakan pengalaman yang luar biasa. Mereka menganggap diri mereka sebagai siswa yang beruntung dapat mengikuti program acara tersebut.

Bagi siswa SMA, terlibat dalam acara yang diselenggarakan oleh institusi kampus terutama jika kampus tersebut memiliki reputasi besar dan dihormati oleh masyarakat, dianggap sebagai suatu prestasi yang mengesankan. Mereka merasa terhormat dan istimewa karena dapat berpartisipasi dalam program acara yang diadakan oleh kampus ternama. Keberhasilan meraih podium dan piala dalam acara tersebut semakin menambah rasa prestise dan kebanggaan bagi siswa tersebut.

Kedua aspek di atas mencerminkan adanya kesenjangan antara perspektif mahasiswa yang membuat program dan peserta acara, terutama siswa SMA. Mahasiswa sering kali membuat program hanya untuk menjaga tampilan organisasi tetap berjalan, sementara di sisi lain, peserta acara  khususnya siswa SMA, merasa bahwa mereka bisa dapat berpartisipasi dalam acara prestisius di kampus ternama yang dapat memberikan mereka rasa bangga dan penghargaan luar biasa.

Sayangnya, dalam proses pelaksanaannya, terkadang program tersebut hanya dijalankan sebagai tanggapan terhadap tuntutan. Dan hasilnya, kualitas pelaksanaan acara cenderung tidak optimal. Peserta mungkin pulang dengan sertifikat juara dan pengalaman yang membanggakan tanpa menyadari bahwa program tersebut mungkin hanya terlaksana karena alasan administratif dan bukan karena fokus pada penyelenggaraan yang berkualitas. Ini menciptakan kesenjangan antara persepsi peserta acara dan kenyataan di balik pelaksanaan program oleh mahasiswa, yang mungkin lebih menjaga kelangsungan organisasi daripada kualitas acara yang dihasilkan.

Dalam melakukan kegiatan organisasi dan melaksanakan berbagai program kerja, mahasiswa perlu mempertimbangkan, mengorganisir, dan mengaplikasikan segala sesuatu dengan fokus pada kualitas dan proses. Bukan hanya sekadar mengejar agar program kerja selesai tepat waktu. Sementara menuntut ilmu di dalam kelas tetap menjadi prioritas utama, mengembangkan diri di luar kelas untuk mendapatkan pengalaman adalah langkah progresif. Kedua hal tersebut memiliki nilai yang sama baik dan penting.

Untuk berhasil mengimbangi kedua hal ini, diperlukan motivasi yang tinggi, menetapkan standar yang tinggi, optimalisasi penggunaan waktu, dan upaya maksimal untuk memastikan bahwa setiap proses dilakukan sebaik mungkin. Hal ini bertujuan agar hasil, pengalaman, dan proses yang diperoleh tidak hanya menjadi pencapaian sebentar yang terlupakan, melainkan menjadi kontribusi berbobot dan berkelanjutan. Dengan demikian, mahasiswa dapat memperoleh hasil yang bermakna dan pengalaman yang mendalam, yang nantinya akan menjadi sumbangan berharga bagi perkembangan pribadi dan kualitas kegiatan organisasi.

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan

*Penulis adalah Alumni UPI

Comments

comments