Kematian yang Pilu

54

Bandung, isolapos.com-

Pedang itu terus beradu, menusuk satu persatu lawannya. Namun tak ada yang hidup, baik  Eteocles maupun Polynices. Dua manusia yang masih punya hubungan saudara ini saling membunuh. Eteocles membela Creon (Decky Setiawan) yang menjadi Raja, sedangkan Polinices dianggap Creon sebagai pemberontak karena tidak membelanya sebagai raja.

Ketika keduanya mati, cara keduanya dikuburkan pun berbeda. Eteocles dimakamkan dengan semestinya yakni lewat  upacara. Berbeda dengan Polynices yang jenazahnya dibiarkan begitu saja, dicabik gagak juga srigala.

Melihat saudaranya yang diperlakukan tidak adil, Antigone (Tiara Anjani) saudara perempuan Polinices, berniat untuk menguburkan Polinices walaupun dengan hukuman mati sekalipun, ia beranggapan tidak ada kematian yang paling suci selain membela kebenaran.

Namun, tindakan Antigone diketahui oleh Raja Creon yang menyebabkan raja tersebut menjadi marah besar. Antigone pun akan dihukum dengan cara dikubur hidup-hidup.

Seorang pendeta mengutuk segala tindakan yang dilakukan Creon karea membiarkan mayat begitu saja. “Mayat akan di bayar dengan mayat dan nyawa akan dibayar dengan nyawa,” ujarnya.

Beberapa saat kemudian, malapetaka itu pun terjadi. Anak Creon, Haemon (Zaenal Ahmad)  mati bunuh diri karena melihat Antigone mati, juga Ibunya yang mati karena mendengar Haemon mati. Keluarga Creon pun sudah tak tersisa lagi.

Pertunjukan tersebut diperankan oleh kelompok Teater Gestapu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri  10 Bandung. Pertunjukan yang disutradarai oleh Nanda Darius ini berjudul Antigone, dimainkan di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Sabtu (12/05). [Julia Hartini]

 

Comments

comments