MCK FPMIPA B Masih Tak Layak Pakai

126

Oleh: Rani Herlina (*reporter magang)

Bumi Siliwangi, isolapos.com,- Fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di Gedung FPMIPA B Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) nampak rusak dan tak layak pakai. Gedung yang baru beroperasi sejak awal tahun 2014 lalu itu masih memiliki toilet dan sumber air yang bermasalah.

Sejumlah keluhan pun datang dari beberapa mahasiswa karena lambatnya penangan dari pihak fakultas maupun universitas. Menurut mahasiswa Pendidikan Kimia 2014, Erwan Prasetya, fasilitas toilet dan kualitas air di gedung tersebut memperihatinkan. Sejak awal berkuliah hingga saat ini dirinya mengherankan karena beberapa dinding dan ruang kamar mandi yang ada nampak tidak dirawat dan diperbaiki.

“Heran, kenapa dari semester satu tidak ada perubahan. Bahkan pas wudhu, saya pernah mau muntah karena airnya bau. Toiletnya juga bau pesing. Dinding toiletnya kotor, seperti tidak pernah dibersihkan,” cetusnya.

Kepala Sub. Bagian Umum dan Perlengkapan FPMIPA, Nandang menjelaskan ada tiga masalah utama yang dihadapi FPMIPA yaitu, listrik, toilet, dan kualitas air. Pada tahun 2015, toilet yang ada di lantai 1 terpaksa ditutup karena menyebabkan genangan air. Genangan air tersebut tak lain berasal dari luapan wastafel dan kloset kamar mandi yang tersumbat pada pipa pembuangan. Berdasarkan penelusurannya, Nandang menuturkan luapan air tersebut juga mengakibatkan sejumlah induksi dan korsleting pada sejumlah arus listrik di fakultas.

Sejak mulai dioperasikan, Nandang mengakui gedung FPMIPA B masih belum tuntas dan optimal. Kualitas air dan penyumbatan pipa pembuangan misalnya yang ditengarai karena pembangunan septictank yang tidak didukung oleh resapan yang memadai. Selain itu, permasalahan kualitas air juga disebabkan karena sumber air yang kering dan sistem water treatment yang tak terkelola dengan baik. Sebelumnya, daerah resapan air itu pula cepat terkuras karena harus berbagi dengan Sekolah Percontohan UPI. Sehingga saat itu, mesin penyerap air rusak dan terbakar karena beroperasi tapi tak memberikan hasil.

“Akhirnya, kita coba berinisiatif bikin sumur. Ternyata setelah lama baru ketahuan bahwa kualitas air jelek. Di tahun 2015, kita coba bikin sumur lagi dengan kedalaman 60 meter. Awalnya ya bagus, ternyata setelah diganti dengan sumber air yang baru, air sama jeleknya, bahkan lebih jelek,”ujarnya.

Sejak dua tahun yang lalu, upaya perbaikan dan peremajaan terus dilakukan namun terhambat karena keuangan yang terbatas, Nandang menjanjikan akan mengatasi ketiga masalah tersebut satu persatu. Menurutnya sampai saat ini, penanganan terhadap listrik yang menjadi prioritas pertama kini sudah mencapai 80%. Kemudian untuk memperbaiki kualitas air, Nandang menambahkan bahwa pihak fakultas sedang mengusulkan pembangunan saluran dan tangki penampung yang bersumber dari air Sungai Cihideung dengan sistem water treatment.

Comments

comments