Kekosongan Bakal Calon Presma UPI, Dirmawa Sebut Tanda Krisis Idealisme Mahasiswa
Oleh: Sanjaya Setia Permana & Amirul Fadilah Alfarizi
Bumi Siliwangi, Isolapos.com– Perpanjangan pendaftaran bakal calon Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) akan mencapai batas waktu 15 hari kerja kumulatif pada Rabu (18/01). Namun, hingga kini belum terdapat satu pun mahasiswa mendaftarkan diri. Situasi ini menjadi sorotan serius Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPU) dan Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UPI.
Isolapos menemui Muhammad Izzul Kamil selaku Ketua KPU ketika penutupan pendaftaran sebelumnya pada tanggal 5 Juni. Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah mengupayakan penyebaran informasi penjaringan bakal calon melalui media sosial serta koordinasi dengan ketua-ketua ormawa fakultas. Namun, hasilnya masih nihil. “Kami sudah membuka komunikasi dan melakukan sosialisasi sejak sebulan terakhir, tetapi tetap belum ada yang mendaftar,” ujarnya.
KPU sendiri mengakui adanya hambatan internal yang memperlambat proses awal, termasuk kekosongan kepemimpinan sebelumnya yang menyebabkan KPU sempat tidak aktif. “Ketua sebelumnya menghilang dan kami kehilangan arah hingga akhirnya saya ditunjuk sebagai ketua baru,” ujar Izzul.
Saat itu, KPU mempertimbangkan untuk memperpanjang masa penjaringan hingga pertengahan Juni jika hingga batas akhir pendaftaran tak juga muncul bakal calon. “…, Nah kalau sampai tanggal 5 itu belum ada, kita masih bisa melakukan perpanjangan. Perpanjangan pendaftaran, karena memang proses pengumpulan berkas-berkas itu memang agak cukup lama“ ujar Izzul
Direktur Kemahasiswaan, Prayoga Bestari, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia menyebut kekosongan kepemimpinan mahasiswa bukan kali pertama terjadi, melainkan sudah berulang selama tiga tahun terakhir. “Dulu mahasiswa berlomba-lomba mencalonkan diri. Sekarang, ini jadi pertanyaan besar. Apa yang sebenarnya terjadi?” tutur Prayoga.
Prayoga menilai, fenomena ini menunjukkan adanya krisis idealisme di kalangan mahasiswa. Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk autisme sosial mahasiswa di mana mahasiswa terlalu tenggelam dalam urusan pribadi dan enggan terlibat dalam organisasi.
Apabila langkah KPU pun tak membuahkan hasil, Dirmawa berencana mengambil langkah langsung dengan melibatkan DPM, MPM, serta perwakilan fakultas guna menyepakati mekanisme alternatif, termasuk opsi pengangkatan melalui musyawarah mufakat.
“Kami tidak ingin turun tangan. Tapi kalau mahasiswa tidak bergerak, ini mencoreng wajah kampus. Mau undangan dari luar, siapa yang hadir kalau tidak ada Presiden Mahasiswa?” Tegas Prayoga. []
Redaktur: Harven Kawatu