Perubahan Skema Wisuda UPI: Dari Tiga Menjadi Lima Gelombang.
Oleh: M. Farrell R.A., Meyca N.S., & Marleny F.A.
Bumi Siliwangi, Isolapos.com-Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan perubahan signifikan pada Kalender Akademik tahun 2026-2027 yang dikeluarkan pada Rabu (07/01). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kampus Bumi Siliwangi kini secara resmi menambah frekuensi wisuda menjadi lima gelombang, sebuah langkah yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan terhadap calon wisudawan, Organisasi mahasiswa (Ormawa), maupun dosen.
Alasan Penambahan Gelombang Wisuda UPI
Angga Hadiapurwa selaku Kepala Seksi Komunikasi dan Media dari Kantor Komunikasi, Informasi dan Pelayanan Publik (KKIPP) UPI memberikan tanggapan terkait alasan dibalik adanya penambahan jadwal wisuda menjadi lima gelombang. Ia menyatakan bahwasannya perubahan ini berasal dari adanya evaluasi pada pelaksanaan wisuda yang telah dilaksanakan sebanyak tiga gelombang pada tahun sebelumnya.
Penambahan frekuensi gelombang pada tahun ini juga dilatarbelakangi oleh adanya keinginan pihak kampus untuk mempercepat masa tunggu dari sidang menuju ke wisuda. Dalam hal ini, Angga menyampaikan bahwa percepatan masa tunggu ini diharapkan juga bisa membantu alumni dalam mempercepat masa kerja setelah mendapatkan ijazah. “Jadi maksudnya ujian sidang (dilaksanakan-red) bulan apa sehingga bisa lanjut agak cepat ke wisudanya. Sehingga nanti kalau (ada-red) pekerjaan yang membutuhkan ijazah itu lebih cepat gitu (mendapatkan ijazahnya-red)” jelasnya.
Lebih lanjut, Angga menyampaikan bahwa menghindari penumpukan wisudawan juga menjadi pertimbangan besar dalam penambahan gelombang wisuda kali ini. Hal ini juga disampaikan sebagai bentuk evaluasi dari pelaksanaan wisuda tahun sebelumnya yang mengalami penumpukan selama tiga hari pelaksanaan wisuda, di salah satu gelombangnya. “Kan kita ketahui ya bahwa yang (wisuda-red) tiga gelombang itu kadang ada dua hari, ada bahkan kalau banyak tiga hari. Sehingga itu effortnya (dari pihak kampus-red) lebih tinggi. Nah harapan dengan adanya wisuda lima gelombang ini lebih tertib, lebih rapi lagi dalam pengelolaan dan juga lebih efektif dan efisien dari segi penyelenggaraan gitu ya dan lain-lain gitu itu yang utama” tuturnya.
Respon Positif Terhadap Penambahan Gelombang Wisuda
Penambahan gelombang ini disambut dengan baik oleh seorang mahasiswa calon wisudawan. Tanggapan ini diungkapkan oleh Dede Firdaus selaku calon wisudawan dari Pendidikan Geografi. Ia mengungkapkan bahwasannya penambahan gelombang ini membuat distribusi mahasiswa saat pelaksanaan wisuda jadi lebih merata, dan tidak menyebabkan penumpukan di satu gelombang saja. “Jadi dengan adanya lima (gelombang-red) ini, jadi bisa lebih apa ya, kayak lebih lenggang gitulah biar kayak leluasa juga, gak menumpuk, gak riweuh, gak paciweuh di UPI-nya gitu” ungkapnya.
Dede juga menuturkan bahwa wisuda lima gelombang ini memberikan kemudahan kepada mahasiswa. Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Angga sebelumnya, ia juga menyebutkan terkait penambahan waktu wisuda dari masa sidang. “Jadi biar gak terlalu lama nunggu juga ya, dari (saat-red) kita ditetapin Yudisiumnya sampai Wisudanya gitu, karena biasanya masuk awal-awal dari Sidang, Yudisium, sampai Wisudanya” jelasnya.
Ia menyatakan pilihannya langsung pada pelaksanaan wisuda lima gelombang yang menurutnya lebih menguntungkan. “Ya kalau dikasih pilihan, aku maunya yang lima (gelombang-red), karena biar banyak pilihan mau wisudanya kapan dan biar gak nunggu terlalu lama juga” pungkasnya.
Mursyid Setiawan, dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), juga turut menilai kebijakan wisuda lima gelombang ini. Ia mengatakan bahwa wisuda lima gelombang ini membawa dampak positif terhadap keberlangsungan kegiatan akademik. Bahwa dibandingkan sistem tiga gelombang yang cenderung padat hingga berlangsung 2–3 hari membuat kegiatan perkuliahan, dan akses menuju kampus menjadi lebih terganggu.
Menurutnya, wisuda lima gelombang ini dapat membuat aksesibilitas kampus dan kegiatan perkuliahan menjadi lebih mudah “Kalau dulu alasannya karena wisuda gak usah luring. Sekarang mah baik daring maupun luring aman-aman saja. Jadi justru tidak menghambat sama sekali kualitas pembelajaran” ungkapnya.
Meski wisuda lima gelombang ini dinilai lebih memberikan kemudahan untuk kegiatan pembelajaran, Mursyid juga tetap memberikan saran kepada pihak kampus untuk tetap memperhatikan keamanan dan menghimbau untuk menjaga kualitas kegiatan pembelajaran selama wisuda berlangsung.
Suara Pengurus Organisasi Mahasiswa dalam Menanggapi Perubahan Skema Wisuda
Dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa) atau himpunan, kegiatan menyambut wisudawan atau yang lebih dikenal sebagai arak-arakan, merupakan hal yang penting untuk meningkatkan antusiasme para wisudawan, karena tradisi perayaan ini menjadi simbolis bagi wisudawan untuk menunjukkan apresiasi, rasa solidaritas dan perjuangan.
Ketua BEM Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi, Fazrul Ramadhanni, menilai bahwa kebijakan wisuda lima gelombang memang memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk menyesuaikan jadwal kelulusan serta efektif mengurangi kepadatan ribuan orang yang sering mengganggu mobilitas dan perkuliahan di lingkungan UPI. Namun, dari sisi organisasi, kebijakan ini dikhawatirkan memberatkan kas mahasiswa karena biaya operasional arak-arakan membengkak, serta berisiko bentrok dengan jadwal praktikum akademik.“Makin banyaknya rangkaian (wisuda-red), akan bentrok dengan jadwal akademik. Belum tentu lagi kalau misalkan ada praktikum kami dari mahasiswa pendidikan geografi atau sebagainya.” ungkapnya.
Kegiatan arak-arakan juga kerap kali membutuhkan dana yang cukup besar karena banyaknya hal yang dibutuhkan untuk meningkatkan antusiasme dan keramaian kegiatan tersebut. Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan karena adanya penambahan frekuensi wisuda menjadi lima gelombang “…tentu akan menjadikan keluaran yang baru gitu untuk kami. Karena lima kali (kegiatan wisudanya-red). Kalau misalnya sebelumnya tiga kali, pengeluarannya jadi lima kali itu menjadi banyak (pengeluarannya-red)” jelasnya.
Firstyawan Hardi Pratama Putra (Fyan) sebagai salah satu mahasiswa yang aktif dalam kegiatan Ormawa juga memberikan opini nya terkait wisuda lima gelombang yang dirasa menambah beban program kerja himpunannya, “Karena ya secara aspek Ormawa ya berarti harus ada semacam penambahan program kerja. Jadi ya dirasa bagus atau enggak (kebijakannya-red) ya pasti ada plus minusnya dalam setiap kebijakan. Tapi ya di sisi lain memang dari segi intensitas program kerja (himpunan-red) otomatis lebih padat gitu” ujarnya. Fyan juga menambahkan bahwa dalam keputusan untuk wisuda lima gelombang ini menjadi niat baik tersendiri dari kampus agar bisa menggaet lulusan sebanyak-banyaknya dalam setahun.
Ghozi Syahidi selaku ketua Badan Pelaksana Organisasi (BPO) Senat FPIPS memberikan pandangannya mengenai wisuda yang diubah menjadi lima gelombang ini. “Kalau pandangannya perihal wisuda ini dijadikan lima gelombang, sebetulnya secara plus dan minus belum terasa ya, karena baru di tahun ini juga dilaksanakan, pun baru ada perubahan-perubahan secara taktis keorganisasiannya, jadi belum signifikan terasa di internal keorganisasian senat khususnya gitu ya, yang dalam hal ini karena saya mengetuainya senat.” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa pemberitahuan akan perubahan wisuda lima gelombang yang mendadak, menjadi tantangan sendiri secara taktis keorganisasian.
Ghozi juga mengungkapkan keinginannya untuk memberikan ruang lebih kepada calon wisudawan melalui agenda arak-arakan “Kita, saya pribadi khususnya bercita-cita untuk mengadakan euforia yang cukup besar di lingkungan senat FPIPS, apalagi ketika wisudawan tersebut merupakan bukan hanya sebagai alumni dari FPIPS aja.” pungkasnya.
Menanggapi berbagai keresahan tersebut, Angga selaku Kepala Seksi Komunikasi dan Media mengungkapkan bahwa dengan adanya wisuda lima gelombang ini para mahasiswa diharapkan untuk mengambil sisi positifnya, seperti jadwal ujian sidang yang lebih dekat bagi para wisudawan “Mungkin itu dimohon pengertiannya gitu ya. Karena ini sebagai upaya, upaya untuk tadi, untuk lebih menertibkan lagi (kegiatan wisuda-red) sudah gitu ya. Kemudian juga mempercepat masa tunggu” jelasnya.
Langkah Strategis Pihak Kampus dalam Mempersiapkan Transisi Frekuensi Wisuda
Mengenai persiapan dalam melaksanakan wisuda dengan lima gelombang ini, Angga menjelaskan bahwa terdapat upaya signifikan untuk meninjau kembali pelaksanaan wisuda tiga gelombang sebelumnya guna meningkatkan efektivitas, ketertiban, dan kerapian dalam pengelolaan. Juga dari segi penyelenggaraan yang dinilai bisa lebih efektif dan efisien daripada sebelumnya.
Ia juga menjelaskan perihal bagaimana pihak UPI mengontrol adanya keramaian selama wisuda berlangsung. KKIPP kini tengah mempersiapkan wisuda gelombang dua yang diperkirakan dihadiri sekitar 5.100 wisudawan ditambah oleh dua pendamping dari masing-masing wisudawan.
Untuk menanggulangi kepadatan, KKIPP akan membatasi kehadiran dengan QR Code yang sudah dibuat oleh Sistem dan Teknologi Informasi (STI) UPI. “Nah itu kalau kapasitas gymnasium dengan wisudawan di tengah, kemudian para pendamping di kiri kanan, belakang, dan juga atas, nah itu masih bisa terpenuhi. Dengan catatan tadi, tidak lebih dari sekian gitu. Nah untuk membatasinya adalah dengan QR Code tadi. Seperti itu. Berarti kan sudah dipersiapkan.” jelas Angga.
Angga juga mengharapkan kebijakan wisuda lima gelombang ini dapat mengurangi kemacetan di daerah kampus selama wisuda berlangsung, juga membuat jadwal wisudawan menjadi lebih dekat dari ujian sidang, kemudian dapat mempercepat masa tunggu wisuda. Adapun aspek dari kenyamanan, keamanan dan ketertiban yang tak luput dari perhatian kebijakan ini. “Tentunya ya (wisuda-red) lima gelombang ini memperbesar peluang mahasiswa lebih cepat lulus, lebih cepat mendapatkan ijazah dulu ya, penyebaran ijazahnya. Dan juga lebih cepat dalam berkarir gitu ya, melamar pekerjaan dan lain-lain. Sehingga lulusan UPI ini bisa lebih banyak yang tepat waktu” tutupnya.
Editor: Sennita T.D.