Coreng Moreng Intercultural Exhibition
Oleh: Gian Fajar
Bandung, Isolapos.com – Workashopa, layanan pendidikan seni rupa untuk anak dan remaja, menggelar acara Coreng Moreng Intercultural Exhibition, berkolaborasi dengan komunitas pengungsi (Refugee Community) pada Sabtu (13/12). Acara yang diselenggarakan di ITB Press Jl. Ganesha no 156 ini berfokus pada pameran lukisan hasil karya anak-anak Workashopa serta anak-anak refugees yang berada di bawah naungan UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees).
Sahrul Ari Saputra selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa acara ini bertujuan sebagai sarana eksplorasi anak serta menjadi pengingat bagi orang dewasa terkait masa coreng moreng atau menggambar bebas.
Coreng Moreng berawal dari program belajar Artground yang memposisikan anak sebagai seniman yang diarahkan khusus untuk pameran. “Jadi aku sama Yana partner aku bikin kurikulum untuk ArtGround namanya. Jadi ArtGround itu inspirasinya dari taman bermain” jelasnya. Menurutnya seni merupakan wahana paling aman untuk anak dalam berekspresi tanpa menyakiti siapapun.
Sahrul juga mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program ini adalah persoalan regulasi dan kepercayaan dari para orang tua. Keterlibatan anak-anak refugees tidak dapat dilakukan secara langsung karena harus melalui izin para orang tua serta koordinasi dengan UNHCR sebagai lembaga terkait.
Di sisi lain, Anton Susanto selaku kurator dalam Exhibition ini menceritakan pengalaman menarik selama proses kurasi karya anak-anak tersebut. Menurutnya karya seni anak-anak selalu memiliki ruang khusus di dalam perkembangan seni, terkhususnya mengenai ekspresi. “Dimana anak tuh tidak takut salah, karya seninya tuh ekspresif, sangat-sangat jujur, autentik, orisinal” ungkapnya.
Anton menjelaskan bahwa terdapat 28 hingga 30 karya yang dipamerkan dalam Exhibition tersebut, dengan rentang usia seniman yang sangat luas. Rentang usia ini menjadikan Exhibition tersebut semakin menarik sekaligus menantang. “Ini menurut saya juga jadi cukup menarik dan cukup menantang karena biasanya karya anak-anak mah enggak digabungin dengan yang dewasa” imbuhnya.
Exhibition ini akan berlanjut hingga tanggal 22 Desember 2025 dengan tetap memamerkan karya anak-anak disertai agenda workshop. Sesuai dengan timeline yang diunggah pada postingan Instagram @workashopa, kegiatan tersebut meliputi workshop Character Design bersama Miftah Fauzan pada 18 Desember, Sketch Jamming (Draw, Talk, and Share) bersama Bronto pada 19 Desember, Family Art Time Workshop dan Illustration Workshop bersama Zaidan Katsura pada 21 Desember. Seluruh rangkaian kegiatan ini akan ditutup secara resmi pada tanggal 22 Desember 2025.
Coreng Moreng hadir sebagai pengingat bahwa seni adalah bahasa universal ruang aman tempat setiap individu, tanpa memandang usia, suku, ras, agama, maupun kebangsaan. Di dalam goresan kuas dan warna cat, setiap orang memiliki kebebasan yang setara untuk hadir, bercerita, dan mengekspresikan pengalaman hidupnya dengan caranya sendiri.
Redaktur: Sennitya Tya Divany