Kita Orang Kecil: Sialnya, Kita Hanya Diam dan Menguap.

55

Oleh: Rakha Ajriya Di’fan

Judul: Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya

Penulis: Puthut E.A.

Ilustrator: Gindring Waste

Penerbit: Shira Media

Tahun Terbit: 12 November 2019

Jumlah Halaman: 122

Melihat kata “brengsek” pada judulnya, buku ini riskan membuat seorang ibu menaruh curiga pada kondisi pergaulan anaknya. Ditambah ilustrasi bernuansa “gelap” dan “brutal”, seolah tampak wajar jika sang ibu membakar buku ini dan memanfaatkan abunya untuk dicampur pupuk kompos belakang rumah. Tapi meskipun begitu, sebenarnya akan lebih berguna jika buku ini dibaca, setidaknya. Dan lebih bijak jika direnungi apa makna di balik kekasaran kata-kata “telanjang” di dalamnya.          

Gaya bahasa yang dibawakan terkesan sederhana, diksinya vulgar dengan gambar yang bebas menjadi ciri khas keseluruhan isi buku yang ditulis oleh Puthut EA dan divisualisasikan oleh Gindring Waste ini. Ceritanya dibuat jujur, sejujur-jujurnya mengekspresikan kritik sosial tanpa tedeng aling-aling penghalusan kata agar terlihat sopan dan enak dibaca.

Gambaran isi ceritanya mencoba untuk mengorek sisi gelap yang menjangkiti orang umumnya saat ini: tentang jiwa yang berontak, di dalam raga yang diam ketakutan. Sisi gelapnya manusia inilah yang kemudian direpresentasikan oleh sosok “Aku” sebagai tokoh utama dari cerita hidupnya sendiri. 

“Aku menuliskan ini tidak dengan kemarahan. Maaf. Hidup telah mengajarkanku untuk menelan rasa marah, terhina, disepelekan, dimanfaatkan, ditipu, ditunggangi, diremukkan seluruh harga diri dan eksistensiku.” (Hal. 1)

Tokoh utamanya adalah seorang anak manusia yang didera banyak kesialan takdir. Dia hidup di lingkungan keluarga yang kacau. Lahir di atas becak, yang tak berselang lama kelahirannya menjadi salah satu penyebab bapaknya meninggal didera depresi berat dan serangan jantung. Ibunya pun abai, kedua kakaknya juga hanya preman yang lebih banyak mengasari dibandingkan melindungi adiknya. 

Hidupnya menderita di bawah garis kemiskinan yang begitu radikal. Bahkan semasa kecil, dia terpaksa memakan tikus dan kadal. Karena menangisnya dia saat kelaparan meminta nasi, malah lemparan kursi dari kakaknya yang diterima kepala kecil dengan isi pikirannya yang masih polos itu. Campuran air mata yang berurai, dengan aliran garis merah darah ke mulutnya menjadi santapan asin yang menyadarkan dia tentang absurdnya hidup, tentang kebrengsekan yang dipaksa masuk catatan goresan takdirnya.

Kondisi hidup hancur lebur itulah yang menjadikan dirinya terpaksa membentuk kepribadian yang “mati rasa”.  Hatinya teriak, tapi rasa takut mengekang ruang geraknya ‘tuk berontak. Meski pikiran dan nuraninya menyatakan penyangkalan kepada setiap kegilaan hidup yang amoral, tapi keterbatasan mental membentuk dirinya menjadi seorang yang apatis. Memilih bersikap bodo amat pada bobroknya realitas lingkungan, menjadi pilihannya karena dirasa paling aman, dan mungkin selamat.

“Mereka bilang hidup ini indah, Padahal hidup ini brengsek. Makin brengsek karena kita pengecut. Mungkin karena kita tahu, seandainya kita jadi mereka, kita akan melakukan hal yang sama.

Lihat seperti yang kujanjikan di depan, aku menuliskannya tidak dengan rasa marah bukan? Karena aku tahu, marah tidak baik untuk kesehatan kita. Tidak baik untuk tata krama masyarakat kita. Terima kasih.” (Hal. 103)

Dinilai dari segi pesan abstrak isi bukunya, secara umum buku ini layak dan patut dibaca. Pemaknaan yang menembus kata-kata denotatifnya akan membawa pembaca pada arti implisit teks –intisari maksud penulis yang ingin diutarakan–. Namun di sisi lain seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa gaya bahasa penceritaan yang frontal dan datar dengan diksi-diksi kasarnya, mungkin akan membawa kesan tidak nyaman pada pembaca yang tidak terbiasa dengan kenaifan etika Si Tokoh Utama yang “bermonolog’ di dalam buku tersebut. 

Editor: Sennita Tya Divany

You might also like