Oleh: Ayo Sunaryo, & Yana Endrayanto*
Bagaimana jika gerakan tari tradisional yang selama ini diwariskan dari guru ke murid dapat disimpan dalam bentuk data digital? Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam mengembangkan sistem analisis gerak Tari Keurseus berbasis Mediapipe.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan pelestarian budaya semakin kompleks. Banyak pengetahuan tubuh yang dimiliki para maestro tari, hidup dalam praktik dan pengalaman, namun belum seluruhnya terdokumentasikan secara rinci. Ketika seorang maestro wafat, tidak sedikit pengetahuan gerak yang ikut hilang bersamanya.
Melalui penelitian berjudul Markerless Motion Capture dengan Kerangka Pengayaan Metadata untuk Sistem Analisis Gerak Tari Sunda secara real time, tim peneliti UPI mencoba menghadirkan pendekatan baru dalam pelestarian tari tradisional. Riset yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI Tahun 2026 ini, berupaya menerjemahkan gerak tari menjadi metadata digital yang dapat disimpan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sumber: Dokumentasi Penulis
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd., bersama Dr. Sukanta, M.Pd., dan Dr. Reni Haerani, M.Pd., yang merupakan dosen Program Studi Magister Pendidikan Seni Sekolah Pascasarjana UPI. Fokus penelitian diarahkan pada Tari Keurseus, salah satu bentuk tari klasik Sunda yang memiliki struktur gerak kompleks dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan tari Sunda. Yang menarik, penelitian ini tidak menggunakan teknologi motion capture konvensional yang mengharuskan penari mengenakan sensor atau penanda khusus di tubuh. Sebaliknya, sistem yang dikembangkan mampu membaca dan menganalisis gerak tubuh hanya melalui kamera biasa (OpenCV).
Teknologi tersebut memanfaatkan MediaPipe Pose dan dikembangkan oleh Yana Endrayanto, M.Pd., yang merupakan alumni Program Studi Pendidikan Seni Sekolah Pascasarjana UPI. Melalui sistem ini, kamera dapat mengenali berbagai titik anatomi tubuh manusia secara real time, mulai dari kepala, bahu, siku, pinggul, lutut, hingga pergelangan kaki.
Untuk memastikan akurasi data, penelitian ini melibatkan dua ahli Tari Keurseus yakni, Tatang Taryana, S.Sn., M.Sn., selaku dosen senior di UPI, serta Dr. Asep Sulaeman, S.Sn., M.Hum., yang merupakan dosen purnabakti di ISBI Bandung. Keduanya menjadi sumber utama dalam proses perekaman dan validasi gerak tari.
Hasilnya cukup menarik, tim peneliti berhasil memetakan 51 pose Tari Keurseus ke dalam bentuk metadata digital. Beberapa di antaranya adalah pose Ngeupeul Sila Mando, Sembah, Sembah Gagah, Nyampurit, Nangreu, Rumbai, Kepengan, Tugelan, hingga Tumpang Tali. Setiap pose tidak hanya direkam sebagai gambar atau video, tetapi juga diterjemahkan menjadi data yang memuat sudut-sudut sendi, orientasi kepala, kemiringan tubuh, proporsi anggota tubuh, hingga tingkat keterbacaan pose oleh sistem. Dengan kata lain, gerak tari yang sebelumnya hanya dapat diamati secara visual kini memiliki “jejak digital” yang dapat dianalisis secara lebih mendalam.
Menurut ketua peneliti, Dr. Ayo Sunaryo, teknologi yang dikembangkan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru tari maupun pengalaman tubuh dalam proses berkesenian.

Sumber: Dokumentasi Penulis
“Teknologi dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru tari, seniman, atau pengalaman tubuh dalam proses berkesenian. Teknologi justru hadir untuk memperkuat dokumentasi, memperjelas analisis, dan memperluas akses pembelajaran,” ujarnya.
Pandangan tersebut menjadi penting karena seni tari pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang ketepatan posisi tubuh, tetapi juga rasa, ekspresi, dan pengalaman artistik yang tidak sepenuhnya dapat diterjemahkan menjadi angka. Teknologi hadir sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti.
Dalam dunia pendidikan seni, sistem ini membuka peluang baru. Mahasiswa atau pelajar tari dapat berlatih di depan kamera dan memperoleh umpan balik awal mengenai kesesuaian geraknya dengan referensi yang telah direkam dari para ahli. Proses belajar menjadi lebih terukur tanpa menghilangkan peran pendidik sebagai sumber utama pengetahuan artistik. Lebih jauh lagi, metadata yang dihasilkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan laboratorium digital tari Sunda, museum virtual gerak tari, arsip nasional tari Nusantara, hingga sistem pembelajaran berbasis kecerdasan buatan di masa depan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi dan tradisi tidak selalu berada di dua kutub yang berlawanan. Justru ketika keduanya dipertemukan secara bijak, lahir cara-cara baru untuk menjaga warisan budaya tetap hidup, relevan, dan dapat diakses oleh generasi mendatang. Di masa ketika hampir semua hal dapat didigitalisasi, upaya para peneliti UPI ini mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya soal masa depan, teknologi juga dapat menjadi cara baru untuk merawat masa lalu.
*Penulis merupakan sivitas akademika SPS Program Studi Pendidikan Seni.

