Menilik Semangat Pejuang Kesetaraan Difabel

125

 

Oleh: Muhammad Zaki Annasyath

Yogyakarta, Isolapos.com – Sabtu sore.Tepatnya tanggal 20 Oktober yang lalu. Langit terlihat cerah ketika itu. Burung-burung dengan riang berkicau di kaki langit. Jam menunjukkan pukul 16.00 ketika pelatihan mengenai difabilisme dimulai. Ya, difabilisme. Kata yang asing di telinga saya. Pun dengan tema pelatihan “Indepth Report difabel”, suatu hal yang belum pernah saya terjamahkan menjadi berita.

Berawal dari pesan singkat yang dikirim Caca di grup line Isolapos hari kamis 27 September 2018 jam 16.47 WIB. Isinya sederhana. Permohonan delegasi dari sebuah media bernama Solider untuk Isolapos. Sederhana bagi orang lain, tapi tidak bagi saya. Sebab pelatihan diselenggarakan di Yogyakarta, kota kelahiran saya. Yang sedikit banyak mempengaruhi saya untuk ikut menjadi delegasi Isolapos. Ikut pelatihan sekaligus pulang gratis. Hm. Menarik.

Kegiatan dibuka dengan perkenalan para peserta yang dipimpin Ajiwan Arief selaku Redaktur Media Solider, dilanjut sambutan dari Suharto selaku direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), lembaga yang menaungi Solider. Unik disini, para peserta terdiri dari kontributor yang tahun lalu telah mengikuti pelatihan, kebanyakan dari mereka merupakan penyandang difabel. Lebih mengagetkan saya, teman persma yang menjadi delegasi hanya 6 orang!. Ini membuat saya sedikit gugup karena dikelilingi wartawan-wartawan senior Solider. Ishak Salim, Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDik) Sulawesi Selatan, diberikan kesempatan pertama oleh SIGAB untuk menjadi pemateri pada kegiatan sore itu. Beliau memaparkan perihal media dan difabelisme “Media bertanggung jawab terhadap istilah-istilah yang menciptakan stigma di dalam masyarakat,” Ujar Ishak di sela-sela pematerian. Lebih lanjut Ishak menjelaskan mengenai politik kecacatan dan berbagai stigma yang melahirkan diskriminasi. Beliau memberi contoh yaitu kasus Windi “Cah Bodoh”

Pematerian berlangsung kondusif tapi tidak stagnan. Beberapa kali terdengar tawa dari sudut-sudut ruangan ketika Ishak menjelaskan. Tak bisa dipungkiri, Ishak membawakan materi dengan begitu lincah dan asyik. Para peserta pun terlihat antusias dan bersemangat. Saya jadi teringat dengan orang-orang difabel didekat kos saya. Mereka, selalu terlihat saat sholat berjamaah di masjid. Di sela-sela kesibukan, mereka tetap berusaha menyempatkan diri untuk selalu datang menunaikan sholat berjamaah. Salah satunya adalah penyandang difabel kinetic (Bermasalah dengan alat gerak). Untuk berjalan saja, ia harus mengesot dengan susah payah. Ketika menuju masjid, ia menggunakan motor khusus roda empat yang memungkinkan dirinya untuk berkendara.  Seakan menyentil jiwa saya “Selama ini, kenapa tidak sholat di masjid?”

Sesi selanjutnya diadakan setelah sholat isya. Bambang Muryanto selaku perwakilan dari AJI Jogja dan juga Wartawan JakartaPost mengisi pematerian tentang Indepth Reporting berangkat dari perspektif para peserta. Bambang mengajak peserta kegiatan untuk berdiskusi mengenai kendala mereka saat mengerjakan tugas liputan. Alhasil, diskusi pun mengalir lancar. Tidak mau kalah, Kawan-kawan persma ikut juga meramaikan jalannya diskusi saat itu. “Jika ada permintaan Off the record, maka kita harus berkompromi dengan narasumber” Jawab salah satu kawan persma ketika ditanya mengenai permasalahan Off the Record. Malam itu ditutup dengan segelas teh sebelum pergi tidur.

Hari berikutnya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, peserta sudah kembali berkumpul di ruangan meeting untuk mengikuti pematerian. Antusiasme para peserta masih kentara. Hal itu terlihat dari semangat peserta ketika menjawab beberapa celetukan konyol dari Ajiwan. Penampilan Stand Up Comedy dari Syarif (difabel netra) yang juga sekamar dengan saya turut mewarnai suasana pagi itu. “Semoga saja lucu” Celetuk Syarif ketika naik panggung. Syarif dengan cerdas membawakan lelucon tentang dirinya yang berbeda. Unik, pikir saya.

Pematerian pagi itu, diisi kembali oleh Bambang. Masih membahas Indepth Report. Namun, kali ini pembahasan jauh lebih menarik dan dalam. Bambang mengulas bagaimana sebuah Indepth Report mampu mempengaruhi sebuah hukum. Ia mengambil kasus di Irlandia, ketika seorang wartawan berani mengungkap kasus mafia narkoba yang membuat pemerintah mengeluarkan Undang-undang anti narkoba. Walaupun harus dibayar dengan nyawa. Selain itu, beliau juga menerangkan perbedaan antara Indepth Reporting dengan Investigation Reporting. Kurang lebih Indepth reporting lebih pendek tulisannya dibanding dengan investigation. “Bisa juga liputan Investigasi menjadi tindak lanjut dari Indepth Reporting” Kata Bambang, ketika berbincang santai dengan kawan-kawan persma setelah pematerian.

Beranjak siang, kami mulai membahas tulisan Indepth Reporting dari salah satu reporter Solider. Diskusi berlangsung asyik, karena adu argument atara si penulis dengan peserta. Jangan dibayangkan adu argument bercampur emosi, bukan. Canda tawa menyelingi sesi ini. Membuat suasana begitu hangat, namun kritis. Beberapa kali terlihat Bambang juga ikut tertawa dan tenggelam dalam diskusi ini. Walaupun matahari sudah semakin tinggi, namun semangat peserta untuk terus mengikuti pematerian tidak padam. Malahan mungkin saja bertambah.

Saya selalu melihat kedalam diri saya sendiri, ketika itu. Ditengah kejenuhan menjalani rutinitas hidup, saya dipertemukan dengan mereka. Wajah-wajah yang selalu ceria, yang selalu mengingatkan saya untuk terus bersyukur kepada tuhan atas segala hidup saya. Ah, Dibanding mereka saya bukanlah apa-apa. []

Redaktur: Dzahban Jodhie

Comments

comments