Mudik dengan Terbang di Bawah Karpet Aladdin

39

Oleh: Wulan Rahmafinia

*) Penulis adalah Pemenang Sayembara Menulis Isolapos, Mahasiswa PGSD UPI Kampus Sumedang 2017 

Ramadhan telah pamit, Idul Fitri pun tiba. Setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa, idul fitri menjadi momen yang ditungu-tunggu bagi umat muslim. Selain, bisa makan sepuasnya setelah idul fitri—tapi jangan lupa puasa syawal juga, ya, untuk menambah pahala hehe—idul fitri pun menjadi waktu yang paling tepat untuk pulang ke kampung halaman masing-masing terutama bagi mereka yang pergi merantau. Begitu pun yang dilakukan oleh saya sekeluarga. Sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya bagi kami sekeluarga untuk pulang ke kampung halaman kami di Indramayu. Tahun ini kami merencanakan mudik satu hari setelah idul fitri. Kami berangkat pada hari Kamis, sekitar pukul 05.30 pagi. Kami berangkat dari Sumedang menuju Indramayu menggunakan mobil colt. Apa mobil colt?! Ya, kalian tidak salah baca. Kami mudik menggunakan mobil colt. Karena ada beberapa kendala terkait mobil kami, sehingga kami sekeluarga memutuskan untuk mudik menggunakan mobil colt. Saya pribadi sempat ogah dan merasa malu karena pertama kalinya berpergian jauh menggunakan mobil dengan bak terbuka. Tapi ternyata SAYA SALAH BESAR. Mudik menggunakan mobil bak terbuka benar-benar menyenangkan!

Kami berangkat menuju Indramayu melalui jalan pintas Buahdua. Kami berangkat pagi-pagi sekali, sehingga udara terasa sangat dingin, terlebih kami duduk di tempat terbuka. Tidak ada hal-hal yang terlalu menyenangkan dalam perjalanan melewati Buahdua. Kami hanya melewati perumahan penduduk, terkadang pesawahan atau bahkan hutan-hutan. Setelah melewati Buahdua, arah perjalanan kami yaitu ke daerah bernama Sanca. Sanca ini merupakan daerah perbatasan antara Sumedang dan Indramayu. Daerah Sanca ini merupakan daerah hutan belantara dengan jalan yang sempit dan menanjak. Di beberapa titik malah terjadi longsor sehingga memotong badan jalan. Jalan yang menanjak dan sempit ditambah terjadi longsor di sebagian badan jalan membuat mobil harus berjalan dengan hati-hati. Dan kami sebagai penumpang di bak terbuka berperan seperti tukang parkir untuk mengukur posisi mobil agar tidak terjerumus pada bagian jalan yang terkena longsor.

Setelah perjalanan di Sanca yang cukup melelahkan dan membuat tegang, kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu warung di pinggiran jalan. Kami beristirahat di warung untuk mengisi perut yang sudah keroncongan karena belum sarapan. Eit, jangan kira kami berhenti di sebuah warung untuk membeli sarapan, ya. Kami memang berhenti di sebuah warung, tetapi warung yang sedang tutup. Mengapa memilih warung yang tutup? Karena kami membawa bekal makanan sendiri. Kami semua turun dari mobil colt kemudian botram untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Selama kami makan, tidak ada satu pun kendaraan yang melewati kami. Sungguh, jalanan Sanca benar-benar sepi!

Kami melanjutkan perjalanan setelah perut kami terasa kenyang. Dari Sanca, perjalanan sudah menuju ke daerah Indramayu. Tidak ada lagi hutan-hutan, melainkan perumahan warga di salah satu daerah Indramayu. Banyak kendaraan lain yang juga hilir mudik di jalanan. Saya pikir tidak perlu malu lagi meskipun banyak orang yang melihat ke arah kami ketika kami melintas, karena toh mereka tidak mengenal kami, begitupun sebaliknya. Namun satu hal yang mengganggu kami semua, penumpang bagian belakang mobil colt. Indramayu sangat panas. Dan silahkan bayangkan, kami berada di tempat terbuka di atas mobil, dengan kondisi matahari sedang terik tanpa penutup apapun di atas kami. Sinar matahari benar-benar langsung menyoroti kepala-kepala kami.

Untuk mensiasati itu, saya meletakkan jaket di atas kepala. Tentu saja tidak berpengaruh banyak. Kakak saya mengibarkan syal untuk menutupi kepalanya namun sia-sia saja karena angin terlalu besar sehingga menerbangkan syal miliknya. Mama saya yang juga duduk di belakang meletakkan bantal kecil untuk melindungi kepalanya, namun kemudian dilepaskan juga karena tidak bermanfaat sama sekali untuk menghindari terik matahari. Adik saya malah menelusupkan kepalanya pada karpet yang dijadikan alas di atas mobil colt yang selanjutnya disesali karena kepalanya terasa pening akibat beberapa kali mengalami guncangan di kepalanya ketika mobil terus berjalan dengan cepat. Sisanya, saudara-saudara saya yang lain memilih menyerah saja membiarkan kepala mereka dilumat matahari karena melihat perjuangan saya, kakak, adik dan mama saya yang terlihat sia-sia.

Puncaknya adalah ketika kami melewati jalur pantura. Sungguh, jalan raya yang besar, mobil yang lebih banyak hilir mudik dengan kecepatan tinggi, juga angin yang benar-benar membuat kami pening. Mama saya beberapa kali merasa ingin memuntahkan perutnya. Namun sepertinya angin juga membawa kabur rasa mual itu sehingga hanya terasa mengaduk-aduk perutnya dengan sadis. Untungnya penderitaan itu segera berakhir. Akhirnya kami tiba di rumah nenek kami.  Oh iya, rumah nenek kami itu letaknya di sekitar daerah jembatan yang terkenal angker di Indramayu. Bukan keangkeran itu yang akan saya ceritakan, namun tentang tradisi masyarakat sekitar jembatan yang justru memanfaatkan keangkeran tersebut sebagai lading pengahsilan. Lho, kok bisa?

Jadi, karena jembatan itu terkenal angker, maka para pengendara yang melewati jembatan itu akan melempari beberapa recehan uang yang katanya untuk menghilangkan sial selama perjalanan. Nah, dikarenakan banyak pengendara yang memberikan saweran pada jembatan maka jalanan di sekitaran jembatan dipenuhi uang-uang recehan dari penegndara. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai ladang penghasilan. Mereka akan berjajar di pinggir-pinggir jalan dengan membawa sapu lidi atau sapu dari pelepah-pelepah pohon kemudian meneriaki para pengendara untuk menyawerkan beberapa recehan. Ketika ada pengendara yang melemparkan uang, mereka tidak perlu beranjak dari tempat mereka berdiri. Cukup menjulurkan sapu yang mereka bawa untuk membawa recehan tersebut masuk ke kantong mereka. Tradisi yang sangat unik menurut saya.

Begitulah pengalaman saya dan keluarga ketika mudik ke Indramayu. Pengalaman pertama melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil colt tanpa penutup di atasnya. Antara ingin mengulanginya dan tidak. Ingin mengulangi lagi karena sungguh, rasanya sangat berbeda dengan mudik menggunakan motor atau mobil ‘normal’ pada umumnya. Menyenangkan juga menegangkan. Tidak ingin mengulangi lagi jika mobil dengan bak terbuka itu tidak dilengkapi dengan tutup di atasnya! Membuat pusing, sungguh! Namun kabar baiknya, karena mendapat banyak protes dari penumpang di belakang, akhirnya saat perjalanan pulang Bapak saya memasang penutup di atas mobil colt agar kami tidak lagi merasa kepanasan. Sayangnya, penutup yang digunakan untuk melindungi kami yaitu karpet berwarna merah. Saat perjalanan pulang kami merasa seperti terbang di bawah karpet merah Aladdin! Oh, dan mungkin tahun depan akan mudik lagi menggunakan mobil colt sepertinya. Kalian berani?[]

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis yang bersangkutan

Comments

comments